Home > Kisah, Relawan > Berjibaku Menembus Debu

Berjibaku Menembus Debu

Berjibaku Menembus Debu

TELEPON seluler Trisno Utomo berdering tak lama setelah Gunung Merapi meletus untuk kedua kalinya pada 26 Oktober lalu. Laki-laki 54 tahun itu sedang berada di Balai Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ia bersama sejumlah warga yang masih sehat sedang memantau salah satu gunung api teraktif di dunia itu.

Saat itu, Kopeng masih aman. Tapi Dusun Kaliadem yang terletak di atasnya remuk diamuk awan panas. Itu sebabnya, Trisno kaget ketika Ponimin, salah satu tetangganya di Kaliadem, menelepon. Ia bersama istri, anak, menantu, dan dua cucunya ternyata selamat. “Di dusun, kalau ada apa-apa, saya biasa disambati (dimintai tolong),” kata Trisno.

Bergegas Tris, nama panggilannya, mengajak teman-temannya naik ke Kaliadem. “Ia yang paling bersemangat,” kata Muhammad Soleh Ridwan dari Al-Qadir, sebuah pesantren di Cangkringan. Dengan diantar mobil seorang perangkat desa, Tris, Soleh, dan empat rekannya naik ke Kaliadem. Tapi mobil tidak bisa mendekati rumah Ponimin. Debu panas yang tebal menjadi penghalang.

Mereka kemudian mencoba lewat jalan setapak di sisi barat. Tris masuk halaman rumah Ponimin dengan melompati pagar. Saat itu, ia tidak sadar debu panas di depannya sudah sangat menggunung. Sepatunya memang tidak apa-apa, tapi kakinya tak kuat direndam debu panas. “Ketika itu, ia tidak merasa sakit karena mungkin terlalu bersemangat menolong tetangganya,” ujar Soleh.

Mereka mendapati keluarga Ponimin sudah di dalam mobil Suzuki APV. Tris pun melompat ke atas APV. Keluarga Ponimin berhasil masuk mobil dengan memakai bantal sebagai pijakan. Tapi ban mobil sudah hancur sehingga tidak bisa dipakai. Dari atas mobil, Tris meminta yang sudah di dalam mobil turun karena ia takut mobil meledak. “Saya khawatir karena panas sekali,” katanya.

Mereka pun kembali masuk rumah dengan menggunakan bantal sebagai alas. Tapi mereka hanya sebentar di dalam rumah. Tiba-tiba saja salah satu bagian atap ambruk karena tidak kuat menahan tebalnya debu. Ponimin bersama istri, anak, menantu, dan dua cucunya pun kembali ke teras bersama para penolongnya.

Sempat muncul mobil yang berusaha menolong, tapi tidak bisa mendekat. Pengendara mobil itu sempat berkomunikasi dengan Tris dan mengatakan akan mencari cara agar bisa mendekat. “Saat mobil itu pergi, harapan saya seperti hilang,” kata Tris. Muncul juga sebuah jip. Tiga orang yang akan menolong Ponimin naik jip dan segera memutar.

Mungkin karena gelap, semua wajah ditutup agar napas tak terganggu. Seluruh badan juga penuh dengan debu. Koordinasi ketika itu sangat kacau. “Saya juga tidak tahu siapa-siapa yang berada di dekat saya,” kata Soleh. Ia mengira Tris sudah ikut jip itu kembali ke bawah, sedangkan Tris mengira kelima rekannya sudah pulang saat ia masuk ke rumah Ponimin.

Soleh dan seorang temennya sempat turun ke tempat aman dengan berjalan kaki, disambung sepeda motor. Mereka memberi tahu kondisi di Kaliadem kepada para petugas di balai dusun. Sesaat kemudian, ia kembali lagi ke rumah Ponimin sendirian. Soleh dan Tris berusaha membantu keluarga Ponimin mengungsi ke tempat aman dengan berjalan kaki.

Pada saat itulah Pandu Bayu Nugraha datang. Mahasiswa berusia 20 tahun itu bukan anggota SAR dan bukan pula dari regu kemanusiaan yang lain. Warga yang tinggal di bawah Kaliurang, kawasan wisata dekat Yogyakarta, itu datang ke Kinahrejo menggunakan sepeda motor trail untuk ikut menolong para korban. Suasana di sana sangat ramai karena para relawan sibuk mencari korban.

Ternyata Kaliadem-tempat keluarga Ponimin terperangkap-juga membutuhkan relawan. Ia pun memacu trailnya ke sana karena mobil tak bisa masuk. Ia membawa tabung oksigen. Seorang pengendara motor lain menyertai Pandu. Tapi tidak berapa lama, Pandu mesti sendirian karena sepeda motor bebek yang dinaiki rekannya tidak sanggup naik melewati debu tebal.

Sebenarnya di Kinahrejo saat itu ada dua sepeda motor trail, tapi yang lain tidak berani naik. Pandu, dengan trail Kawasaki KLX kesayangannya, nekat meneruskan perjalanan sendiri. “Saya memberanikan diri dengan pikiran akan ada yang nyusul,” katanya. Apalagi ia kemudian melihat jejak roda jip. Jip itu membantunya memuluskan jalan karena ranting dan cabang pohon yang menutupi jalan sudah tersingkir dari jalan.

Suasana Kaliadem senyap, sangat berbeda dengan Kinahrejo. Pandu juga tidak tahu rumah keluarga Ponimin. Ia hanya mendapat ancar-ancar rumah itu terletak di depan menara telekomunikasi. Sial. Tepat di depan rumah itu, sepeda motornya terperosok dan tidak bisa dipakai lagi. Di depan rumah Ponimin itulah ia melihat keluarga Ponimin serta Trisno dan Soleh.

Mereka memutuskan berjalan ke tempat aman dengan menggunakan bantal sebagai alas dengan cara estafet. Di bagian paling depan, Soleh membuka jalur rombongan ini. Saat itu, Pandu melihat istri Ponimin mengenakan alas kaki yang susah digunakan di lokasi seperti itu. “Seperti sepatu yang dipakai ibu-ibu kondangan itu,” ujar Pandu. “Saya menawarkan diri untuk menggendongnya.”

Pandu pun menggendong istri Ponimin, tindakan yang membuatnya menjadi terkenal. Tris pun takjub pada Pandu. “Lumayan jauh itu (jarak dari rumah ke tempat aman), lebih dari 500 meter,” kata Tris. Setelah berada di tempat aman, mereka beristirahat dan Tris menelepon untuk meminta bantuan. “Oleh Pak Tris saya dibawa ke Rumah Sakit Panti Nugroho (Sleman),” ujar Ponimin.

Di Panti Nugroho, Pandu juga memeriksakan diri karena ada pasir panas yang menerobos sepatunya. Pasir panas ini mengakibatkan kakinya melepuh. Setelah diperiksa, ia diizinkan pulang. Ternyata luka itu mengakibatkan infeksi dan bengkak. Mahasiswa Sekolah Tinggi Multimedia MMTC itu juga harus cuti setahun karena tak bisa ikut ujian. “Telat registrasi,” katanya.

Luka di kaki Tris ternyata sangat serius. Di Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta, semua jari kakinya, kecuali jempol kanan, harus diamputasi. Luka bakarnya juga membuatnya harus menjalani cangkok kulit. Saat Tempo bertemu Tris di ruang perawatan Sardjito, kulit paha kirinya sudah diambil untuk dicangkokkan di kaki. Tapi ini belum semuanya. “Minggu depan ganti paha kanan,” katanya tetap tersenyum.

Setelah sembuh, Tris juga harus menghadapi kenyataan yang lain. Sembilan sapi perah miliknya mati karena awan panas, lima di antaranya sudah usia produktif. “Sekarang saya juga tidak punya rumah lagi.”

Sumber: Tempo Online

Advertisements
Categories: Kisah, Relawan
  1. suroso a
    December 29, 2010 at 9:55 pm

    Pengalaman mmereka mesti dijadikan masukan dan dasar atau standard penyelamatan baik bagi korban atau relawan .agar tdk terulang apa yg dialami ponimin, tris dan mhsw yg kehilangan wkt kuliah.

  2. August 16, 2011 at 1:38 pm

    semoga semuanya cepat pulih, dan semuanya di berikan ketabahan…..
    amin

  1. December 29, 2010 at 12:56 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: