Home > Berita Merapi > Gunakan Kearifan Itu untuk Membangun

Gunakan Kearifan Itu untuk Membangun

Gunakan Kearifan Itu untuk Membangun

Meletusnya Gunung Merapi secara kontinu sejak 26 Oktober lalu tak menyurutkan langkah penduduk di sekitar lereng Merapi kembali ke rumah mereka. Menurut Lucas Sasongko Triyoga, yang pernah melakukan penelitian terhadap penduduk di lereng gunung pada 1984, itu lantaran adanya sistem kepercayaan yang dianut masyarakat sekitar Merapi.

“Mereka sudah lama turun-temurun beradaptasi di daerah itu. Bagi kita (itu) risiko, bagi mereka bukan risiko,” ujar Lucas. Penulis buku Manusia Jawa dan Gunung Merapi: Persepsi dan Kepercayaannya ini menjelaskan, masyarakat Jawa percaya bahwa Merapi menjadi tempat tinggal leluhur Keraton Mataram. Saat meletus, oleh masyarakat setempat dimaknai bahwa Merapi sedang membuang kotoran. “(Lagi) bersih-bersih atau ada perkawinan antara Laut Selatan dan Gunung Merapi,” katanya.

Di tengah kesibukannya menulis ulang buku (diterbitkan Desember mendatang), yang merupakan skripsi sarjana antropologinya di Universitas Gadjah Mada pada 1987 itu, Lucas juga menjelaskan kepada Akbar Tri Kurniawan, Istiqomatul Hayati, dan fotografer Yosep Arkian dari Tempo tentang pengalamannya berhubungan dengan Mbah Maridjan dan masyarakat sekitar Merapi.

Pembicaraan dengan ayah dua putri cantik ini di kediamannya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Rabu lalu juga menyorot pentingnya pemerintah memahami keyakinan atau sistem kepercayaan masyarakat di lereng Merapi. “(Sistem kepercayaan) itu kearifan ekologi. Alangkah baiknya program pemerintah bersinergi dan melibatkan mereka,” ujar Lucas. Bagi Lucas, pemerintah bisa memanfaatkan kepercayaan itu untuk kepentingan pembangunan. “Hal-hal yang dianggap angker bisa dimanipulasi.”

Kenapa masyarakat lereng Merapi tetap bertahan meski gunung itu meletus?

Saya melihat sistem kepercayaan dan persepsi Jawa berbeda. Mau tidak mau harus diakui oleh orang Jawa meski sudah berpendidikan, (mereka) percaya adanya Nyi Roro Kidul. Kalau kita berbicara konsep strukturalisme, konsep itu ada dalam alam bawah sadar. Kenyataannya, sistem kepercayaan ini masih didukung. Sesungguhnya sistem kepercayaan yang saya teliti itu tidak saya anggap sebagai takhayul. (Kalau) memakai kacamata kita, itu dianggap takhayul. Sebagai antropolog, saya harus menanggalkan kacamata saya dan harus memakai kacamata orang yang diteliti untuk mengambil saripati kepercayaan mereka itu.

Kepercayaan itu semacam agama?

Saya mengatakan itu bukan takhayul, tapi juga bukan religi. Itu bagian dari sistem nilai, yang merupakan ilmu pengetahuan bagaimana beradaptasi dengan Merapi dan bagaimana dengan sesama. Seperti yang dikatakan Mbah Maridjan bahwa Islam bagi mereka adalah ageman, artinya baju. Konsep ini sama dengan apa yang diteliti Clifford Geertz (antropolog Amerika Serikat dari Institute for Advanced Study di Princeton, wafat pada 2006) tentang kaum abangan, priayi, dan santri. Dan ternyata berlaku pula di Gunung Merapi. Mereka kebanyakan Islam.

Ageman itu artinya baju untuk menghadap Tuhan. Dan mereka percaya Merapi tempat tinggalnya leluhur Keraton Mataram, termasuk mereka. Dalam buku, saya tulis orang mati itu masuk ke yang baik-baik. Orang yang perilakunya baik masuknya ke surga perantauan di puncak Merapi. Kalau orang jahat masuknya ke dalam batu atau pohon.

Apa saja yang mereka percayai?

Di dalam sistem kepercayaan mereka, ada tempat angker yang tak boleh sembarangan memotong rumput atau menebang pohon. Sebenarnya ini kearifan ekologi yang dibungkus dalam sistem kepercayaan. Dan saya menemukan bagaimana mereka meramalkan Merapi akan meletus. Salah satu yang saya amati, mereka mempersonifikasikan Merapi sebagai keraton makhluk halus, termasuk Laut Selatan. Dan itu ada hubungan yang intens dengan Keraton Mataram, yang dibuktikan dengan (tradisi) labuhan.

Mereka percaya bahwa kalau (Merapi) meletus, itu bukan kemarahan, tapi hanya membuang kotoran karena ada acara atau sedang membangun keraton. Bersih-bersih atau ada perkawinan antara Selatan dan Utara, maksudnya Laut Selatan dengan Gunung Merapi. Mereka bisa memprediksi Merapi setiap tahun sekali pasti buang kotoran. Mereka tidak pernah bilang batuk. Ternyata dari sejarah vulkanologi, Merapi (meletus) setiap tahun sekali. Waktu pembentukan Merapi awal pernah istirahat 30 tahun. Tapi sekarang secara periodik setiap tahun dan setiap tahun wawu Jawa (satu windu) Merapi meletus. Ini juga sejalan dengan sejarah Merapi setiap tujuh setengah tahun meletus.

Ada buktinya tidak?

Saya menemukan desa di sana sudah berabad-abad umurnya. Mereka tahu risiko bahaya Merapi. Saya melihat di sana ada endapan lava seperti batu muda, batuan andesit yang besar di Kali Kuning atau Boyong. Ini dibawa oleh awan piroklastik atau wedhus gembel. Wartawan kebanyakan over-expose. Mereka kebanyakan tidak tahu apa itu badai piroklastik. Dipikir cuma gas. Salah. Itu isinya batu dan panas. Pada saat meluncur, ribuan material ikut keluar. Tapi, bagi penduduk Merapi, itu biasa, makanya mereka tidak mau mengungsi. Kedua, banyak pula yang sudah mengungsi tapi pulang juga karena mengurus ternak. Ternak itu salah satu status sosial bagi mereka hingga sekarang meski sudah ada televisi atau motor. Status sosial juga dilihat dari jumlah sapinya.

Artinya, jika Merapi mereda, mereka akan kembali ke rumah mereka, termasuk di Kinahrejo yang porak-poranda itu?

Tetap. Turgo, waktu disapu awan panas 1994 sampai sekitar 50-an orang yang mati, sekarang ada kan (penghuninya). Kaliadem ada kan? Malah sekarang dikaveling-kaveling. Kali Kuning, Kali Gendol, itu bekas lavanya menggambarkan pernah terjadi letusan yang besar sekali. Kita naik ke Turgo, Kinahrejo, kita menemukan batu-batu pasir. Artinya, letusan besar pernah menghancurkan desa-desa itu, tapi mereka balik lagi.

Apa yang menarik mereka kembali? Kepercayaankah?

Selain kepercayaan, ada istilah sakdumuk saknyari bumi, tak belo pati. Artinya, sejengkal tanah kalau ada yang menghaki (mengklaim) akan dia bela sampai mati. Itu dipegang saja. Artinya, kapan mereka ditransmigrasi juga enggak mau. Dulu, waktu kami riset, banyak petugas transmigrasi yang ingin mentransmigrasikan mereka. Mereka dikejar-kejar petugas dan sampai sekarang mereka masih tinggal di situ. Itu kepercayaan. Mereka sudah lama turun-temurun beradaptasi di daerah berisiko. Risiko bagi kita, bagi mereka bukan risiko. Justru mereka merasa terancam kalau tinggal di kota. Mau nyabrang saja kangelan (kesulitan).

Anda mengenal Mbah Maridjan?

Dia teguh pada tugasnya. Saya menyangsikan kalau ada yang bilang Maridjan mengajak orang untuk tinggal di Merapi. Itu bohong. Saya tahu Maridjan. Dia selalu bertindak, kalau hal-hal penting selalu menyendiri, berdoa, dan semadi. Pada 2006 dia menghilang, dia pasti ke atas di dalam gua tempat dia semadi. Di buku saya yang dulu ada foto gua buatan Maridjan untuk semadi.

Saya menggali informasi tidak mudah. Caranya dengan menjadi seperti mereka. Saya ikut mencari rumput. Kadang yang kita tanyakan di warung, di rumah tidak muncul. Tapi yang ditanyakan saat merumput itu keluar. Saya pernah jalan dengan Maridjan untuk penelitian pembanding. Jalan mengikuti dia mengelilingi punggung gunung lewat Kali Gendol sampai ke Deles (Klaten). Dari perjalanan itu, dia cerita mantra. Maridjan itu anaknya 10 dan tinggal 5.

Dulu nama Maridjan adalah Surakso Wiyono. Dulu dia wakil bapaknya, Mbah Hargo, sebagai kuncen. Kenapa Maridjan bertahan? Kepercayaan dan tugas dia harus tinggal di situ setelah mengungsikan keluarga dan warganya. Dalam hal ini, dia bekerja sama dengan pemerintah. Dia memang menganjurkan warga mengungsi. Sebagai juru kunci, dia menghadapi leluhur Merapi dengan berdoa. Atau akan melakukan ritual topo bisu keliling desa.

Kenapa Maridjan tidak menuruti perintah Sultan Hamengku Buwono X saat diminta turun pada 2006?

Dia merasa diangkat oleh Sultan IX, dan saat Sultan X meminta Maridjan turun, itu perintahnya sebagai gubernur bukan Sultan. Perlu diketahui, Maridjan atau juru kunci ditugasi bukan menjaga Merapi, tapi menjaga leluhur, seperti Kiai Sapujagad.

Mbah Maridjan pernah mengatakan jika Sultan terpilih sebagai presiden, dia tak berhak ikut labuhan? Apa artinya?

Itu artinya, kalau dia sudah bukan raja, dia tidak akan ikut labuhan, bukan enggak boleh menurut konsepnya Maridjan. (Kalau) saya bilangnya, enggak ada cerita Sultan datang ke labuhan. Labuhan itu biasanya untuk Jumenengan Dalem (ulang tahun penobatan menjadi raja). Dilaksanakan tiap 30 Rejeb. Labuhan juga dilaksanakan kalau ada perkawinan keluarga raja atau ada perhelatan besar.

Berapa kali Merapi melakukan labuhan dalam setahun?

Sekali setiap 30 Rejeb pada hari raja dinobatkan (jumenengan). Setiap penobatan raja dilakukan labuhan di Merapi, Parangtritis, di Tlepih, Wonogiri.

Apakah kepercayaan terhadap gunung dan mempersonifikasikan gunung itu hanya di Merapi?

Hampir di setiap gunung di Indonesia, bahkan di Afrika dan Jerman. Saya punya teman antropolog bercerita di Jerman juga ada mitos, misalkan (gunung) ada penunggunya.

Anda meminta agar kepercayaan ini tidak dianggap takhayul semata?

Kalau pemerintah merangkul masyarakat dengan memahami keyakinan atau sistem nilai atau pengetahuan mereka, taman nasional akan aman. Karena pembalakan liar akan diprotes oleh mereka. Mereka hanya memanfaatkan ranting-ranting yang jatuh. Ada juga hutan yang angker, seperti gamelan dan bingungan.

Anda ingin menegaskan sistem ini selaras dengan upaya menjaga lingkungan?

Iya, itu kearifan ekologi. Alangkah baiknya program pemerintah sinergi dan melibatkan mereka. Ini kan sebenarnya rebutan sumber daya alam. Pemerintah itu keinginannya mereka pergi dari sana sejak dulu. Sekarang sudah ada lapangan golf. Menurut Maridjan, itu tidak bagus. Juga hotel-hotel kecil di lereng daerah Kepuhrejo. Maridjan juga melarang di sana digunakan untuk tempat pacaran.

Sistem nilai itu hanya diakui oleh sebagian orang seperti Maridjan atau semua orang di lereng Merapi?

Bukan Maridjan saja. Satu yang susah berubah dalam diri manusia adalah sistem kepercayaan. Kita tidak mudah pindah agama. Apa yang dianut dan dijalani dari kecil itu kebiasaan tradisi menjadi landasan kita untuk hidup di kemudian hari dan sebagai adaptasi. Seperti di Merapi banyak pantangan. Begitu pula dengan kita tidak boleh berkata kotor, tidak boleh mabuk. Sama saja kan seperti naik motor atau mobil juga tidak boleh mabuk. Kita bisa merasionalkan. Kalau pemerintah mau bekerja sama dengan penduduk Merapi untuk membangun, gunakanlah kearifan mereka. Dan hal-hal yang dianggap angker bisa dimanipulasi. Artinya, sistem kepercayaan itu digunakan untuk kepentingan pemerintah dan kepentingan penduduk. Maridjan itu orang paling anti melihat pohon ditebang. Dia akan mendatangi dan menegur langsung.

Soal letusan kemarin?

Bencana itu bukan bencana bagi alam. Proses alam itu dianggap bencana karena banyak manusia yang mendayagunakan sumber alam. Ada-tidak ada orang, Merapi akan meletus. Entah itu setahun sekali atau 200 tahun lagi meletus gede, pasti meletus. Ini bisa diperkirakan meski tidak exact.

Kalau letusan itu dilihat secara ilmiah?

Pada 28 oktober lalu saya naik jam 2 pagi bertemu Pak Surono (Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Orang ini luar biasa dengan teknologi. Tapi saya bilang, secanggih apa pun alat dan pengetahuan kita, tidak bisa meramalkan kapan Merapi akan meletus, di titik mana letusan itu akan terjadi dan mengarah ke mana. Dia (Surono) membenarkan, lalu dijelaskan secara detail.

Bagaimana menyelaraskan kepercayaan dengan teknologi?

Surono itu juga (melakukan) riset tentang kepercayaan itu. Tapi, sebagai ilmuwan, dia tidak boleh bersandar pada itu. Dia harus bersandar pada intelektualisme dan profesionalisme. Mungkin itu dia serap juga. Waktu dia cerita dengan saya, setiap tindakan yang dirasakan berat serta memberatkan pemerintah dan rakyat, dia selalu mengucap bismillah dan berurai air mata. Berat sekali. Dia tanda tangan untuk menyatakan Merapi statusnya “awas”, sangat berat sekali. Dia bilang, “Ya kalau besok meletus.” Kalau ternyata tidak meletus berbulan-bulan, berapa biaya yang telah dikeluarkan.

Ada perubahan perilaku warga merespons Merapi?

Perubahan yang saya lihat di masyarakat, (sekarang) sudah banyak masjid dan sirene Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Satkorlak (Satuan Tugas Koordinasi dan Pelaksana). Kalau dulu kan cuma kentongan atau titir. Sekarang lebih cepat. Kesadaran mereka untuk mengungsi sudah lebih baik. Tapi alangkah lebih baiknya setiap tahun diadakan pelatihan pengungsian. Meski ada kepercayaan seperti itu.

Juru kunci bakal tidak ada lagi?

Keraton akan tetap mengadakan labuhan. Juru kunci itu di bawah Kawedanan Pangulon Departemen Puroloyo, artinya kuburan di Keraton. Jadi Merapi itu dianggap sebagai makam. Dalam doa-doanya, Mbah Maridjan juga menyebut leluhur, Kiai Sapujagat, Krincing Wesi, Gadung Mlati. Yang dipersembahkan pelana kuda, udeng.

Menurut Anda, siapa yang pantas menjadi juru kunci setelah Mbah Maridjan?

Sistem pemilihannya itu syaratnya harus abdi dalem. Sekarang itu wakilnya Maridjan, Si Asih, anaknya, dia jajar (calon) juga. Terus Mbok Panut, anaknya Mbah Maridjan yang buka warung. Dia abdi dalem yang gelarnya Boga (makanan) Utomo. Tapi yang jajar dari anaknya cuma Asih.

Perempuan bisa menjadi kuncen?

Selama ini belum ada. Tapi yang namanya juru kunci itu kan enggak ada gender. Tapi kemampuan fisik bagaimana? Beberapa anaknya Maridjan kan abdi dalem yang sering membantu proses pelaksanaan labuhan.

Bagaimana Anda meneliti di sana?

Saya sembilan bulan di sana pada 1984-1985. Saya tidak di satu desa. (Nama) Korijoyo itu (sebenarnya) Kinahrejo, Kawastu itu Turgo, Ditalanganselo adalah Wukirsari. Itu saya buat bahwa utara itu indah. Korijoyo itu adalah pintu gerbangnya Keraton Merapi. Biasa, (itu kebiasaan) antropolog memberi nama.

BIODATA

NAMA: Lucas Sasongko Triyoga

KELAHIRAN: Yogyakarta, 21 Oktober 1960

ANAK: Gabrielle Gendis Paramaputri, Gracia Candya Paramaputri

PEKERJAAN: Penulis lepas, konsultan periklanan

PENDIDIKAN:

     

  • SD Materdei Yogyakarta
  • SMP Pangudi Luhur Yogyakarta
  • SMA Kolese John de Britto, Yogyakarta (lulus 1979)
  • Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1980-1987)
  •  

KARIER:

     

  • Wartawan di majalah Kebudayaan Umum BASIS
  • Asisten Michael R. Dove, PhD, pada Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UGM
  • Project Officer USC-Canada
  • Pimpinan Produksi Studio Desain dan Komunikasi untuk Pembangunan Masyarakat Driya Media Bandung
  • Wartawan Jakarta-Jakarta
  •  

BUKU:

  • Manusia Jawa dan Gunung Merapi: Persepsi dan Kepercayaannya
    diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press 1991 dan Grasindo Desember 2010

  • Julukan Damar dari Mbah Maridjan

    Selama sembilan bulan, Lucas Sasongko Triyoga menggeluti kehidupan masyarakat Lereng Merapi pada 26 tahun lalu. Saat itu, ia melakukan penelitian untuk penulisan skripsi di Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alasan memilih topik itu, “Belum ada yang menulis tentang aspek sosial-budaya warga Merapi,” katanya Rabu lalu. Selama ini Merapi hanya diulas dari sisi vulkanologi dan geologi.

    Lucas tak sekadar datang sesekali, lalu meneliti perilaku dan kebudayaan mereka. Ia menetap untuk meresapi cara pandang masyarakat Merapi di setiap desa. “Semua dusun di lereng Merapi saya datangi,” ujarnya.

    Interaksi yang dekat ini membuatnya kerap dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan desa, seperti upacara selamatan dan labuhan ke puncak Merapi bersama Mbah Maridjan. Bahkan Lucas harus rela tidur dekat dengan sapi saat numpang tidur di salah satu warga. Bukan tidak ada tempat tidur, tapi sapi merupakan penanda status sosial. Ini membuat sebagian warga melindungi ternaknya itu dengan membawa masuk ke rumah.

    Sosok Lucas juga dijadikan bahan pertimbangan, bahkan menjadi juru bicara warga desa ketika wilayah itu didatangi petugas transmigrasi yang mengajak bermigrasi ke luar Jawa. Saking dekatnya Lucas dengan warga Merapi, Mbah Maridjan memberi julukan “damar” kepadanya, yang berarti sinar rembulan. “Saya dianggap nguri-nguri (memelihara dan melestarikan) leluhur,” katanya.

    Berkat kegigihannya, hasil penelitian yang didanai dosen pembimbingnya, Michael R. Dove, itu berbuah skripsi yang apik. Skripsinya ini terpilih dibukukan dengan judul Manusia Jawa dan Gunung Merapi: Persepsi dan Kepercayaannya yang diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press pada 1991. “Mungkin skripsi saya satu-satunya yang diterbitkan menjadi buku,” katanya

    Sumber:

    http://www.korantempo.com

    Advertisements
    Categories: Berita Merapi
    1. No comments yet.
    1. No trackbacks yet.

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: