Archive

Archive for the ‘Kisah’ Category

Berjibaku Menembus Debu

December 29, 2010 3 comments

Berjibaku Menembus Debu

TELEPON seluler Trisno Utomo berdering tak lama setelah Gunung Merapi meletus untuk kedua kalinya pada 26 Oktober lalu. Laki-laki 54 tahun itu sedang berada di Balai Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ia bersama sejumlah warga yang masih sehat sedang memantau salah satu gunung api teraktif di dunia itu.

Saat itu, Kopeng masih aman. Tapi Dusun Kaliadem yang terletak di atasnya remuk diamuk awan panas. Itu sebabnya, Trisno kaget ketika Ponimin, salah satu tetangganya di Kaliadem, menelepon. Ia bersama istri, anak, menantu, dan dua cucunya ternyata selamat. “Di dusun, kalau ada apa-apa, saya biasa disambati (dimintai tolong),” kata Trisno.

Bergegas Tris, nama panggilannya, mengajak teman-temannya naik ke Kaliadem. “Ia yang paling bersemangat,” kata Muhammad Soleh Ridwan dari Al-Qadir, sebuah pesantren di Cangkringan. Dengan diantar mobil seorang perangkat desa, Tris, Soleh, dan empat rekannya naik ke Kaliadem. Tapi mobil tidak bisa mendekati rumah Ponimin. Debu panas yang tebal menjadi penghalang.

Mereka kemudian mencoba lewat jalan setapak di sisi barat. Tris masuk halaman rumah Ponimin dengan melompati pagar. Saat itu, ia tidak sadar debu panas di depannya sudah sangat menggunung. Sepatunya memang tidak apa-apa, tapi kakinya tak kuat direndam debu panas. “Ketika itu, ia tidak merasa sakit karena mungkin terlalu bersemangat menolong tetangganya,” ujar Soleh.

Mereka mendapati keluarga Ponimin sudah di dalam mobil Suzuki APV. Tris pun melompat ke atas APV. Keluarga Ponimin berhasil masuk mobil dengan memakai bantal sebagai pijakan. Tapi ban mobil sudah hancur sehingga tidak bisa dipakai. Dari atas mobil, Tris meminta yang sudah di dalam mobil turun karena ia takut mobil meledak. “Saya khawatir karena panas sekali,” katanya.

Mereka pun kembali masuk rumah dengan menggunakan bantal sebagai alas. Tapi mereka hanya sebentar di dalam rumah. Tiba-tiba saja salah satu bagian atap ambruk karena tidak kuat menahan tebalnya debu. Ponimin bersama istri, anak, menantu, dan dua cucunya pun kembali ke teras bersama para penolongnya.

Sempat muncul mobil yang berusaha menolong, tapi tidak bisa mendekat. Pengendara mobil itu sempat berkomunikasi dengan Tris dan mengatakan akan mencari cara agar bisa mendekat. “Saat mobil itu pergi, harapan saya seperti hilang,” kata Tris. Muncul juga sebuah jip. Tiga orang yang akan menolong Ponimin naik jip dan segera memutar.

Mungkin karena gelap, semua wajah ditutup agar napas tak terganggu. Seluruh badan juga penuh dengan debu. Koordinasi ketika itu sangat kacau. “Saya juga tidak tahu siapa-siapa yang berada di dekat saya,” kata Soleh. Ia mengira Tris sudah ikut jip itu kembali ke bawah, sedangkan Tris mengira kelima rekannya sudah pulang saat ia masuk ke rumah Ponimin.

Soleh dan seorang temennya sempat turun ke tempat aman dengan berjalan kaki, disambung sepeda motor. Mereka memberi tahu kondisi di Kaliadem kepada para petugas di balai dusun. Sesaat kemudian, ia kembali lagi ke rumah Ponimin sendirian. Soleh dan Tris berusaha membantu keluarga Ponimin mengungsi ke tempat aman dengan berjalan kaki.

Pada saat itulah Pandu Bayu Nugraha datang. Mahasiswa berusia 20 tahun itu bukan anggota SAR dan bukan pula dari regu kemanusiaan yang lain. Warga yang tinggal di bawah Kaliurang, kawasan wisata dekat Yogyakarta, itu datang ke Kinahrejo menggunakan sepeda motor trail untuk ikut menolong para korban. Suasana di sana sangat ramai karena para relawan sibuk mencari korban.

Ternyata Kaliadem-tempat keluarga Ponimin terperangkap-juga membutuhkan relawan. Ia pun memacu trailnya ke sana karena mobil tak bisa masuk. Ia membawa tabung oksigen. Seorang pengendara motor lain menyertai Pandu. Tapi tidak berapa lama, Pandu mesti sendirian karena sepeda motor bebek yang dinaiki rekannya tidak sanggup naik melewati debu tebal.

Sebenarnya di Kinahrejo saat itu ada dua sepeda motor trail, tapi yang lain tidak berani naik. Pandu, dengan trail Kawasaki KLX kesayangannya, nekat meneruskan perjalanan sendiri. “Saya memberanikan diri dengan pikiran akan ada yang nyusul,” katanya. Apalagi ia kemudian melihat jejak roda jip. Jip itu membantunya memuluskan jalan karena ranting dan cabang pohon yang menutupi jalan sudah tersingkir dari jalan.

Suasana Kaliadem senyap, sangat berbeda dengan Kinahrejo. Pandu juga tidak tahu rumah keluarga Ponimin. Ia hanya mendapat ancar-ancar rumah itu terletak di depan menara telekomunikasi. Sial. Tepat di depan rumah itu, sepeda motornya terperosok dan tidak bisa dipakai lagi. Di depan rumah Ponimin itulah ia melihat keluarga Ponimin serta Trisno dan Soleh.

Mereka memutuskan berjalan ke tempat aman dengan menggunakan bantal sebagai alas dengan cara estafet. Di bagian paling depan, Soleh membuka jalur rombongan ini. Saat itu, Pandu melihat istri Ponimin mengenakan alas kaki yang susah digunakan di lokasi seperti itu. “Seperti sepatu yang dipakai ibu-ibu kondangan itu,” ujar Pandu. “Saya menawarkan diri untuk menggendongnya.”

Pandu pun menggendong istri Ponimin, tindakan yang membuatnya menjadi terkenal. Tris pun takjub pada Pandu. “Lumayan jauh itu (jarak dari rumah ke tempat aman), lebih dari 500 meter,” kata Tris. Setelah berada di tempat aman, mereka beristirahat dan Tris menelepon untuk meminta bantuan. “Oleh Pak Tris saya dibawa ke Rumah Sakit Panti Nugroho (Sleman),” ujar Ponimin.

Di Panti Nugroho, Pandu juga memeriksakan diri karena ada pasir panas yang menerobos sepatunya. Pasir panas ini mengakibatkan kakinya melepuh. Setelah diperiksa, ia diizinkan pulang. Ternyata luka itu mengakibatkan infeksi dan bengkak. Mahasiswa Sekolah Tinggi Multimedia MMTC itu juga harus cuti setahun karena tak bisa ikut ujian. “Telat registrasi,” katanya.

Luka di kaki Tris ternyata sangat serius. Di Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta, semua jari kakinya, kecuali jempol kanan, harus diamputasi. Luka bakarnya juga membuatnya harus menjalani cangkok kulit. Saat Tempo bertemu Tris di ruang perawatan Sardjito, kulit paha kirinya sudah diambil untuk dicangkokkan di kaki. Tapi ini belum semuanya. “Minggu depan ganti paha kanan,” katanya tetap tersenyum.

Setelah sembuh, Tris juga harus menghadapi kenyataan yang lain. Sembilan sapi perah miliknya mati karena awan panas, lima di antaranya sudah usia produktif. “Sekarang saya juga tidak punya rumah lagi.”

Sumber: Tempo Online

Advertisements
Categories: Kisah, Relawan

Tanpa Kompromi di Saat Kritis

December 28, 2010 3 comments

Tanpa Kompromi di Saat Kritis

DI Jalan Kaliurang, Yogyakarta, minibus APV biru telur yang ditumpangi Agus Wiyarto, Tutur Priyanto, dan Yuniawan Wahyu Nugroho melesat kencang menuju punggung Merapi, kurang dari satu jam sebelum gunung api itu meletus pada 26 Oktober lalu. Hari baru lepas magrib. “Saya tak ingat berapa kecepatan waktu itu. Yang jelas, kami diburu waktu untuk sampai ke Kinahrejo dan membawa keluarga Kang Maridjan,” kata Agus, pengusaha asal Bantul yang pernah menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Tutur Priyanto, relawan Palang Merah Indonesia yang berada di belakang kemudi, menancap gas karena Agus memprediksi akan ada letusan besar. “Saya mendengar kabar ada awan panas ke barat pukul 17.02. Merujuk pengalaman 2006, dalam waktu satu jam akan ada letusan susulan, dan bisa mengarah ke selatan,” katanya. Sebelumnya, dua orang ini hampir kehabisan waktu karena menunggu Yuniawan, juru warta portal Vivanews dari Jakarta, yang minta ikut ke rumah Maridjan tapi mengalami keterlambatan pesawat hampir satu jam. Read more…

Categories: Kisah, Profil

Kisah Tim Gerak Cepat TIM SAR YOGYA

December 27, 2010 16 comments

TIM SAR YOGYA
Kisah Tim Gerak Cepat

Foto by Suryo Wibowo

SELASA malam, 26 Oktober. Belum satu jam letusan Merapi reda dan semburan debu awan panas masih sangat terasa menyengat kulit. Bara pepohonan dan sisa bangunan yang terbakar menjadi penerang Kinahrejo, dusun sejuk di ujung aspal gunung itu.

Dua kilometer dari Kinahrejo, di persimpangan Ngrangkah, warga dan relawan tertahan di titik aman, jeri untuk menembus “neraka” yang mengempaskan puluhan jiwa warga itu. Batang bambu dan kayu sengon yang rebah di jalan membuat dusun itu hanya bisa dicapai dengan jalan kaki.

Tersebutlah lima relawan bernyali besar yang pertama kali menjejakkan kaki di kampung yang porak-poranda itu. Mereka adalah Ferry Ardianto, 34 tahun, Pristiawan (35), Irfan Yusuf (29), Martono Arbi Wibisono (46), dan Capung Indrawan (46). “Kinahrejo tempat saya bermain sejak kecil. Ini yang membuat saya memutuskan masuk secepat mungkin untuk melakukan evakuasi korban,” kata Irfan, pendaki gunung yang tergabung dalam tim Search and Rescue Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (SAR DIY). Read more…

Categories: Kisah

Nasib Tragis Mobil Evakuasi

December 18, 2010 7 comments
Nasib Tragis Mobil Evakuasi
oleh Agus Wiyarto

Erupsi Gunung Merapi yang berlangsung sejak tanggal 26 Oktober 2010 lalu sampai kini, menyisakan berbagai kisah mulai dari korban nyawa sampai harta benda, namun ada kisah lain yang belum banyak diketahui yaitu kisah tragis mobil yang digunakan pertama kali untuk evakuasi dan berhasil menyelamatkan sekian banyak nyawa warga dari terjangan awan panas Gunung Merapi pada hari selasa 26 Oktober 2010.

Mobil Suzuki APV dengan nomor polisi AB 1053 PV milik Agus Wiyarto warga Bantul, yang dikendarai oleh relawan PMI Tutur Priyanto bersana Wawan Yunawan wartawan Vivanews.com hari selasa (26/10) tiba dirumah Mbah Maridjan menjelang sholat Maghrib dengan tujuan melakukan evakuasi keluarga Mbah Maridjan dan warga Kinahrejo dan sekitarnya.  Pada trip pertama setelah sholat maghrib kendaraan tersebut mampu menyelamatkan dan membawa turun belasan warga Kinahreja, Pelemsari ke barak pengungsian di bale desa Umbulharjo, namun pada perjalanannya yang kedua untuk evakuasi kendaraan tersebut terjebak di kinahreja dan diterjang awan panas bersama kedua penumpangnya Tutur Priyanto dan Wawan didepan rumah Mbah Maridjan.

Ketika ditemukan pertama kali oleh tim SAR, posisi mobil Suzuki APV berada didepan rumah Mbah Maridjan dalam keadaan pintu terbuka dan kunci dalam keadaan ter-kontak menghadap kearah jalan dalam posisi siap evakuasi.


26/10/2010 mobil APV AB 1053 DB diterjang awan panas didepan rumah mbah Maridjan Read more…
Categories: Kisah, Relawan

Pasar Bubar 12 Desember 2010

December 13, 2010 17 comments

Pasar Bubar 12 Desember 2010
oleh Bengkie Widiono

Setelah erupsi 5 Nov 10, saya naik sendirian tanggal 21 nov dan kemarin 12 des. Perubahan yang signifikan, abu vulkanik sudah tidak beterbangan akibat hujan yang membersihkannya. Abu dan yang terkena air menjadi lebih relatif lebih keras menempel di tanah, bebatuan bahkan tanaman.

Read more…

Categories: Kisah

Sekolah Hidup di Lereng Merapi

November 27, 2010 31 comments

Sekolah Hidup di Lereng Merapi
oleh Harum Sekartaji

kelas bersyukur

“penak kok mbak ning kene. nek mbengi yo anget. ora popo…sing penting sehat, donga dinonga nggih.” sebait ucapan simbah itu kira-kira mengalir demikian, sambil merangkul bahu saya dengan erat. keikhlasan dan kesederhaan. hanya itu yang terlintas ketika mendengar tuturnya. bagaimana tidak? ruang kelas di lereng dingin merapi yang disulap menjadi kamar tidur bersama itu hanya beralas tikar. tetap, beliau mensyukurinya dengan mengatakan sebagai ‘tempat yang enak dan hangat’.

muntilan, sept 2009

kelas kerendahan hati

“kulo mboten gadhah arto mbak”, kata seorang ibu yang sedang menggendong anaknya ketika teman saya berbagi sebungkus biskuit. sang Read more…

Categories: Kisah

Kisah-kisah yang Tercecer dari Merapi

November 25, 2010 37 comments

Kisah-kisah yang Tercecer

oleh: Nawa M

Prolog

KISAH-KISAH YANG TERCECER
Prolog
Dua kisah ini merupakan cerita yang tercecer dari banyak kisah yang menceritakan evakuasi warga yang bermukim di sekitar Kantor Kecamatan Cangkringan Sleman. Seperti kita ketahui bersama, jika sekitar 5 dusun yang berada di sebelah utara dan timur Kantor Kecamatan Cangkringan luluh lantak akibat material lahar panas yang dimuntahkan Gunung Merapi ke Kali Gendol tanggal 5 November 2010 dini hari. Kisah ini tidak hendak menceritakan kepahlawanan para relawan dan anggota Tim SAR, namun lebih bertujuan untuk memperluas wawasan kita bahwa proses evakuasi tidak semudah yang dibayangkan oleh banyak orang. Oleh karena itu, para relawan dan anggota Tim SAR yang disebutkan dalam kisah ini, identitasnya disamarkan. Penyamaran tersebut juga atas permintaan para relawan dan anggota Tim SAR kepada penulis, agar nilai ibadah mereka tidak terkurangi pahalanya karena riya’. Penulis hanya menyajikan ulang, sesuai dengan apa penuturan dan catatan para relawan dan anggota Tim SAR kepada penulis. Adapun kekurangan dalam penulisan ulang ini, penulis memohon maaf.

Kisah Rumah Tanah Sepetak

Brakk!! Seketika pintu depan sebuah rumah terbuka karena didorong tangan yang terkesan terburu-buru. “Bapak, panjenengan saweg nopo?” tanya Mawar 1, selaku Komandan SRU (Search and Rescue Unit) Mawar yang diberi tugas untuk melakukan penyisiran di Dusun Desan Argomulyo Kecamatan Cangkringan Sleman. Bapak yang empunya rumah dengan sedikit terkaget menjawab “Ajeng dhahar Mas. Monggo pinarak”, sambil membawa sepiring nasi yang masih mengepul. Mawar 1 tersentak dengan jawaban tersebut. “Mboten, sampun, maturnuwun. Sak meniko njenengan kedah nderek kulo, monggo mandhap sarengan. Kedah sak meniko” timpal Mawar 1 dengan nada sedikit “memerintah”. “Lha wonten menopo? Kok kulo kedah mandhap. Kulo niki ajeng sarapan” jawab si Bapak. “Lho pripun toh. Lahar Merapi niku sampun dugi wonten wingking griyane njenengan. Monggo! Gek cekat-ceket!” sahut Mawar 1 mulai tidak sabar. “Nggih pun. Kulo tak nderek njenengan. Sri…Sri..ayo gek ndang ndene. Iki lahar-e wes tekan mburi omah” teriak si Bapak memanggil anaknya. Sejurus kemudian seorang perempuan yang lebih muda keluar dari ruangan lainnya dengan muka kebingungan. “Ono opo Pak?” tanya si Sri. “Awake dewe dijak medhun karo bapake iki. Ayo cepet” jawab si Bapak. “Yo, kosik. Tak njupuk salin” sahut si Sri. “Ra sah nggowo salin. Ayo gek ndang” sergah si Bapak. Saat yang bersamaan Mawar 2 masuk ke rumah tersebut. “Bagaimana Mas?” tanya Mawar 2 kepada Mawar 1. Mawar 1 pun menyahut “Bantu si Sri agar cepat berkemas!”. “Ya!” jawab Mawar 2 seraya berlari mengejar si Sri. Karena melihat kepulan asap, Mawar 1 segera bergerak mendekat ke sumber asap. Ternyata sumber asap berasal dari sebuah tungku yang masih memasak sayur yang sedang mendidih. Dengan topi rimbanya yang dilipat, Mawar 1 menurunkan wajan tempat memasak sayur tersebut, dan kemudian menumpahkan isinya ke dalam tungku agar api padam.

Mawar 1 kemudian bergerak ke ruang depan. Sesaat Mawar 1 sempat memperhatikan seisi rumah tersebut. Rumah yang sangat sederhana. Berlantai tanah dan berdindingkan anyaman bambu. Perhatian Mawar 1 terhenti pada sebuah televisi ukuran kecil ketika si Sri datang dengan berlari dari kamarnya dan diikuti oleh Mawar 2. Ketika menoleh keluar pintu, ternyata si Bapak sudah di depan rumah sambil berkomat-kamit berdo’a. “Ayo! Jangan terlalu lama! Cepet!” teriak Mawar 1 kepada Mawar 2. Mawar 1, Mawar 2 berserta 2 warga tersebut setengah berlari keluar rumah dan menuju jalan dusun. Dari arah lain Mawar 3 juga dengan berjalan tergesa bersama seorang laki-laki yang berusia sekitar 45-an tahun. “Mawar 2 dan Mawar 3, segera bawa warga ke titik penjemputan!” perintah Mawar 1. “Yak!” jawab Mawar 2 dan Mawar 3 serentak. Kelima orang tersebut segera menyusuri jalan dusun dengan berlari. Dari arah lain Mawar 4 dan Mawar 5 keluar dari sebuah rumah bersama dua orang yang sudah tua, laki-laki dan perempuan. Mawar 1 sempat menengok ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang masih tertinggal di belakang. Pandangannya terhenti pada rumah si Bapak dan si Sri. Rumah yang hanya terbagi menjadi ruang tamu sekaligus ruang keluarga, ruang tidur, dan dapur, berdindingkan anyaman bambu dan berlantai tanah. Rumah tersebut terletak tidak lebih dari 75 meter dari tepi barat Kali Gendol yang sudah penuh dengan lahar panas. Sungguh Tuhan memberkahi kedua orang penghuni rumah dengan menghindarkannya dari muntahan lahar panas. Padahal rumah tetangganya yang berada sekitar 50 meter di bawahnya dan lebih jauh dari tepi barat Kali Gendol sudah terkubur separuh bangunan. Sungguh Tuhan Maha Kuasa.

***
“Mawar 1. Mawar 1 monitor?” panggi radio handy talkie. “Monitor” jawab Mawar1. “Posko di sini. Posisi di mana Mawar 1?” tanya operator di Posko. “Sedang meluncur!” sahut Mawar1 sambil berlari mengejar rombongan di depan. “Segera turun! Aktivitas meningkat! Segera turun!” perintah Posko. “Siap. SRU Mawar sudah meluncur dengan membawa paket sebanyak 5 orang. Dua orang manula!” terang Mawar 1. “Oke! Segera kami luncurkan ambulans untuk menjemput!” balas Posko. “Untuk ambulan tahan dulu. Kondisi masih memungkinkan untuk berlari. Mobil penjemput harus siap meluncur” sahut Mawar 1 dengan tetap berlari. Setelah berlari sekitar 500 meter dan menyusul rombongan SRU Mawar beserta kelima warga, Mawar 1 sampai di mobil penjemput dan Tim Mobile yang sedang menunggu di jalan tepi besar. “Tim Mobile mlebu, terus ambil warga sing mburi dewe. Manula dan perempuan!” pinta Mawar 1 kepada Tim Mobile 1 yang menggunakan sepeda motor trail. Tim Mobile 1 tanpa berkata-kata langsung meluncur menyusuri jalan exit point. Sekitar 30 detik kemudian rombongan SRU Mawar dan 4 orang warga sudah kelihatan. Tak berapa lama kemudian Tim Mobile 1 menyusul dengan memboncengkan seorang nenek. Semua warga tersebut dan 4 orang anggota SRU Mawar segera naik ke mobil penjemput. “Ayo! Cepat jalan!” teriak Mawar 1. Mawar 1 segera melompat ke jok motor trail Tim Mobile 1 dan meluncur menyusul mobil yang sudah melaju kencang ke bawah, menuju Titik Aman 1, yaitu di depan Kantor Kecamatan Cangkringan.

Dalam perjalanan turun tersebut, Mawar 1 teringat rumah tanah sepetak yang berlantai tanah tadi. Teringat bahwa pintu depan rumah tersebut tidak terkunci ketika ditinggalkan. Teringat bahwa satu-satunya benda yang layak dicuri dari rumah tersebut adalah sebuah televisi ukuran 14 inchi. Terhenyak Mawar 1. Menyesal. Dirinya merasa bahwa dia telah lupa mengunci pintu depan, sehingga memungkinkan pencuri untuk mengambil harta paling berharga di rumah itu. Mawar 1 pun menggerutu, memarahi dirinya sendiri karena kelalaian yang bisa merugikan orang lain. Bahkan setelah sampai di Titik Aman 1, dirinya masih belum bisa menerima “kesalahan” yang telah diperbuatnya. Setelah itu, dirinya hanya bisa berdo’a agar Tuhan menjaga rumah tersebut dari pencuri, seperti Tuhan “membelokkan” muntahan lahar panas agar tidak menghantam rumah tersebut, rumah tanah sepetak. Amiin.

Kisah Kesetiaan Si Penunggu Cucu
Jam menunjukkan sekitar jam 05.45, dengan cuaca agak mendung dan sudah banyak orang yang berkumpul di depan Kantor Kecamatan Cangkringan. Tiga SRU sudah diberangkatkan untuk menyisir Dusun Bronggang, Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan yang terletak sekitar 200 meter hingga 400 meter di sebelah barat Kali Gendol. SRU Merah dengan kekuatan 10 orang menyusur dari sisi timur dusun, SRU Hijau dengan kekuatan 8 orang dan SRU Biru dengan kekuatan 10 orang menyusur dari sisi barat. Skenarionya adalah SRU Merah dan SRU Hijau melakukan penyisiran dan marking rumah warga dusun yang terdapat korban meninggal di dusun tersebut, sedangkan SRU Biru difungsikan sebagai back up untuk SRU Merah dan SRU Hijau. Pelaksanaan evakuasi akan dilaksanakan oleh TNI dan relawan lainnya. Sekitar 45 menit kemudian ketiga SRU tersebut bertemu di tengah dusun. Setelah ketiga komandan SRU berkoordinasi diputuskan bahwa ketiga SRU ditarik dahulu ke Titik Aman 1, yaitu di depan Kantor Kecamatan Cangkringan. Sesaat kemudian, seluruh anggota ketiga SRU tersebut diperitahkan untuk bergerak cepat menuju Titik Aman 1 yang berjarak sekitar 400 meter di bawah titik pertemuan. Belum lama berjalan, tiba-tiba terdengar panggilan “Mas…Mas…tulung Mas!”. Semua anggota SRU serentak menoleh ke belakang. Biru 1, selaku komandan SRU Biru, segera mendekat ke orang tersebut, yang ternyata seorang pemuda. “Gimana Mas? Ada apa Mas?” tanya Biru 1.
“Tulung Mas. Sejak semalam Mbah Marto belum ditemukan. Kata keluarganya semalam berada di kebon” jawab pemuda tersebut. “Njenengan sinten-e? Kebon sebelah pundi Mas?” cecar Biru 2. “Kulo tonggo-ne. Kilen ndesa” sahut pemuda. “Kamu, kamu dan kamu, ikut saya” tunjuk Biru 1 kepada Biru 2, Biru 3 dan Biru 4. “Mas, njenengan nderek kula. Duduhne letak-e kebon niku!” pinta Biru 1 kepada pemuda desa tersebut. “Anggota SRU Biru lainnya bergabung dengan SRU Merah dan segera turun ke Titik Aman 1” lanjut Biru. Empat orang SRU Biru segera berlari mengikuti pemuda desa tersebut.

Tak berapa lama kemudian, kelima orang tersebut sudah sampai di pinggir pemukiman. Setelah melewati sebuah sungai kecil, rombongan tersebut sampai di tepi sebuah persawahan. Yang mengagetkan adalah di depan rombongan terhampar lahar dingin yang masih mengepulkan asap. “Mas, kebon-e neng sebelah ngendi?” tanya Biru 1 kepada pemuda desa. “Kulon sawah niki Mas” jawab pemuda desa. “Weh lhadalah!” celetuk Biru 3. “Mas, njenengan balik mawon. Simbah-e ben digoleki konco-konco” kata Biru 1. Pemuda desa tersebut kemudian balik kanan, menyusuri jalan tadi. Segera Biru 1 memerintahkan Biru 3 untuk mencari jalan alternatif menuju kebon yang dimaksud. “Biru 3, cari jalan. Melambung dari bawah!” perintah Biru 1. Biru 3 segera berlari menyusuri pematang sawah, dan diikuti tiga orang lainnya. Tak berapa lama, terlihat atap gubuk. Biru 2 yang berada di belakang Biru 1 beteriak, “Mbah… Mbah Marto… Mbah…!”. Biru 3 juga ikut berteriak memanggil. Lamat-lamat terdengar sahutan.

Mbah Marto tampak sedang berdiri ketika keempat orang SRU Biru muncul berurutan. Tidak nampak ketakutan atau kepanikan di raut wajahnya yang berusia sekitar 70-an tahun. Setelah empat orang SRU Biru sampai di hadapannya, Mbah Marto duduk kembali. Di sampingnya terdapat sebuah buntalan deklit warna oranye. “Nggo Mbah…nderek kulo. Mandhap sarengan!” kata Biru 3. “Ajeng tindak pundi?” tanya Mbah Marto dengan muka lugu. “Tindak Bale Desa, Mbah” sergah Biru 1. “Kulo mboten purun!” jawab Mbah Marto. “Lha kok mboten purun piye toh Mbah?” tanya Biru 2. “Kulo niki ngenteni putu kulo” jawab Mbah Marto dengan tenang. “Putu-ne njenengan mpun mandhap wau dhalu. Sak niki mpun wonten Bale Desa” timpal Biru 1. “Mboten. Pokok-men kulo ngenteni putu kulo. Nak mboten karo putu kulo, kulo mboten purun!” tegas Mbah Marto. Debat antara anggota SRU Biru dengan Mbah Marto pun tak terhindarkan. Bahkan Mbah Marto sempat menceritakan proses datangnya lahar panas yang menimbun persawahan dan kebun yang berada di depannya. Menurutnya, beberapa saat sebelum kedatangan anggota SRU Biru, lahar panas tersebut masih membara. Sungguh sebuah keajaiban dari Tuhan. Mbah Marto yang duduk semalaman terhindar dari lahar panas yang hanya berjarak sekitar 70 meter dari gubuknya!

Setelah beberapa saat, Mbah Marto bersedia turun bersama Biru 3 dan Biru 4. Biru 1 mengambil alih pesawat HT dan memanggil Posko, “Posko, Biru 1 panggil”. “Diterima Posko. SRU Biru segera turun. Harus segera turun!” perintah Posko. “Di-copy Posko. SRU Biru meluncur ke Titik Aman 1” jawab Biru 1 sambil berlari di belakang Biru 2 yang membawa bungkusan milik Mbah Marto. Sekitar 100 meter kemudian, tiba-tiba Posko memanggil, “Biru 1. Biru 1 segera turun! Segera turun! Awan panas meluncur ke arah Kali Gendol. Segera turun!”. Tanpa menjawab Biru 1 dan Biru 2 berlari sekencang mungkin menuju Titik Aman 1, yang ternyata masih berjarak lebih dari 300 meter. Tak lama kemudian terlihat kendaraan Posko, yang ternyata merupakan mobil terakhir yang berada di Titik Aman 1. Komandan Operasi berteriak-teriak memanggil Biru 1 dan Biru 2 untuk berlari cepat.

Biru 2 masih berlari di depan Biru 1. Sejurus kemudian Biru 2 berteriak, “Biru 1 lompati saja pagar itu!”. Seketika Biru 1 menoleh ke sebelah kanan dan melihat Biru 2 sudah melempar bungkusannya Mbah Marto ke sisi lain pagar setinggi 1,5 meter. Biru 2 melompat dengan sigap. Biru 1 sempat ragu untuk melompat, karena di antara dirinya dan pagar terdapat selokan selebar setengah meter. Bermodal nekad, Biru 1 melompat pagar tersebut dan berhasil walau mendarat dengan tidak sempurna. Biru 2 sudah berada di atas motornya dalam kondisi mesin menyala. Biru 1 kemudian menghidupkan mesin motor. Gagal hidup. Panik sudah menyergap. Terdengar Komandan Operasi beteriak, “Biru 1 jangan kelamaan. Cepat” dari mobil yang sudah bergerak turun. Biru 1 mencoba lagi. Berhasil. Motor segera meluncur turun hingga 2 kilometer di bawah Titik Aman 1. Biru 2 sudah menunggu kedatangan Biru 1. Sesampainya di samping Biru 2, Biru 1 bertanya “Bungkusane tadi mana?”. Biru 2 hanya menggeleng. Bersamaan Biru 1 dan Biru 2 memutuskan untuk menuju ke Posko Statis yang berjarak 2,5 kilometer di depan. Sepanjang perjalanan, Biru 1 hanya bisa membayangkan kesulitan dan kesesuahan yang akan dialami Mbah Marto karena tidak membawa bekal apapun kecuali pakaian yang melekat di badan. Pun Biru 1 juga merasa bersalah telah “menipu” Mbah Marto tentang keberadaan cucunya. Biru 1 hanya bisa bicara dengan dirinya sendiri, “Maafkan kami Mbah. Semoga Simbah bertemu dengan cucu tercinta”.

Epilog
Dua kisah di atas hanyalah sekelumit dari sekian banyak kisah yang belum terekspos di berbagai media. Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari kisah-kisah di atas. Kita bisa belajar bersama tentang kompleksitas warga dusun di daerah rawan bencana, kemauan (dan sedikit kenekadan) para Tim Evakuasi, pengambilan keputusan yang tepat dan sekaligus berpacu dengan waktu, ketidakhadiran pemerintah di saat sebagian warga masyarakat membutuhkan pertolongan, dan tentunya sisi humanis dalam proses evakuasi. Dari informasi yang didapat penulis, bahwa sebagian besar anggota Tim Evakuasi menggunakan biaya sendiri untuk bisa terlibat di lapangan, melaksanakan tugas dengan baik dan tanggung jawab yang tidak bisa diremehkan, dan tidak meninggalkan pendekatan humanis selama proses evakuasi. Bahkan ada sebagian anggota Tim Evakuasi yang bersedia menceritakan kisahnya namun tidak bersedia namanya dipublikasikan oleh media.

Dari banyak hal tersebut, menunjukkan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya lumpuh ketika menghadapi krisis Gunung Merapi bahkan mampu mengambil fungsi yang gagal dilaksanakan oleh pemerintah. Meminjam istilah seorang teman, segenap masyarakat mampu melaksanakan “self governance” dalam hal evakuasi masyarakat di lereng selatan Gunung Merapi. Bagi penulis, kisah-kisah ini bisa menjadi pukulan yang cukup telak bagi pemerintah dikarenaka tindakan-tindakan yang diimplementasikan tidak sebanding dengan dukungan dana, sarana dan prasarana yang dimiliki. Lebih ironisnya, semua dukungan tersebut menggunakan dana yang berasal dari masyarakat. Ke depan, pelajaran yang telah dibagikan oleh para anggota Tim Evakuasi ini bisa memperkuat wawasan bagi kita dalam merespon dengan lebih arif terhadap kondisi yang dialami oleh masyarakat. Semoga.

(Terimakasih untuk seluruh anggota Tim Evakuasi yang telah berkerja dengan sangat baik di lapangan, dan mohon maaf atas ketidakcermatan saya dalam menceritakan ataupun menuliskan kembali kisah yang anda alami.)

Badhak, Asep, dkk

Categories: Kisah