Archive

Archive for the ‘Psikologi Bencana’ Category

Mendampingi Anak Setelah Bencana

November 7, 2010 1 comment

Mendampingi Anak Setelah Bencana

 

REAKSI ANAK SETELAH MENGALAMI BENCANA
Bencana berdampak pada orang dewasa juga anakanak. Meskipun terkadang anak tidak menunjukkannya secara langsung. Berikut ini adalah reaksi yang umumnya muncul pada anak dan hal yang perlu diperhatikan orangtua/orang dewasa lain.

Usia batita (0-2 tahun)
Perhatikan: Anak belum dapat menjelaskan kejadian atau perasaan mereka. Namun anak dapat mengingat peristiwa yang dialami melalui apa yang dilihat, suara, maupun bau.
Reaksi: lebih rewel, mudah menangis, ingin terus digendong, tidak ingin berpisah dari rangtuanya.

Usia Prasekolah (2-5 tahun)
Perhatikan: Anak mungkin karena belum bisa menjaga dirinya, merasa tidak aman dan takut sekali ditinggalkan sehingga perlu diyakinkan bahwa ia akan selalu diperhatikan dan dijaga, bermain dengan tema-tema permainan yang berhubungan dengan kejadian bencana secara berulang-ulang, belum paham kalau orang yang sudah meninggal tidak bisa kembali lagi.
Reaksi: takut berpisah dengan orangtua,menangis dan merengek, mimpi buruk dan ketakutan, perilaku regresi/mundur, misalnya kembali mengompol, mengisap jari, menggigit kuku, dll merasa tidak berdaya

Usia sekolah (6-12 tahun)
Perhatikan: Anak sudah paham bahwa yang meninggal tidak dapat kembali lagi, teringat akan detail dari bencana dan akan membicarakannya terus-menerus atau tidak mau membicarakannya sama sekali, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab bencana.
Reaksi: Tidak mau bergaul dengan orang lain atau justru mengganggu teman dan lingkungan, sulit berkonsentrasi, mudah marah-marahnya dapat meledak-ledak, mudah tersinggung, mudah menangis, sangat takut pada benda yang tidak menakutkan, seperti:air, suara keras, petir, terlalu banyak tidur atau susah tidur, mimpi buruk

Remaja (11-18 tahun)
Perhatikan: Remaja mungkin mengalami gejolak emosi karena berbagai pengaruh lingkungan, keluarga, sekolah, teman, merasa tidak berdaya/pesimis karena kehilangan orang terdekat (keluarga ataupun teman)
Reaksi: Mimpi buruk, menghindari hal-hal yang dapat mengingatkan tentang kejadian bencana, menjadi pendiam, tidak terbuka, sedih berkepanjangan, menarik diri dari lingkungan, sulit konsentrasi, mudah tersinggung, kehilangan minat dan hobi, memberontak pada figur otoritas (orang dewasa), merasa bersalah terlibat dalam perilaku berbahaya dan melanggar aturan seperti berkelahi, mabuk, memakai narkoba

Reaksi-reaksi yang dialami anak tersebut WAJARsetelah anak mengalami bencana. Anak memilikikemampuan alamiah seperti bermain danbergembira.
Namun kemampuan alamiah anak tidaklah cukup.Anak perlu dukungan orang-orang sekitar, terutama orang dewasa, untuk memulihkan rasa aman dan keteraturan. Orang dewasa dapat membuat kegiatan yang rutin dan teratur untuk anak. Pada bayi, mereka akan lebih tenang bila orangtua mereka tenang. Sebaliknya, mereka lebih rewel dan sulit ditenangkan bila orangtua panik.
DUKUNGAN DARI ANDA SANGAT DIPERLUKAN !

Sumber: http://pulih.or.id/materi.html
Leaflet bisa didonload di Mendampingi Anak Setelah Bencana

Advertisements
Categories: Psikologi Bencana

Bantuan Psikologis Awal

November 7, 2010 Leave a comment

Apa itu Bantuan Psikologis Awal?
Bagaimana Anda Bisa Membantu Penyintas

Apa itu Bantuan Psikologis Awal?
Suatu cara praktis untuk memberikan dukungan emosional yang dilakukan segera setelah terjadinya peristiwa traumatik (bencana, kekerasan, kecelakaan dsb.) dari orang-orang disekitar penyintas dengan tujuan untuk melindungi dari dampak negatif lebih lanjut.

Siapa yang Bisa Memberikan Bantuan Psikologis Awal?
Masyarakat awam dan bukan praktisi kesehatan mental. Mereka bisa keluarga, sahabat, relawan atau siapapun yang bertugas saat tanggap darurat.

Siapa yang Membutuhkan Bantuan Psikologis Awal?
Mereka adalah penyintas (orang yang mengalami peristiwa traumatik), keluarga penyintas, petugas respon bencana, saksi mata, wartawan, pendamping penyintas dsb.

Bagaimana Melakukan Bantuan Psikologis Awal?
1. Jalin Komunikasi
Mulai dengan sopan & peka budaya. Dengarkan cerita mereka. Biarkan cerita mengalir sendiri dan tidak memaksa penyintas untuk bercerita. Hindari:
“bisa bapak/ibu ceritakan apa yang terjadi?”,
“bagaimana perasaan bapak/ibu?”

2. Berikan Perlindungan
Jauhkan dari bahaya/lokasi bencana/ pemandangan yang traumatis. Sediakan tempat yang aman. Temani jika ia cenderung ingin melukai dirinya sendiri.

3. Menenangkan
Penyintas mungkin panik,kehilangan arah atau sulit mengendalikan emosi. Dengarkan dan respon dengan kalimat menenangkan seperti:
“wajar kalau ibu/bapak marah”, “Kamu bias menangis jika membuat kamu lebih tenang”.
Anda juga bisa meminta penyintas untuk mengatur nafas, relaksasi atau mengajaknya beribadah.

4. Penuhi kebutuhan praktisnya
Berikan air minum/makanan, obati jika ia sakit/terluka, sediakan pakaian dan tempat untuk istirahat.

5. Hubungkan dengan sumber dukungan sosialnya
Jaga agar penyintas berada dalam keluarga/orang yang dapat ia percaya. Pertemukan kembali penyintas yang terpisah dengan keluarganya.

6. Berikan informasi
Berikan informasi yang akurat mengenai hal yang ditakutkan. Katakan bahwa rasa sedih, marah dsb.setelah peristiwa yang dialaminya adalah wajar.

7. Hubungkan dengan penyedia layanan
Tentu anda tidak bisa memenuhi semua kebutuhan penyintas sendiri tetapi anda bisa memberikan informasi lembaga/penyedia layanan yang bias memenuhi kebutuhan mereka akan:
makan/minum, pakaian, obat-obatan, tempat aman/istirahat atau lembaga rujukan masalah psikologis

Sumber: http://pulih.or.id/materi.html

Categories: Psikologi Bencana

Bagaimana Bencana Alam Terjadi?

November 7, 2010 Leave a comment

Bagaimana Bencana Alam Terjadi?Bagaimana Bencana Alam Terjadi?


1. Ada aktivitas fisik yang terjadi di alam(letusan gunung, gempa bumi, banjir, tanah
longsor dsb), dan
2. Ada ketidaksiapan manusia dalam menghadapi aktivitas alamiah tersebut.

Aktivitas alam terjadi secara alamiah dan merupakan kehendak Tuhan, yang bisa kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin agar SIAP MENGHADAPI BENCANA sehingga kerugian ekonomi, dampak psikologis yang buruk bahkan sampai kematian dapat diminimalkan

Sebelum Bencana
1. Kenali potensi bencana di daerah anda (rawan longsor? rawan tsunami?)
2. Cari informasi mengenai tanda-tanda alam sebelum bencana terjadi
3. Cari informasi mengenai apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana (setiap
bencana penanganannya akan berbeda)
4. Siapkan air bersih, senter/baterai, obat-obatan, dan bahan makanan ditempat yang mudah dijangkau setiap saat
5. Cari tahu cara evakuasi dan di mana lokasi yang aman
6. Buat rapat RT/RW tentang rencana menghadapi bencana dan usaha untuk mengurangi resiko

Ketika Bencana/Saat Evakuasi
1. Menjauh dari tempat-tempat beresiko (mis. gempa: bangunan, banjir: tiang listrik,
tsunami: tepi laut dsb)
2. Pastikan sumber informasi dapat dipercaya bukan isu atau kabar burung
3. Ikuti arahan dari petugas yang berwenang untuk evakuasi
4. Tidak panik dengan pasrah pada Tuhan namun sekuat mungkin berusaha menyelamatkan diri
5. Dahulukan lansia, anak-anak, perempuan, mereka yang difabel dan sakit.
6. Pastikan anak-anak didampingi orang dewasa yang dapat dipercaya

Setelah Bencana/Di Pengungsian
1.Dengarkan informasi hanya dari sumber yang dapat dipercaya
2.Sibukkan diri dengan aktivitas (membangun tempat tinggal sementara, pengajian dsb)
3.Berolahraga akan mengurangi ketegangan dan meningkatkan daya tahan tubuh dari penyakit
4.Beribadah membuat hati tenang
5.Bercanda, ngobrol, beribadah bersama akan memberikan kekuatan selama di pengungsian
6.Kelola bantuan secara adil dan bersama
7.Rasa takut, sedih, marah setelah kejadian bencana adalah reaksi WAJAR dan manusiawi.
Tetapi setiap orang punya kekuatan untuk melewati situasi sulit

Kemana Mencari Informasi ?
Kantor Kepala Desa/lurah/Camat
Kantor Polisi/TNI
Puskesmas/Rumah sakit
Posko bencana
Koordinator kamp
BNPB/BPBD
PMI
LSM yang menangani bencana

Sumber: http://pulih.or.id/materi.html

Categories: Psikologi Bencana