Home > Lahar Merapi > Endapan Lahar Gunung Merapi

Endapan Lahar Gunung Merapi

Endapan Lahar Gunung Merapi

Luas Endapan dan Karakteristik Channel

Tiga belas sungai sekitar Merapi sudah pernah mengalami banjir  lahar, dari Sungai Apu di barat laut sampai  Sungai Woro di tenggara (Gbr. 1). Secara umum, sungai di  barat dan di sungai selatan Gunung Merapi dapat dikelompokkan secara terpisah.

Gambar 1. Distribution of recent lahar deposits on Merapi slopes (JICA, 1980). The 13 rivers shown had lahars during historical time AD 1500–1900s. Large lahar deposits are mainly located in-between the Apu and Woro Rivers. Total area of lahar deposits is about 286 km2.

Di sebelah barat, saluran antara Sungai Pabelan dan Sungai Krasak (Gbr. 2) panjangnya antara 20 sampai 30 km (Furuya, 1989), dan  di DASnya  22-45 km2. Meskipun , Sungai Pabelan memiliki panjang 46 km dan DAS 103 km2.  Kemiringan channel relatif tinggi, umumnya 10-11% untuk sebagian besar sungai, dan 14,7% di  Sungai Batang. Bantaran sungai rendah, karena jumlah sedimen yang besar terbawa  ke daerah ini sejak 1961 (Marutani et al, 1995.).

Gambar 2. Location of equipment for rainfall and lahar monitoring on the southwestern flank of Merapi volcano.

Endapan lahar biasanya memiliki tebal 0,5-2 m  , meskipun kadang-kadang  endapan channel ketebalan bisa melebihi 10 m. Ketebalan yang tidak biasa  dilaporkan pada tanggal  14, Januari 1931, setebal  10,5 m di jembatan Salam di Sungai Krasak (Schmidt, 1934), dan 15 mpada tanggal  5 Oktober 1888, di desa Sisir di Sungai Senowo (Neuman Van Padang, 1936). Selain itu, kedalaman 25 m dan lebar 60 m diukur sekali pada tahun 1837 di Sungai Blongkeng (Schmidt, 1934; Project Gunung Merapi , 1980).

Di selatan Merapi, sungai memiliki kisaran panjang 30-40 km  (Gbr. 1), umumnya lebih panjang dari sungaidi  barat, sementara rata-rata kemiringan channel  tidak melebihi 9%. Lembah hulu sangat tererosi, khususnya di  lembah Woro  yang berkedalaman lebih dari 100 m diketinggian 1100 m.

Di bagian tengah dan hilir  lembah Woro ada 2,5 juta meter kubik endapan lahar antara Desember 1930 dan Agustus 1931 (Schmidt, 1934). Di Sungai Gendol, tiga episode sedimentasi utama lahar terjadi pada tahun 1846 (50 ha tertutup) 1906, dan pada 1930-1932 . Di Sungai Boyong, kejadian lahar skala kecil terjadi pada 1930-1931, dan pada tanggal 8 Januari 1969. Dalam beberapa tahun terakhir, 21 kejadian lahar terjadi  antara 5 Desember 1994 dan 10 Juni 1995, melibatkan volume sekitar 1,6 juta meter kubik   (Gambar 3 ). Yang terbesar dari peristiwa-peristiwa akhir-akhir  ini, pada tanggal 5 April 1995, melibatkan 278.000 m3 (Lavigne, 1998).

Gambar 3. The bridge on Boyong River, close to the village of Boyong, elevation 670 m: (a) December 1994. The valley bottom is farmed. The bridge, built in 1993–1994, stands 7 m above the river (people for scale). (b) Same view, 20 February 1995. The valley is filled with lahar sediment. Aggradation of the riverbed was influenced by a 3 m increase of Boyong Dam 4 (BOD4), located 200 m downstream from the bridge. Bridge loss estimated at 200,000 US$.

L embah-lembah yang berada di lereng timur laut  Gunung Merapi sangat tererosi, namun rupanya tidak mengalami peristiwa lahar selama  dua  abad terakhir.

Karakteristik ukuran buti dari endapan  lahar
Di  Merapi, endapan  lahar tersortasi dengan buruk, dan mengandung partikel yangberukuran butir dari lempung  sampai boulder. Tekstur biasanya kerikil berpasir atau pasir berkerikil, karena bahan sumber adalah puing blok-dan-abu kasar dari aliran piroklastik tipe Merapi. Namun, di beberapa sektor, bahan sumber dapat terdiri dari tephra  abu-awan halus . Dengan demikian, persentase masing-masing fraksi ukuran bisa bervariasi untuk bagian tertentu dari endapan  ke endapan  (Gbr.4) dan dalam endapan  tunggal (Gbr. 5).

Gambar 4. Cumulative curves of particle size of lahar deposits in Boyong River at 860 m elevation (Lavigne, 1998). Sampling limited to peak-flow deposits, and clasts finer than 100 mm. Cobbles range from 0 to 20%. Silt and clay commonly less than 2%.

Endapan aliran rombakan  ini umumnya noncohesive, menurut  Scott et al. (1995). Endapan biasanya berisi kurang dari 2% dari total debu dan tanah liat (< 4 phi). Proporsi ini  sesekali bisa  jauh lebih tinggi; misalnya endapan yang  diamati di saluran Woro pada 1930 mengandung sekitar 7% dari lumpur dan 3-4% dari tanah liat, dan lebih “berlumpur” daripada yang  diamati di saluran Batang pada saat yang sama (Schmidt, 1934). Tanah liat yang  berlimpah dalam matriks endapan Woro mungkin berasal dari daerah sumber di lapangan solfatara Woro.Gambar 5. Cumulative curves of particle size of 2 February 1995 lahar deposits in Boyong River (Lavigne, 1998). Section 765 m in elevation.

Sumber:
Lahars at Merapi volcano, Central Java: an overview
F. Lavignea,*, J.C. Thouretb, B. Voightc, H. Suwad, A. Sumaryonoe

Advertisements
Categories: Lahar Merapi
  1. yusti
    November 21, 2011 at 2:12 pm

    saya mw tanya yang dikatakan masih endapan lahar tuh sebenernya ciri2 or karakteristikya pa sih?dan simbol litologinya kyk pa?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: