Archive

Archive for the ‘Relawan’ Category

Berjibaku Menembus Debu

December 29, 2010 3 comments

Berjibaku Menembus Debu

TELEPON seluler Trisno Utomo berdering tak lama setelah Gunung Merapi meletus untuk kedua kalinya pada 26 Oktober lalu. Laki-laki 54 tahun itu sedang berada di Balai Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ia bersama sejumlah warga yang masih sehat sedang memantau salah satu gunung api teraktif di dunia itu.

Saat itu, Kopeng masih aman. Tapi Dusun Kaliadem yang terletak di atasnya remuk diamuk awan panas. Itu sebabnya, Trisno kaget ketika Ponimin, salah satu tetangganya di Kaliadem, menelepon. Ia bersama istri, anak, menantu, dan dua cucunya ternyata selamat. “Di dusun, kalau ada apa-apa, saya biasa disambati (dimintai tolong),” kata Trisno.

Bergegas Tris, nama panggilannya, mengajak teman-temannya naik ke Kaliadem. “Ia yang paling bersemangat,” kata Muhammad Soleh Ridwan dari Al-Qadir, sebuah pesantren di Cangkringan. Dengan diantar mobil seorang perangkat desa, Tris, Soleh, dan empat rekannya naik ke Kaliadem. Tapi mobil tidak bisa mendekati rumah Ponimin. Debu panas yang tebal menjadi penghalang.

Mereka kemudian mencoba lewat jalan setapak di sisi barat. Tris masuk halaman rumah Ponimin dengan melompati pagar. Saat itu, ia tidak sadar debu panas di depannya sudah sangat menggunung. Sepatunya memang tidak apa-apa, tapi kakinya tak kuat direndam debu panas. “Ketika itu, ia tidak merasa sakit karena mungkin terlalu bersemangat menolong tetangganya,” ujar Soleh.

Mereka mendapati keluarga Ponimin sudah di dalam mobil Suzuki APV. Tris pun melompat ke atas APV. Keluarga Ponimin berhasil masuk mobil dengan memakai bantal sebagai pijakan. Tapi ban mobil sudah hancur sehingga tidak bisa dipakai. Dari atas mobil, Tris meminta yang sudah di dalam mobil turun karena ia takut mobil meledak. “Saya khawatir karena panas sekali,” katanya.

Mereka pun kembali masuk rumah dengan menggunakan bantal sebagai alas. Tapi mereka hanya sebentar di dalam rumah. Tiba-tiba saja salah satu bagian atap ambruk karena tidak kuat menahan tebalnya debu. Ponimin bersama istri, anak, menantu, dan dua cucunya pun kembali ke teras bersama para penolongnya.

Sempat muncul mobil yang berusaha menolong, tapi tidak bisa mendekat. Pengendara mobil itu sempat berkomunikasi dengan Tris dan mengatakan akan mencari cara agar bisa mendekat. “Saat mobil itu pergi, harapan saya seperti hilang,” kata Tris. Muncul juga sebuah jip. Tiga orang yang akan menolong Ponimin naik jip dan segera memutar.

Mungkin karena gelap, semua wajah ditutup agar napas tak terganggu. Seluruh badan juga penuh dengan debu. Koordinasi ketika itu sangat kacau. “Saya juga tidak tahu siapa-siapa yang berada di dekat saya,” kata Soleh. Ia mengira Tris sudah ikut jip itu kembali ke bawah, sedangkan Tris mengira kelima rekannya sudah pulang saat ia masuk ke rumah Ponimin.

Soleh dan seorang temennya sempat turun ke tempat aman dengan berjalan kaki, disambung sepeda motor. Mereka memberi tahu kondisi di Kaliadem kepada para petugas di balai dusun. Sesaat kemudian, ia kembali lagi ke rumah Ponimin sendirian. Soleh dan Tris berusaha membantu keluarga Ponimin mengungsi ke tempat aman dengan berjalan kaki.

Pada saat itulah Pandu Bayu Nugraha datang. Mahasiswa berusia 20 tahun itu bukan anggota SAR dan bukan pula dari regu kemanusiaan yang lain. Warga yang tinggal di bawah Kaliurang, kawasan wisata dekat Yogyakarta, itu datang ke Kinahrejo menggunakan sepeda motor trail untuk ikut menolong para korban. Suasana di sana sangat ramai karena para relawan sibuk mencari korban.

Ternyata Kaliadem-tempat keluarga Ponimin terperangkap-juga membutuhkan relawan. Ia pun memacu trailnya ke sana karena mobil tak bisa masuk. Ia membawa tabung oksigen. Seorang pengendara motor lain menyertai Pandu. Tapi tidak berapa lama, Pandu mesti sendirian karena sepeda motor bebek yang dinaiki rekannya tidak sanggup naik melewati debu tebal.

Sebenarnya di Kinahrejo saat itu ada dua sepeda motor trail, tapi yang lain tidak berani naik. Pandu, dengan trail Kawasaki KLX kesayangannya, nekat meneruskan perjalanan sendiri. “Saya memberanikan diri dengan pikiran akan ada yang nyusul,” katanya. Apalagi ia kemudian melihat jejak roda jip. Jip itu membantunya memuluskan jalan karena ranting dan cabang pohon yang menutupi jalan sudah tersingkir dari jalan.

Suasana Kaliadem senyap, sangat berbeda dengan Kinahrejo. Pandu juga tidak tahu rumah keluarga Ponimin. Ia hanya mendapat ancar-ancar rumah itu terletak di depan menara telekomunikasi. Sial. Tepat di depan rumah itu, sepeda motornya terperosok dan tidak bisa dipakai lagi. Di depan rumah Ponimin itulah ia melihat keluarga Ponimin serta Trisno dan Soleh.

Mereka memutuskan berjalan ke tempat aman dengan menggunakan bantal sebagai alas dengan cara estafet. Di bagian paling depan, Soleh membuka jalur rombongan ini. Saat itu, Pandu melihat istri Ponimin mengenakan alas kaki yang susah digunakan di lokasi seperti itu. “Seperti sepatu yang dipakai ibu-ibu kondangan itu,” ujar Pandu. “Saya menawarkan diri untuk menggendongnya.”

Pandu pun menggendong istri Ponimin, tindakan yang membuatnya menjadi terkenal. Tris pun takjub pada Pandu. “Lumayan jauh itu (jarak dari rumah ke tempat aman), lebih dari 500 meter,” kata Tris. Setelah berada di tempat aman, mereka beristirahat dan Tris menelepon untuk meminta bantuan. “Oleh Pak Tris saya dibawa ke Rumah Sakit Panti Nugroho (Sleman),” ujar Ponimin.

Di Panti Nugroho, Pandu juga memeriksakan diri karena ada pasir panas yang menerobos sepatunya. Pasir panas ini mengakibatkan kakinya melepuh. Setelah diperiksa, ia diizinkan pulang. Ternyata luka itu mengakibatkan infeksi dan bengkak. Mahasiswa Sekolah Tinggi Multimedia MMTC itu juga harus cuti setahun karena tak bisa ikut ujian. “Telat registrasi,” katanya.

Luka di kaki Tris ternyata sangat serius. Di Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta, semua jari kakinya, kecuali jempol kanan, harus diamputasi. Luka bakarnya juga membuatnya harus menjalani cangkok kulit. Saat Tempo bertemu Tris di ruang perawatan Sardjito, kulit paha kirinya sudah diambil untuk dicangkokkan di kaki. Tapi ini belum semuanya. “Minggu depan ganti paha kanan,” katanya tetap tersenyum.

Setelah sembuh, Tris juga harus menghadapi kenyataan yang lain. Sembilan sapi perah miliknya mati karena awan panas, lima di antaranya sudah usia produktif. “Sekarang saya juga tidak punya rumah lagi.”

Sumber: Tempo Online

Advertisements
Categories: Kisah, Relawan

Nasib Tragis Mobil Evakuasi

December 18, 2010 7 comments
Nasib Tragis Mobil Evakuasi
oleh Agus Wiyarto

Erupsi Gunung Merapi yang berlangsung sejak tanggal 26 Oktober 2010 lalu sampai kini, menyisakan berbagai kisah mulai dari korban nyawa sampai harta benda, namun ada kisah lain yang belum banyak diketahui yaitu kisah tragis mobil yang digunakan pertama kali untuk evakuasi dan berhasil menyelamatkan sekian banyak nyawa warga dari terjangan awan panas Gunung Merapi pada hari selasa 26 Oktober 2010.

Mobil Suzuki APV dengan nomor polisi AB 1053 PV milik Agus Wiyarto warga Bantul, yang dikendarai oleh relawan PMI Tutur Priyanto bersana Wawan Yunawan wartawan Vivanews.com hari selasa (26/10) tiba dirumah Mbah Maridjan menjelang sholat Maghrib dengan tujuan melakukan evakuasi keluarga Mbah Maridjan dan warga Kinahrejo dan sekitarnya.  Pada trip pertama setelah sholat maghrib kendaraan tersebut mampu menyelamatkan dan membawa turun belasan warga Kinahreja, Pelemsari ke barak pengungsian di bale desa Umbulharjo, namun pada perjalanannya yang kedua untuk evakuasi kendaraan tersebut terjebak di kinahreja dan diterjang awan panas bersama kedua penumpangnya Tutur Priyanto dan Wawan didepan rumah Mbah Maridjan.

Ketika ditemukan pertama kali oleh tim SAR, posisi mobil Suzuki APV berada didepan rumah Mbah Maridjan dalam keadaan pintu terbuka dan kunci dalam keadaan ter-kontak menghadap kearah jalan dalam posisi siap evakuasi.


26/10/2010 mobil APV AB 1053 DB diterjang awan panas didepan rumah mbah Maridjan Read more…
Categories: Kisah, Relawan

Jogja Never Give Up: Save Code and Opak for Jogja (2)

December 18, 2010 Leave a comment

Jogja Never Give Up: Save Code and Opak for Jogja (2)
oleh Nawa M

Pendampingan Masyarakat

Kegiatan Pendampingan Masyarakat adalah kegiatan yang memadukan pengalaman dan pengetahuan masyarakat (local knowledge) di sepanjang bantaran Kali Code dan Kali Opak dengan perkembangan informasi dan teknologi dalam mempersiapkan diri dalam menghadap bahaya banjir lahar hujan. Kegiatan Pendampingan Masyarakat terdiri dari dua sub-kegiatan, yaitu Penyusunan Sistem Evakuasi Mandiri dan Pendampingan Evakuasi Mandiri. Penyusunan Sistem Evakuasi Mandiri adalah kegiatan menyusun sebuah sistem evakuasi yang akan digunakan oleh masyarakat ketika terjadi banjir lahar hujan. Penyusunan Sistem Evakuasi Mandiri ini meliputi pembuatan jalur evakuasi, penyusunan Panitia Mandiri, sosialisasi tentang potensi bahaya banjir lahar hujan – baik dalam bentuk sosialisasi maupun informasi tertulis. Hasil dari kegiatan penyusunan Sistem Evakuasi Mandiri adalah sebuah sistem evakuasi yang dipahami dengan baik dan dilaksanakan sesuai prosedur yang ada oleh masyarakat ketika mendapatkan informasi ancaman bahaya banjir lahar. Dengan adanya Sistem Evakuasi Mandiri ini diharapkan masyarakat dapat melakukan evakuasi secara efektif dan tidak jatuhnya korban jiwa serta kerugian material seminimal mungkin.

Sedangkan Pendampingan Evakuasi Mandiri adalah kegiatan pendampingan terhadap Panitia Mandiri dalam melakukan Sistem Evakuasi Mandiri sesuai dengan Prosedur Evakuasi dan Ketentuan Evakuasi. Pendampingan ini bertujuan untuk memperkuat sistem sosial masyarakat dalam melakukan evakuasi, baik secara lokalitas (di masing-masing lokasi) maupun secara holistik (seluruh kawasan bantaran Kali Code dan Kali Opak). Dengan kekuatan sistem sosial di masyarakat bantaran Kali Code dan Kali Opak diharapkan akan dapat mendukung Early Warning System (EWS) secara keseluruhan. Read more…

Categories: Relawan

Jogja Never Give Up: Save Code and Opak for Jogja

December 15, 2010 Leave a comment

JOGJA NEVER GIVE UP: Save Code and Opak for Jogja
oleh Nawa M

Krisis Merapi yang berlangsung lebih dari satu bulan semenjak erupsi pertama pada tanggal 26 Oktober 2010 merupakan krisis terbesar selama lebih dari 100 tahun terakhir. Pihak berwenang menyatakan bahwa erupsi G. Merapi mencapai level 4 MVI dan mengeluarkan material yang luar biasa – volumenya diperkirakan sekitar 150 juta meter kubik selama kurang lebih 24 hari. Tingkat erupsi ini jauh lebih besar dibandingkan dengan erupsi G. Merapi tahun 2006 yang “hanya” mengeluarkan sekitar 3,5 juta meter kubik material selama kurang lebih 4 hari atau erupsi G. Galunggung pada tahun 1983 yang mengeluarkan material sekitar 50 juta meter kubik selama 8 bulan.

Krisis Merapi pada tahun 2010 telah memberikan dampak langsung yang luar biasa bagi masyarakat yang bermukim di lereng G. Merapi dan dampak tak langsung bagi masyarakat yang bermukim jauh dari G. Merapi. Kehidupan masyarakat lereng G. Merapi saat ini bisa dikatakan lumpuh total, dikarenakan penghidupan masyarakat musnah akibat terjangan material G. Merapi, baik yang berupa awan panas, lahar panas dan abu vulkanik. Sedangkan bagi masyarakat lainnya terancam bahaya sekunder dari letusan G. Merapi, yaitu banjir lahar hujan. Banjir lahar hujan berpotensi menjadi bahaya dikarenakan sebagian besar material berada di kawasan lereng selatan G. Merapi akan mengalir hingga di Samudera Hindia, jika terjadi hujan dalam volume yang besar di kawasan material tersebut berada . Kondisi tersebut yang memberikan ancaman bahaya terhadap kehidupan masyarakat yang bermukim di bantaran sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi. Read more…

Bantuan ke Ngargosari, Ampel

November 10, 2010 1 comment

Bantuan ke Ngargosari,  Ampel
oleh Sunu Widjanarko

9 Nopember 2010

Menemani Dahula Indrawan, mengirim bantuan bahan makanan mentah dan biskuit, sumbangan dari Alumni SMA 1 Solo angkatan 1988. Berangkat dari Solo jam 2 siang, menuju posko pengungsian di Balai Desa Ngargosari, Kec. Ampel, Boyolali. Lokasinya kurang dari 10km, dari pusat kota boyolali.

Informasi kekurangan bahan makanan di posko ini diperoleh dari web site Jaringan Informasi Lingkar (Jalin) Merapi : https://spreadsheets.google.com/pub?key=0AmZHu0Os76fNdEs5MkZYdm9lYVJhMjNzUXpYcjN2emc&hl=en&gid=5. Dari laman tersebut, pada tanggal 8 nopember menyebutkan belum tersentuh bantuan logistik. Konfirmasi melalui tlp menyebutkan komposisi pengungsi: bayi 37,balita 63,anak 83,remaja 112, dewasa 306, lansia 46, total 647. Pengungsi berasal dari kecamatan-kecamatan Selo, Cepogo, dan Musuk.

Posko ini dikelola oleh karang taruna desa, dikoordinir oleh Mas Komeng (+6285728058688). Ketika sampai di posko, saat itu sudah ada tak kurang dari 10an relawan dari karang taruna, putra dan putri. Read more…

Categories: Relawan

F3 from JOGJA – food for friends from JOGJA

November 8, 2010 2 comments

help…..! F3 from JOGJA – food for friends from JOGJA: tambahkan, bungkuskan, antarkan, and the rest is us!

 

dear all… iya kami agak kewalahan… 8000 kapasitas nasi bungkus kami per hari masih tidak cukup… padahal sudah habis habisan kami memasak disini… sudah memang segitu kapasitas kami.

masih banyak yang membutuhkan diluar sana.. di pojok2 pengungsian terpencil dan tak tampak dari jalan, masih banyak yang belum mendapat bantuan makanan secara rutin… sementara armada pengantar kami mau bawa 8000 mau bawa 20..000 tetap aja route itu yang kami lalui…

karena itu ayo bantu kami? ketika memasak untuk keluarga, pagi siang sore hari.. berkenankah anda menambahkan porsi masakan menjadi 2 atau 3 porsi ekstra dan membungkuskan nya untuk kami? lalu mengantarnya ke posko? lalu kami akan kumpulkan dan diberangkatkan bersama armada pengantar? kalau panjenengan semua ada 100 orang.. maka ada 300 nasi bungkus tambahan.. kalau 500 orang? ada 1500 nasi bungkus tambahan? god…! how grace… how dare are we…..for not doing it?

yuk…!
F3 – FOOD FOR FRIENDS: tambahkan, bungkuskan, antarkan… and the rest is us…!

bagi yang tinggal atau tidak tinggal di jogja.. pls telpon teman, saudara, anak, bawahan, atasan… anda yang di jogja, sms, bbm, tweet, retweet… apa ajalah.. pls sebarkan… please please please…..?

jadwal berangkat armada pengantaran: pagi 6.30 siang 11.00, sore: 17.00.

F3 from JOGJA – tambahkan, bungkuskan, antarkan, and the rest is us!

sebungkus nasi sejuta kasih…! monggo…. !

Kontak: 081578700453 atau 0816685871, atau 0274525117

Sumber: http://gaiacorps.blogspot.com/

Categories: Relawan Tags: