Home > Kisah > Sekolah Hidup di Lereng Merapi

Sekolah Hidup di Lereng Merapi

Sekolah Hidup di Lereng Merapi
oleh Harum Sekartaji

kelas bersyukur

“penak kok mbak ning kene. nek mbengi yo anget. ora popo…sing penting sehat, donga dinonga nggih.” sebait ucapan simbah itu kira-kira mengalir demikian, sambil merangkul bahu saya dengan erat. keikhlasan dan kesederhaan. hanya itu yang terlintas ketika mendengar tuturnya. bagaimana tidak? ruang kelas di lereng dingin merapi yang disulap menjadi kamar tidur bersama itu hanya beralas tikar. tetap, beliau mensyukurinya dengan mengatakan sebagai ‘tempat yang enak dan hangat’.

muntilan, sept 2009

kelas kerendahan hati

“kulo mboten gadhah arto mbak”, kata seorang ibu yang sedang menggendong anaknya ketika teman saya berbagi sebungkus biskuit. sang teman bingung. tapi tiba-tiba tersadar dan menjawab “ini untuk si adik bu, saya gak jual kok”. yup, dalam kondisi cukup kekurangan di pengungsian, hidup berdesakan di gedung sekolah, ibu itu tetaplah seorang warga lereng merapi yang rendah hati dan tahu diri bahwa ia harus berusaha sebelum mendapatkan sesuatu, bukan sekadar menerima pemberian orang.

selo, sept 2009

kelas kesopanan

seorang anak lelaki dengan asiknya menyusun kepingan-kepingan lego yang saya bagikan menjadi sebuah mobil mungil. dengan wajah berbinar si anak memainkan mobil buatannya seakan lantai dingin balai desa itu adalah jalan raya yang mulus. “breemmm bremmm ciiiit”, kata-kata ajaib keluar dari mulutnya. puas bermain, dia melepas mobil dan hasil karya lain menjadi kepingan lego kembali. memasukkannya ke dalam plastik, dan berlari ke arah saya: “mbak niki mbak…mpun rampung dolanan.” anak sekecil itu, tahu bahwa apa yang bukan miliknya harus dikembalikan. wajahnya kembali bersinar ketika saya katakan bahwa semua mainan yang kami bawa itu tidak akan kami bawa kembali pulang.

kelas kejujuran

“oke…ketua kelompok tolong membagi bukunya dengan adil ya. satu orang dapat dua,” kata teman saya kepada anak-anak dalam sebuah acara bermain bersama di sebuah posko di muntilan. tak lama anak perempuan itu maju membawa satu buku dan menyerahkannya. “lho ini kenapa dik?”, tanya teman saya. “sisa satu mbak, saya kembalikan.” yup, sisa satu buku itu bisa saja dia simpan sendiri. tapi tidak, dia tahu bahwa kejujuran lebih penting.

selo, sept 2009

kelas ‘njawani’

“yo nek wong sing ora paham kearifan lokal ning kene ki pancen rodo angel nrimo artine loyalitas lan spiritualitas versi jowo. ora ono hubungane ro mistik2an, ning iki masalah prinsip. makane ha mbok awakmu kerjo karo londo2 kae yo ojo nganti lali tetep kudu njawani.” yang terakhir ini adalah ucapan ibu saya. selalu mengingatkan untuk tidak lupa ‘kembali’ menginjak tanah di mana saya dilahirkan, walaupun kaki sudah melangkah ke seribu tanah lainnya 🙂

tepat sebulan sudah. semoga jogja tetap berhati nyaman.

semoga merapi tetap hidup di hati kita – terutama bagi ‘anak-anak kampung ‘ seperti saya yang tumbuh bersamanya.

jakarta, 27 november 2010

Sumber: Harum Sekartaji

Advertisements
Categories: Kisah
  1. November 27, 2010 at 10:44 pm

    apik tenan iki.

  2. bambang unto
    November 27, 2010 at 11:02 pm

    hebat…tembus kedasar..!!

  3. wisnu
    November 28, 2010 at 12:28 am

    sungguh kisah nyata yg sangat menarik dan bernilai. patut untuk direfleksikan pada setiap pribadi kita.

  4. anthony
    November 28, 2010 at 7:30 am

    bikin sesak nafas, terharu …

  5. November 28, 2010 at 8:16 am

    aku jadi terharu dan tambah rindu pingin pulang ke lereng Merapi….aku tinggal di luar jawa…hal2 tsb di atas tidak aku temukan di t4ku sekarang….luar biasa…..Pesan orang jawa supaya tetap njawani juga disampaikan oleh HB VIII ke HB IX yang akan sekolah ke negri belanda saat itu…trims

  6. doekoen
    November 28, 2010 at 9:18 am

    jos gandos, tekan jroning ati……
    marai nangis kelingan sing wes2…

  7. joe
    November 28, 2010 at 10:30 am

    sederhana dan indah.. lagi dong mbak..

  8. November 28, 2010 at 10:52 am

    nuwun mas komo, di-share di sini 🙂

    • November 28, 2010 at 11:59 am

      sami-sami RUm.. ditunggu tulisan2 berikutnya …
      kalau bukan kita siapa yang mau nulis Rum?

  9. November 28, 2010 at 11:29 am

    sangat menyentuh…. trimakasih untuk utk tulisan indah ini… local wisdom sudah diajarkan pada kita turun temurun sejak dulu… sayangnya, mulai terkikis budaya global…. yok.. kita kembali kepada tradisi lokal.. yang bagaimanapun rumitnya, adalah wujud karakter dan jati diri bangsa kita..

    • November 28, 2010 at 12:00 pm

      Betul Bu,
      ada kearifan2 yang kini mulai ditinggalkan, tergerus oleh materliasmme dan modernisasi. Mungkin menjadikan kewajiban kita agar kearifan-kearifan itu tetap terjaga dan terwariskan ke generasi2 berikutnya.

  10. bejo
    November 28, 2010 at 12:05 pm

    hmmm,simple dan sederhana tp sangat menyentuh hati… :’)

  11. indriastuti
    November 28, 2010 at 1:15 pm

    sebuah pelajaran yang sangat berharga & kini hampir tidak pernah kita dapatkan dlm kehidupan di kota-kota besar,, kearifan lokal seperti itu patut menjadi pedoman hidup…

  12. tyas
    November 28, 2010 at 6:18 pm

    Mba,terima kasih buat tulisan yg indah itu..
    Saya makin terpacu untuk pulang meninggalkan ibukota yg makin lama makin jauh dr nilai2 seperti itu..
    Moga2 saya bisa mendidik anak saya dg nilai2 jawa itu..

  13. Abdul Choliq
    November 28, 2010 at 6:53 pm

    Narimo ing pandum,….dengan tetap berproses mengikuti Sunatullah,…..

  14. badai
    November 28, 2010 at 9:59 pm

    So touching…
    Kesederhanaan,kesahajaan dan kearifan ternyata tetap menjadi guru yg terbaik sepanjang peradaban manusia. Dan kesemuanya itu muncul dalam setiap penggal kisah diatas…

  15. Firda
    November 28, 2010 at 10:06 pm

    Benar2 memberikan pelajaran n’ sangat inspiratif… patut ditiru. orang2 ini sangat luar biasa!

  16. duajempol
    November 29, 2010 at 12:26 am

    mantep tenan iki wejangan kisahe.. inspiratif banget.. semoga bisa ditiru oleh kita semua, terutama petinggi-petinggi negara.

  17. aldi
    November 29, 2010 at 7:34 am

    Thanks atas sharingnya, sebuah deskripsi yang sangat menarik 🙂

  18. November 29, 2010 at 10:12 am

    sangad indah rangkaian kata2 itu membuat inspirasi baru dalam memandang hidup…
    nice kakak

  19. Humanity
    November 29, 2010 at 1:59 pm

    seperti inilah Indonesia yang aku banggakan 🙂

  20. koko
    November 29, 2010 at 10:56 pm

    top…….

  21. AJi
    November 30, 2010 at 12:18 pm

    fiuuh.. harum berhasil menangkap yang terlepas dari pandangan khalayak lain.. makash udah sharing ilmu njawani nya ya.. kalau udah masuk kesana emang pengennya segera balik lagi..

    • November 30, 2010 at 8:26 pm

      sakjane keh banget Ji :-). ini cuma sebagian kecil yg bisa aku tulis.
      yg paling mengharukan…moso yo, setelah kami bikin acara trauma healing utk anak2 di muntilan, tiba2 ujan deres bngt. kami pun disuguhin teh anget manis sambil ngobrol akrab nunggu ujan reda 🙂

      • November 30, 2010 at 8:50 pm

        ayo Rum tulis semua.. nanti tak posting di sini.. kalau dah banyak bikin buku 😀

  22. alma
    December 1, 2010 at 12:15 am

    hiks… terharu 😥

  23. Joe
    December 2, 2010 at 12:02 pm

    Kelingan omahku..:(

  24. December 9, 2010 at 10:12 am

    speechless…
    mas tomo, mbak harum, saya share ya.

  25. INDRA
    December 9, 2010 at 7:24 pm

    hem menajupkan ,sederhana tapi bawa makna

  26. August 16, 2011 at 2:42 pm

    terharu…:(

  1. November 27, 2010 at 11:33 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: