Archive

Archive for the ‘Kearifan Lokal’ Category

Mbah Maridjan dan Demerapisasi

January 1, 2011 Leave a comment

Mbah Maridjan dan Demerapisasi

Nawa Murtiyanto, SIP

Hanya membawa arit dan uceng (tali bambu), bercelana pendek hitam dan kaos Golkar zaman Orde Baru, seorang lelaki sepuh setiap pagi naik ke Pethit Opak di lereng selatan G. Merapi untuk mencari ramban.

Aktivitas harian tersebut tidak lebih dan tidak bukan merupakan salah satu upaya Mbah Maridjan, untuk bertahan hidup di negara yang kondisinya belum mampu memberikan jaminan bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat. Bertahan hidup, bagi Mbah Maridjan, bukan dimaknai “hari ni makan apa atau siapa” namun dimaknai sebagai “hari ini makan dengan siapa”. Dan dari sekian panjang perjalanan hidupnya, makna bertahan hidup bermuara pada pemahaman bahwa kehidupan manusia dan komponen lingkungan hidup di sekitarnya saling berhubungan, saling bergantung dan saling melengkapi. Bahwa manusia mengambil makanan dari alam dan alam membutuhkan manusia untuk menjaganya.

Konsep kehidupan manusia yang menyelaraskan dengan alam ala Mbah Maridjan, sudah terbukti secara de facto dengan terlestarikannya kondisi alam lereng selatan Merapi sekian puluh tahun. Terlepas dari jabatan informal dan wewenang sebagai salah satu tokoh sosial di masyarakat lereng selatan Merapi, Mbah Maridjan telah menjaga Merapi dengan segenap keyakinan, kepercayaan, pandangan, nilai, norma dan tabiat bathinnya yang kemudian diterjemahkan dalam mitos, simbol, dan ritus sosial budaya yang mengikat masyarakat di sekitar lereng selatan G. Merapi.

Mitos Kyai Petruk dan Ki Sapu Jagad merupakan sebagian rangkaian cerita dalam sistem kcpercayaan dari masa lalu hingga sekarang yang berlaku sebagai kebenaran transedental, kebenaran Illahi. Karena mitos berisikan pengalaman material dan spiritual yang dikembangkan menjadi pengetahuan sosial, maka bagi Mbah Maridjan, mitos menjadi pegangan hidup, kerangka acuan, pedoman dan berfungsi sebagai alat penyadar manusia akan adanya kekuatan-kekuatan gaib, untouchable power. Read more…

Advertisements
Categories: Kearifan Lokal

Klangon dusun terdepan Merapi, Bangkit..

December 24, 2010 1 comment

Klangon dusun terdepan Merapi, Bangkit..

oleh Agus Wiyarto

Reruntuhan rumah Kang Semi didusun Klangon, yang merupakan dusun terdekat dari puncak Gunung Merapi (4 KM) Read more…

Categories: Kearifan Lokal

Myths and Mysticism Surrounding Merapi: Central Java, Indonesia

December 21, 2010 Leave a comment

Myths and Mysticism Surrounding Merapi: Central Java, Indonesia
Sri Wahyuni

Discussion on Mt. Merapi volcano, expected imminently to erupt, would be considered incomplete unless it included the myths and mysticism that surround it. Sri Wahyuni wrote an excellent article on the subject.

Reaching magnificently up to the sky on the border between Yogyakarta and Central Java provinces, the 2,968-meter volcano is believed, by the traditional Javanese communities that live in its vicinity, to be a sacred place.
Some think that the volcano is the kingdom of spirits; while visiting Merapi, people are advised not to do things that could anger the spirits, such as relieving oneself wherever one might wish.

Others believe that the volcano is guarded by spirits, whose names vary from one region to another. On the northern slopes of Merapi, for example, Mbah Petruk is the guardian. In the south, the guardian spirit is Kyai Sapujagad, who was believed to have been sent by Panembahan Senopati to guard Merapi.

Panembahan Senopati was the founder and first king of the Mataram Kingdom, which ruled Yogyakarta from the 16th century.

Other spirits are believed to live in or guard the volcano. These include Nyai Kendit and Dewi Gadung Melati. The rituals for worshiping Merapi or the spirits, therefore, also vary from one place to another. In Selo, Boyolali, Central Java, for example, villagers hold the Sega Gunung ritual to worship Mbah Petruk.

Others do so through ordinary tumpengan rituals, during which ceremonial dishes of tumpeng (cone-shaped yellow rice), are presented and served.

tumpeng_P20.jpg
A huge crowd of people participate in a tumpengan ritual on the slopes of Mt. Merapi at Kaliurang, Sleman regency. During the ritual, participants worship Mbah Petruk, a divine spirit believed to be a guardian of Merapi. (Slamet Susanto)

Read more…