Home > Kisah, Profil > Tanpa Kompromi di Saat Kritis

Tanpa Kompromi di Saat Kritis

Tanpa Kompromi di Saat Kritis

DI Jalan Kaliurang, Yogyakarta, minibus APV biru telur yang ditumpangi Agus Wiyarto, Tutur Priyanto, dan Yuniawan Wahyu Nugroho melesat kencang menuju punggung Merapi, kurang dari satu jam sebelum gunung api itu meletus pada 26 Oktober lalu. Hari baru lepas magrib. “Saya tak ingat berapa kecepatan waktu itu. Yang jelas, kami diburu waktu untuk sampai ke Kinahrejo dan membawa keluarga Kang Maridjan,” kata Agus, pengusaha asal Bantul yang pernah menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Tutur Priyanto, relawan Palang Merah Indonesia yang berada di belakang kemudi, menancap gas karena Agus memprediksi akan ada letusan besar. “Saya mendengar kabar ada awan panas ke barat pukul 17.02. Merujuk pengalaman 2006, dalam waktu satu jam akan ada letusan susulan, dan bisa mengarah ke selatan,” katanya. Sebelumnya, dua orang ini hampir kehabisan waktu karena menunggu Yuniawan, juru warta portal Vivanews dari Jakarta, yang minta ikut ke rumah Maridjan tapi mengalami keterlambatan pesawat hampir satu jam.

Di rumahnya, Kinahrejo, dusun terakhir tempat transit para pendaki gunung, Maridjan sedang meladeni para tamu, termasuk sejumlah wartawan. Sesekali ia bertanya kepada Aris Widodo alias Itong, pecinta alam yang kerap mampir di rumahnya, “Kok, Agus belum datang?” Agus memang ditunggu untuk membawa turun anak-istri Maridjan. “Saya tahu, Kang Maridjan sendiri tidak akan mau turun,” kata Agus. Maridjan, yang sejak 1982 menjadi juru kunci Merapi, memang bertekad tak akan meninggalkan “pos”-nya.

Pukul 17.30, setelah beberapa kali Merapi bergemuruh dan mengeluarkan awan panas, Agus Wiyarto tiba. “Dia datang dan langsung masuk ke ruang televisi, mungkin membujuk Mbah Maridjan turun,” kata Musyafik, wartawan Tribun Yogya, yang sudah satu jam di rumah Maridjan. Menurut Musyafik, Agus juga memerintahkan supaya semua kendaraan diparkir menghadap ke jalan. “Waktu itu saya minta izin kepada Kang Maridjan untuk membawa keluarganya turun. Saya juga meminta semua tamu yang membawa mobil supaya memutar kendaraannya untuk antisipasi,” ujar Agus.

Selang beberapa menit, azan magrib berkumandang. Di depan rumah Maridjan, empat mobil berstiker Perusahaan Listrik Negara menurunkan dua puluhan penumpang. “Kami habis memeriksa jaringan dan survei ke barak pengungsian,” kata Edi Endra, pegawai kantor PLN Kalasan, Yogyakarta. Rombongan ini mencegat Maridjan yang hendak ke masjid. Mereka berebutan bersalaman dan berfoto. “Ketika itu ada yang memerintahkan kami turun karena sebentar lagi akan ada letusan,” ujar Edi. Yang dimaksud Edi tak lain adalah Agus.

Belum usai salat, sirene berbunyi. Tapi raungan itu tak banyak berarti. “Ketenangan Mbah Maridjan membuat kami juga tenang. Apalagi banyak warga yang santai meski sirene meraung,” kata Musyafik. Saat itulah Agus berteriak memerintahkan semua orang turun. Teriakan Agus membuat seisi rumah panik, dan dalam sekejap berhamburan ke mobil masing-masing. Seorang pendaki gunung yang berada di ruang tamu Maridjan menceritakan bagaimana Agus memukul meja untuk “mengusir” para tamu. “Dia memaksa semua orang turun,” ujar pendaki itu.

Tak semua orang menuruti seruan Agus. Sebagian berdalih akan salat dan menunggu temannya yang ada di masjid. Tapi Agus tak kalah galak. “Teman-teman saya dimarahi karena mau salat, akhirnya ada yang menjemput ke masjid,” kata Edi Endra. Agus menuturkan ia mendapat kabar ada letusan besar, apalagi abu vulkanik mulai turun. “Saya sendiri tidak salat waktu itu. Ini kondisi darurat, tak ada kompromi, yang penting selamatkan diri,” ujar Agus, mengulangi seruannya, ketika ditemui di rumahnya di kawasan kerajinan gerabah Kasongan, Bantul, dua pekan lalu.

Berkat kegalakan Agus, semua tamu dan keluarga Maridjan, yang jumlahnya empat puluhan orang, turun. Tujuh mobil, termasuk milik Agus, juga ditumpangi warga yang sudah menanti angkutan untuk mengungsi. “Tapi masih ada warga yang santai di warung, padahal sudah ada yang berkumpul di titik evakuasi,” kata Musyafik, yang turun paling belakangan menggunakan sepeda motor. Ia menduga warga yang santai yakin bahwa letusan tak akan membahayakan. “Saya sendiri juga tak menduga letusan akan menghancurkan Kinahrejo,” ujarnya.

Agus dan seisi mobilnya turun di pos pengungsian, di balai Desa Umbulhajo, dua kilometer dari Kinahrejo. Ketika debu kian tebal, Tutur Priyanto minta izin kepada Agus untuk membawa mobil APV-nya kembali buat membawa warga yang belum terangkut. Tutur kembali ke Kinahrejo bersama Yuniawan. Malam harinya, setelah letusan reda, keduanya ditemukan tewas. Mobil Agus hangus di depan rumah Maridjan. Toh, Agus merasa lebih sedih atas kematian kedua orang itu. Soal mobilnya, ia hanya berujar, “Saya ikhlaskan mobil, yang penting ada warga yang bisa diselamatkan.”

Letusan Merapi pada 26 Oktober itu menewaskan 36 dari lima ratusan warga Kinahrejo, termasuk Maridjan. Sebagian korban tewas karena tak terangkut, dan sebagian terlambat menyelamatkan diri karena merasa letusan kali ini tak akan melumatkan kampung mereka. “Pada letusan 2006 dusun ini luput. Pengalaman ini membuat sebagian warga yakin akan selamat,” kata Agus. Di samping itu, sikap Maridjan yang tak mau turun-meski ia menyarankan warga menyelamatkan diri-menambah keyakinan warga untuk bertahan.

Toh, jumlah korban bisa saja membengkak bila tak ada sosialisasi bahaya Merapi yang diprakarsai Agus Wiyarto dan BPPTK (Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian) Yogyakarta, dua hari sebelum letusan itu. “Pak Agus kenal dekat dengan keluarga Mbah Maridjan, jadi dia terlibat dalam sosialisasi itu,” kata Subandriyo, Kepala Badan Pengkajian. “Saya minta sosialisasi digelar di rumah Kang Maridjan supaya seluruh warga datang dan menuruti imbauan petugas bila ada tanda bahaya,” kata Agus.

Di ujung acara sosialisasi itu, Maridjan, yang sepanjang acara lebih banyak diam, menganjurkan warga dan keluarganya menuruti imbauan petugas. “Kamu harus nurut sama yang punya alat (pendeteksi aktivitas gunung api),” katanya, seperti ditirukan Itong. Menurut Itong, berkat sosialisasi itu, meski masih ada penduduk yang tak sigap menyelamatkan diri, begitu sirene meraung sebagian warga berkumpul di titik-titik evakuasi. Memang, sebagian tak terangkut karena terbatasnya kendaraan.

Menurut Subandriyo, Agus memiliki perhatian tinggi terhadap warga sekitar Merapi, terutama Kinahrejo. “Ia sering meminta informasi terbaru aktivitas gunung dan menyebarkan kepada warga,” katanya. Selain itu, Agus juga memanfaatkan aset dan jaringan pertemanannya untuk membantu korban. Hingga hari ini, sebagian warga Kinahrejo masih mengungsi di rumah Agus di Kaliurang. “Rumah itu kosong, lebih baik untuk menampung pengungsi,” kata Agus, yang menjadi anggota DPRD Bantul pada periode 1999-2004.

Berkat usahanya pula, dengan menghubungi beberapa koleganya di pemerintahan dan sesama pengusaha, pemakaman massal korban letusan Kinahrejo bisa dilaksanakan dua hari setelah letusan. “Saya sempat khawatir, sampai sore sehari sebelum pemakaman belum ada liang lahat dan kepastian ambulans,” ujarnya. Sebagai antisipasi, ia meminjam truk koleganya untuk pengangkut mayat. “Untung, malam harinya saya mendapat kabar bantuan ambulans, termasuk dari Rumah Sakit Sardjito,” kata sarjana ekonomi Universitas Islam Indonesia ini.

Kepedulian Agus dengan Kinahrejo memang tak lepas dari kegemarannya mendaki Merapi sejak 1970-an. “Waktu itu saya masih SMP, kalau mendaki pasti mampir ke rumah Kang Maridjan,” kata pria kelahiran Yogyakarta 13 Maret 1962 ini. Kedekatan itu berlanjut hingga Agus menjadi politikus Partai Kebangkitan Bangsa. “Tiap ada waktu luang, saya ke Kinahrejo. Di sana saya mendapat ketenangan. Desa itu sudah menjadi rumah kedua saya,” ujar pendaki yang mengaku sudah 70 kali ke puncak Merapi ini.

Sumber: Tempo Online

Advertisements
Categories: Kisah, Profil
  1. December 28, 2010 at 9:59 am

    Menambah informasi, pak Agus Wiyarto yg dimaksud pada berita di atas pernah menjadi anggota Komite Sekolah SMA Negeri 3 Yogyakarta sekitar tahun 2004. Putri beliau, namanya Qiqi, juga alumni Padmanaba. Qiqi juga keyboardis Padz Band.

  2. October 26, 2011 at 3:35 pm

    setahun telah berlalu….

  1. December 28, 2010 at 10:34 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: