Home > Kisah > Kisah-kisah yang Tercecer dari Merapi

Kisah-kisah yang Tercecer dari Merapi

Kisah-kisah yang Tercecer

oleh: Nawa M

Prolog

KISAH-KISAH YANG TERCECER
Prolog
Dua kisah ini merupakan cerita yang tercecer dari banyak kisah yang menceritakan evakuasi warga yang bermukim di sekitar Kantor Kecamatan Cangkringan Sleman. Seperti kita ketahui bersama, jika sekitar 5 dusun yang berada di sebelah utara dan timur Kantor Kecamatan Cangkringan luluh lantak akibat material lahar panas yang dimuntahkan Gunung Merapi ke Kali Gendol tanggal 5 November 2010 dini hari. Kisah ini tidak hendak menceritakan kepahlawanan para relawan dan anggota Tim SAR, namun lebih bertujuan untuk memperluas wawasan kita bahwa proses evakuasi tidak semudah yang dibayangkan oleh banyak orang. Oleh karena itu, para relawan dan anggota Tim SAR yang disebutkan dalam kisah ini, identitasnya disamarkan. Penyamaran tersebut juga atas permintaan para relawan dan anggota Tim SAR kepada penulis, agar nilai ibadah mereka tidak terkurangi pahalanya karena riya’. Penulis hanya menyajikan ulang, sesuai dengan apa penuturan dan catatan para relawan dan anggota Tim SAR kepada penulis. Adapun kekurangan dalam penulisan ulang ini, penulis memohon maaf.

Kisah Rumah Tanah Sepetak

Brakk!! Seketika pintu depan sebuah rumah terbuka karena didorong tangan yang terkesan terburu-buru. “Bapak, panjenengan saweg nopo?” tanya Mawar 1, selaku Komandan SRU (Search and Rescue Unit) Mawar yang diberi tugas untuk melakukan penyisiran di Dusun Desan Argomulyo Kecamatan Cangkringan Sleman. Bapak yang empunya rumah dengan sedikit terkaget menjawab “Ajeng dhahar Mas. Monggo pinarak”, sambil membawa sepiring nasi yang masih mengepul. Mawar 1 tersentak dengan jawaban tersebut. “Mboten, sampun, maturnuwun. Sak meniko njenengan kedah nderek kulo, monggo mandhap sarengan. Kedah sak meniko” timpal Mawar 1 dengan nada sedikit “memerintah”. “Lha wonten menopo? Kok kulo kedah mandhap. Kulo niki ajeng sarapan” jawab si Bapak. “Lho pripun toh. Lahar Merapi niku sampun dugi wonten wingking griyane njenengan. Monggo! Gek cekat-ceket!” sahut Mawar 1 mulai tidak sabar. “Nggih pun. Kulo tak nderek njenengan. Sri…Sri..ayo gek ndang ndene. Iki lahar-e wes tekan mburi omah” teriak si Bapak memanggil anaknya. Sejurus kemudian seorang perempuan yang lebih muda keluar dari ruangan lainnya dengan muka kebingungan. “Ono opo Pak?” tanya si Sri. “Awake dewe dijak medhun karo bapake iki. Ayo cepet” jawab si Bapak. “Yo, kosik. Tak njupuk salin” sahut si Sri. “Ra sah nggowo salin. Ayo gek ndang” sergah si Bapak. Saat yang bersamaan Mawar 2 masuk ke rumah tersebut. “Bagaimana Mas?” tanya Mawar 2 kepada Mawar 1. Mawar 1 pun menyahut “Bantu si Sri agar cepat berkemas!”. “Ya!” jawab Mawar 2 seraya berlari mengejar si Sri. Karena melihat kepulan asap, Mawar 1 segera bergerak mendekat ke sumber asap. Ternyata sumber asap berasal dari sebuah tungku yang masih memasak sayur yang sedang mendidih. Dengan topi rimbanya yang dilipat, Mawar 1 menurunkan wajan tempat memasak sayur tersebut, dan kemudian menumpahkan isinya ke dalam tungku agar api padam.

Mawar 1 kemudian bergerak ke ruang depan. Sesaat Mawar 1 sempat memperhatikan seisi rumah tersebut. Rumah yang sangat sederhana. Berlantai tanah dan berdindingkan anyaman bambu. Perhatian Mawar 1 terhenti pada sebuah televisi ukuran kecil ketika si Sri datang dengan berlari dari kamarnya dan diikuti oleh Mawar 2. Ketika menoleh keluar pintu, ternyata si Bapak sudah di depan rumah sambil berkomat-kamit berdo’a. “Ayo! Jangan terlalu lama! Cepet!” teriak Mawar 1 kepada Mawar 2. Mawar 1, Mawar 2 berserta 2 warga tersebut setengah berlari keluar rumah dan menuju jalan dusun. Dari arah lain Mawar 3 juga dengan berjalan tergesa bersama seorang laki-laki yang berusia sekitar 45-an tahun. “Mawar 2 dan Mawar 3, segera bawa warga ke titik penjemputan!” perintah Mawar 1. “Yak!” jawab Mawar 2 dan Mawar 3 serentak. Kelima orang tersebut segera menyusuri jalan dusun dengan berlari. Dari arah lain Mawar 4 dan Mawar 5 keluar dari sebuah rumah bersama dua orang yang sudah tua, laki-laki dan perempuan. Mawar 1 sempat menengok ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang masih tertinggal di belakang. Pandangannya terhenti pada rumah si Bapak dan si Sri. Rumah yang hanya terbagi menjadi ruang tamu sekaligus ruang keluarga, ruang tidur, dan dapur, berdindingkan anyaman bambu dan berlantai tanah. Rumah tersebut terletak tidak lebih dari 75 meter dari tepi barat Kali Gendol yang sudah penuh dengan lahar panas. Sungguh Tuhan memberkahi kedua orang penghuni rumah dengan menghindarkannya dari muntahan lahar panas. Padahal rumah tetangganya yang berada sekitar 50 meter di bawahnya dan lebih jauh dari tepi barat Kali Gendol sudah terkubur separuh bangunan. Sungguh Tuhan Maha Kuasa.

***
“Mawar 1. Mawar 1 monitor?” panggi radio handy talkie. “Monitor” jawab Mawar1. “Posko di sini. Posisi di mana Mawar 1?” tanya operator di Posko. “Sedang meluncur!” sahut Mawar1 sambil berlari mengejar rombongan di depan. “Segera turun! Aktivitas meningkat! Segera turun!” perintah Posko. “Siap. SRU Mawar sudah meluncur dengan membawa paket sebanyak 5 orang. Dua orang manula!” terang Mawar 1. “Oke! Segera kami luncurkan ambulans untuk menjemput!” balas Posko. “Untuk ambulan tahan dulu. Kondisi masih memungkinkan untuk berlari. Mobil penjemput harus siap meluncur” sahut Mawar 1 dengan tetap berlari. Setelah berlari sekitar 500 meter dan menyusul rombongan SRU Mawar beserta kelima warga, Mawar 1 sampai di mobil penjemput dan Tim Mobile yang sedang menunggu di jalan tepi besar. “Tim Mobile mlebu, terus ambil warga sing mburi dewe. Manula dan perempuan!” pinta Mawar 1 kepada Tim Mobile 1 yang menggunakan sepeda motor trail. Tim Mobile 1 tanpa berkata-kata langsung meluncur menyusuri jalan exit point. Sekitar 30 detik kemudian rombongan SRU Mawar dan 4 orang warga sudah kelihatan. Tak berapa lama kemudian Tim Mobile 1 menyusul dengan memboncengkan seorang nenek. Semua warga tersebut dan 4 orang anggota SRU Mawar segera naik ke mobil penjemput. “Ayo! Cepat jalan!” teriak Mawar 1. Mawar 1 segera melompat ke jok motor trail Tim Mobile 1 dan meluncur menyusul mobil yang sudah melaju kencang ke bawah, menuju Titik Aman 1, yaitu di depan Kantor Kecamatan Cangkringan.

Dalam perjalanan turun tersebut, Mawar 1 teringat rumah tanah sepetak yang berlantai tanah tadi. Teringat bahwa pintu depan rumah tersebut tidak terkunci ketika ditinggalkan. Teringat bahwa satu-satunya benda yang layak dicuri dari rumah tersebut adalah sebuah televisi ukuran 14 inchi. Terhenyak Mawar 1. Menyesal. Dirinya merasa bahwa dia telah lupa mengunci pintu depan, sehingga memungkinkan pencuri untuk mengambil harta paling berharga di rumah itu. Mawar 1 pun menggerutu, memarahi dirinya sendiri karena kelalaian yang bisa merugikan orang lain. Bahkan setelah sampai di Titik Aman 1, dirinya masih belum bisa menerima “kesalahan” yang telah diperbuatnya. Setelah itu, dirinya hanya bisa berdo’a agar Tuhan menjaga rumah tersebut dari pencuri, seperti Tuhan “membelokkan” muntahan lahar panas agar tidak menghantam rumah tersebut, rumah tanah sepetak. Amiin.

Kisah Kesetiaan Si Penunggu Cucu
Jam menunjukkan sekitar jam 05.45, dengan cuaca agak mendung dan sudah banyak orang yang berkumpul di depan Kantor Kecamatan Cangkringan. Tiga SRU sudah diberangkatkan untuk menyisir Dusun Bronggang, Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan yang terletak sekitar 200 meter hingga 400 meter di sebelah barat Kali Gendol. SRU Merah dengan kekuatan 10 orang menyusur dari sisi timur dusun, SRU Hijau dengan kekuatan 8 orang dan SRU Biru dengan kekuatan 10 orang menyusur dari sisi barat. Skenarionya adalah SRU Merah dan SRU Hijau melakukan penyisiran dan marking rumah warga dusun yang terdapat korban meninggal di dusun tersebut, sedangkan SRU Biru difungsikan sebagai back up untuk SRU Merah dan SRU Hijau. Pelaksanaan evakuasi akan dilaksanakan oleh TNI dan relawan lainnya. Sekitar 45 menit kemudian ketiga SRU tersebut bertemu di tengah dusun. Setelah ketiga komandan SRU berkoordinasi diputuskan bahwa ketiga SRU ditarik dahulu ke Titik Aman 1, yaitu di depan Kantor Kecamatan Cangkringan. Sesaat kemudian, seluruh anggota ketiga SRU tersebut diperitahkan untuk bergerak cepat menuju Titik Aman 1 yang berjarak sekitar 400 meter di bawah titik pertemuan. Belum lama berjalan, tiba-tiba terdengar panggilan “Mas…Mas…tulung Mas!”. Semua anggota SRU serentak menoleh ke belakang. Biru 1, selaku komandan SRU Biru, segera mendekat ke orang tersebut, yang ternyata seorang pemuda. “Gimana Mas? Ada apa Mas?” tanya Biru 1.
“Tulung Mas. Sejak semalam Mbah Marto belum ditemukan. Kata keluarganya semalam berada di kebon” jawab pemuda tersebut. “Njenengan sinten-e? Kebon sebelah pundi Mas?” cecar Biru 2. “Kulo tonggo-ne. Kilen ndesa” sahut pemuda. “Kamu, kamu dan kamu, ikut saya” tunjuk Biru 1 kepada Biru 2, Biru 3 dan Biru 4. “Mas, njenengan nderek kula. Duduhne letak-e kebon niku!” pinta Biru 1 kepada pemuda desa tersebut. “Anggota SRU Biru lainnya bergabung dengan SRU Merah dan segera turun ke Titik Aman 1” lanjut Biru. Empat orang SRU Biru segera berlari mengikuti pemuda desa tersebut.

Tak berapa lama kemudian, kelima orang tersebut sudah sampai di pinggir pemukiman. Setelah melewati sebuah sungai kecil, rombongan tersebut sampai di tepi sebuah persawahan. Yang mengagetkan adalah di depan rombongan terhampar lahar dingin yang masih mengepulkan asap. “Mas, kebon-e neng sebelah ngendi?” tanya Biru 1 kepada pemuda desa. “Kulon sawah niki Mas” jawab pemuda desa. “Weh lhadalah!” celetuk Biru 3. “Mas, njenengan balik mawon. Simbah-e ben digoleki konco-konco” kata Biru 1. Pemuda desa tersebut kemudian balik kanan, menyusuri jalan tadi. Segera Biru 1 memerintahkan Biru 3 untuk mencari jalan alternatif menuju kebon yang dimaksud. “Biru 3, cari jalan. Melambung dari bawah!” perintah Biru 1. Biru 3 segera berlari menyusuri pematang sawah, dan diikuti tiga orang lainnya. Tak berapa lama, terlihat atap gubuk. Biru 2 yang berada di belakang Biru 1 beteriak, “Mbah… Mbah Marto… Mbah…!”. Biru 3 juga ikut berteriak memanggil. Lamat-lamat terdengar sahutan.

Mbah Marto tampak sedang berdiri ketika keempat orang SRU Biru muncul berurutan. Tidak nampak ketakutan atau kepanikan di raut wajahnya yang berusia sekitar 70-an tahun. Setelah empat orang SRU Biru sampai di hadapannya, Mbah Marto duduk kembali. Di sampingnya terdapat sebuah buntalan deklit warna oranye. “Nggo Mbah…nderek kulo. Mandhap sarengan!” kata Biru 3. “Ajeng tindak pundi?” tanya Mbah Marto dengan muka lugu. “Tindak Bale Desa, Mbah” sergah Biru 1. “Kulo mboten purun!” jawab Mbah Marto. “Lha kok mboten purun piye toh Mbah?” tanya Biru 2. “Kulo niki ngenteni putu kulo” jawab Mbah Marto dengan tenang. “Putu-ne njenengan mpun mandhap wau dhalu. Sak niki mpun wonten Bale Desa” timpal Biru 1. “Mboten. Pokok-men kulo ngenteni putu kulo. Nak mboten karo putu kulo, kulo mboten purun!” tegas Mbah Marto. Debat antara anggota SRU Biru dengan Mbah Marto pun tak terhindarkan. Bahkan Mbah Marto sempat menceritakan proses datangnya lahar panas yang menimbun persawahan dan kebun yang berada di depannya. Menurutnya, beberapa saat sebelum kedatangan anggota SRU Biru, lahar panas tersebut masih membara. Sungguh sebuah keajaiban dari Tuhan. Mbah Marto yang duduk semalaman terhindar dari lahar panas yang hanya berjarak sekitar 70 meter dari gubuknya!

Setelah beberapa saat, Mbah Marto bersedia turun bersama Biru 3 dan Biru 4. Biru 1 mengambil alih pesawat HT dan memanggil Posko, “Posko, Biru 1 panggil”. “Diterima Posko. SRU Biru segera turun. Harus segera turun!” perintah Posko. “Di-copy Posko. SRU Biru meluncur ke Titik Aman 1” jawab Biru 1 sambil berlari di belakang Biru 2 yang membawa bungkusan milik Mbah Marto. Sekitar 100 meter kemudian, tiba-tiba Posko memanggil, “Biru 1. Biru 1 segera turun! Segera turun! Awan panas meluncur ke arah Kali Gendol. Segera turun!”. Tanpa menjawab Biru 1 dan Biru 2 berlari sekencang mungkin menuju Titik Aman 1, yang ternyata masih berjarak lebih dari 300 meter. Tak lama kemudian terlihat kendaraan Posko, yang ternyata merupakan mobil terakhir yang berada di Titik Aman 1. Komandan Operasi berteriak-teriak memanggil Biru 1 dan Biru 2 untuk berlari cepat.

Biru 2 masih berlari di depan Biru 1. Sejurus kemudian Biru 2 berteriak, “Biru 1 lompati saja pagar itu!”. Seketika Biru 1 menoleh ke sebelah kanan dan melihat Biru 2 sudah melempar bungkusannya Mbah Marto ke sisi lain pagar setinggi 1,5 meter. Biru 2 melompat dengan sigap. Biru 1 sempat ragu untuk melompat, karena di antara dirinya dan pagar terdapat selokan selebar setengah meter. Bermodal nekad, Biru 1 melompat pagar tersebut dan berhasil walau mendarat dengan tidak sempurna. Biru 2 sudah berada di atas motornya dalam kondisi mesin menyala. Biru 1 kemudian menghidupkan mesin motor. Gagal hidup. Panik sudah menyergap. Terdengar Komandan Operasi beteriak, “Biru 1 jangan kelamaan. Cepat” dari mobil yang sudah bergerak turun. Biru 1 mencoba lagi. Berhasil. Motor segera meluncur turun hingga 2 kilometer di bawah Titik Aman 1. Biru 2 sudah menunggu kedatangan Biru 1. Sesampainya di samping Biru 2, Biru 1 bertanya “Bungkusane tadi mana?”. Biru 2 hanya menggeleng. Bersamaan Biru 1 dan Biru 2 memutuskan untuk menuju ke Posko Statis yang berjarak 2,5 kilometer di depan. Sepanjang perjalanan, Biru 1 hanya bisa membayangkan kesulitan dan kesesuahan yang akan dialami Mbah Marto karena tidak membawa bekal apapun kecuali pakaian yang melekat di badan. Pun Biru 1 juga merasa bersalah telah “menipu” Mbah Marto tentang keberadaan cucunya. Biru 1 hanya bisa bicara dengan dirinya sendiri, “Maafkan kami Mbah. Semoga Simbah bertemu dengan cucu tercinta”.

Epilog
Dua kisah di atas hanyalah sekelumit dari sekian banyak kisah yang belum terekspos di berbagai media. Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari kisah-kisah di atas. Kita bisa belajar bersama tentang kompleksitas warga dusun di daerah rawan bencana, kemauan (dan sedikit kenekadan) para Tim Evakuasi, pengambilan keputusan yang tepat dan sekaligus berpacu dengan waktu, ketidakhadiran pemerintah di saat sebagian warga masyarakat membutuhkan pertolongan, dan tentunya sisi humanis dalam proses evakuasi. Dari informasi yang didapat penulis, bahwa sebagian besar anggota Tim Evakuasi menggunakan biaya sendiri untuk bisa terlibat di lapangan, melaksanakan tugas dengan baik dan tanggung jawab yang tidak bisa diremehkan, dan tidak meninggalkan pendekatan humanis selama proses evakuasi. Bahkan ada sebagian anggota Tim Evakuasi yang bersedia menceritakan kisahnya namun tidak bersedia namanya dipublikasikan oleh media.

Dari banyak hal tersebut, menunjukkan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya lumpuh ketika menghadapi krisis Gunung Merapi bahkan mampu mengambil fungsi yang gagal dilaksanakan oleh pemerintah. Meminjam istilah seorang teman, segenap masyarakat mampu melaksanakan “self governance” dalam hal evakuasi masyarakat di lereng selatan Gunung Merapi. Bagi penulis, kisah-kisah ini bisa menjadi pukulan yang cukup telak bagi pemerintah dikarenaka tindakan-tindakan yang diimplementasikan tidak sebanding dengan dukungan dana, sarana dan prasarana yang dimiliki. Lebih ironisnya, semua dukungan tersebut menggunakan dana yang berasal dari masyarakat. Ke depan, pelajaran yang telah dibagikan oleh para anggota Tim Evakuasi ini bisa memperkuat wawasan bagi kita dalam merespon dengan lebih arif terhadap kondisi yang dialami oleh masyarakat. Semoga.

(Terimakasih untuk seluruh anggota Tim Evakuasi yang telah berkerja dengan sangat baik di lapangan, dan mohon maaf atas ketidakcermatan saya dalam menceritakan ataupun menuliskan kembali kisah yang anda alami.)

Badhak, Asep, dkk

Advertisements
Categories: Kisah
  1. aji
    November 25, 2010 at 1:09 pm

    waooow. benarbenar luar biasa..
    harus ada langkah yang pasti untuk menjaga merapi dan warganya.

    salut untuk relawan..
    makasih Kang Badhak yang udah sahre tulisan ini…

  2. November 25, 2010 at 1:31 pm

    Terharu… Kisah kepahlawanan relawan, kesetiaan dan polosnya warga lereng merapi.
    Semoga Allah membalas keikhlasan relawan dgn surga nantinya.

    Kalo boleh usul, dialog dlm bahasa jawanya mohon diberi terjemahan bahasa indonesia ya, agar kisahnya bs dipahami pembaca dr luar jawa juga 🙂

    • November 29, 2010 at 3:40 pm

      Oke mBak.. nanti saya terjemahkan …

  3. sora
    November 25, 2010 at 1:31 pm

    Umm… Ad yg versi bahasa indonesia mas? Saya ga bgitu ngerti boso jowo..

  4. ika palupi
    November 25, 2010 at 2:01 pm

    Ya allah….sungguh hebat pahlawan2 SAR itu,..smg mjd amal ibadah baginya..amin3xYRA

  5. copett
    November 25, 2010 at 3:36 pm

    Gusti mboten sare…… Tuhan bersama orang orang pemberani!

  6. November 25, 2010 at 6:16 pm

    terharu aku membacanya, sedih campur gembira.Merasa sedih karena membayangkan betapa berat kerja para relawan, gembira karena mereka bisa dievakuasi. Hanya Allah yang bisa membalaskan kebaikan anda semua, smoga Allah membalas dengan pahala yang seimbang….untuk penulis daripada menjelekkan pemerintah lebih baik kita pikirkan bila terjadi bencana lagi, entah itu gunung meletus, gempa maupu tsunami…mungkin perlu ada dompet tabungan bencana nasional….

  7. diksi
    November 26, 2010 at 12:06 am

    Merinding bacanya..
    Luar biasa.

  8. Ady
    November 26, 2010 at 8:56 am

    Wah luar biasa, banyak pahlawan tanpa tanda jasa selama proses erupsi Merapi.
    Semoga Tuhan memberkati mereka atas taruhan nyawa yang sudah dilakukan.
    Salut!

  9. Sigit
    November 26, 2010 at 9:20 am

    Kembeng-kembeng aku bacanya. Allah lah yg akan membalas jasa teman-teman relawan semuanya. Amin ya robbal alamin.

  10. yokosukoyok
    November 26, 2010 at 10:41 am

    hanya keikhlapSan dan berbuat yg trbaik utk org lain,tanpa menghrp imbalan apapun.bahkan ap yg dmilikipun akan dberikan spenuh hati.
    trimakasih para relawan dan trimakasih kepada slruh masyarakat.. salam persahabtn.trmksh jg penulis yg telah mengangkt kisah kecil namu brmakna besar dan super.

  11. yokosukoyok
    November 26, 2010 at 10:42 am

    hanya keikhlapSan dan berbuat yg trbaik utk org lain,tanpa menghrp imbalan apapun.bahkan ap yg dmilikipun akan dberikan spenuh hati.
    trimakasih para relawan dan trimakasih kepada slruh masyarakat.. salam persahabtn.trmksh jg penulis yg telah mengangkt kisah kecil namun brmakna besar dan super.

  12. Liliana
    November 26, 2010 at 1:25 pm

    Sungguh salut dengan keberanian dan ketulusan para relawan.
    Ketika semua orang harus menyelamatkan diri masing-masing, merekalah yang mengorbankan diri untuk menyelamatkan orang lain.
    Tidak ada penghargaan apapun yang bisa menyamai tindakan heroik mereka…

  13. hadi
    November 26, 2010 at 1:41 pm

    kok nama samarannya “MAWAR” to, ga ada nama yg lebih macho dan heroik gtu. Biasanya nama samaran “MAWAR” untuk korban (maaf) pelecehan…

  14. Mbah Cokro
    November 26, 2010 at 1:51 pm

    Semoga kisah tadi menjadi/menambah kepedulian kepada sesama. Bukan menjelekkan pemerintah tapi mengingatkan agar kedepan (mungkin ratusan tahun lagi kalau Merapi njeblug)pemerintahlah yang paling didepan.

  15. wahyu am
    November 26, 2010 at 2:02 pm

    terharu baca kisah2nya 😦

  16. Jaka
    November 26, 2010 at 2:46 pm

    Sungguh perjuangan2 mereka akan dicatat sbg kebaikan dan pasti Allah akan mengganjarnya. Mudah2an keikhlasan mereka, mjd inspirasi bg kita–pembaca– utk senantiasa menebar dan ‘berjuang’ dlm kebaikan.

    #saran: agar lebih ramah mata dan interpretasi faktual yg positif dan sdh mjd rujukan umum serta terdengar kesan ‘gagah’, nama tokoh lelaki disebut “jaka” (dr kata jajaka). Krn kalau nama “mawar”, konotasi dan ‘pikiran umum’ kita merujuk kepada seorang perempuan/ wanita.

  17. Meneer Tutut
    November 26, 2010 at 3:25 pm

    pengalaman baru utk kita semua, bahwa area di aliran lahar dingin juga berbahaya di samping area di dekat gunung itu sendiri. utk relawan, mungkin bisa di kumpulkan pengalamannya biar berguna utk relawan di tempat lain, misal alat yg harus di siapkan dll

  18. November 26, 2010 at 7:36 pm

    subhanallaah!
    smoga kita bisa belajar dari kepolosan warga lereng merapi dan keberanian relawan..

  19. November 27, 2010 at 4:40 am

    Luar biasa pengabdian para relawan , mereka ibarat para martir yang rela berkorban , berjihad mempertaruhkan jiwanya demi orang lain yang sedang terancam kematian tanpa memperhatikan dirinya sendiri. Mereka pahlawan bencana yang layak mendapatkan penghargaan tinggi dari pemerintah

  20. irma padeta
    November 27, 2010 at 2:49 pm

    superhero..
    kalian memang the best…

  21. November 27, 2010 at 6:43 pm

    aku hanya bisa banyak berdoa saja
    sudah ngumpulin duit dari teman-teman,
    tapi yang mau ditolong juga banyaaak banget

    semua pasti ada hikmahnya
    amin

    salam sehati

  22. sulis
    November 27, 2010 at 7:08 pm

    memang segala sesuatu itu tidak bisa disepelekan, rekan2 yang berjuang dengan sepenuh hati saya yakin tak berpikir penghargaan tapi sebetulnya layak dapat penghargaan. Paling tidak mereka jadi contoh bagi kita. Apalah yang dapat kita lakukan…

  23. Aditya Kurniawan
    November 27, 2010 at 9:03 pm

    Manteb ni cerita nya, Juragan.

    Menyentuh hati dan menginspirasi untuk senantiasa berbuat baik bagi yang membutuhkan.

  24. Ninis
    November 27, 2010 at 11:07 pm

    sangat menggugah rasa…mengharukan…semoga jasa para relawan terpatri di tangan para Malaikat….Tuhan memberkati para korban dan relawan

  25. November 29, 2010 at 8:50 am

    luar biasa mas komo.tiga jepol buat mas badak yang sudah mengisahkan, mungkin jadi aktor di dalamnya ….

  26. noer hikmah
    November 29, 2010 at 1:06 pm

    Gak mampu berkata2, semua keikhlasan hanya Allah ta’ala yg membalas

  27. gugun
    November 29, 2010 at 3:16 pm

    hmm sungguh terharu dan contoh tauladan dari para relawan..
    btw yg di foto emang mas badhak ya…hmm jadi inget nongkrong bersamanya..
    he h

  28. sml
    November 30, 2010 at 4:08 am

    ijin share masdab..

  29. agus je
    December 20, 2010 at 9:38 pm

    bner2..,hati sya jd mnangis

  30. punpun
    December 21, 2010 at 9:08 am

    Semoga akan bertambah banyak relawan yang tergerak hatinya untuk mau mebantu sesama dalam musibah apapun tanpa meminta bals budi karena semuanya berawal dari naluri dan ke ikhlasan,.. Amin,..

  31. idhast
    December 29, 2010 at 7:18 am

    ijin ngeshare Om…

  32. budi
    December 29, 2010 at 4:42 pm

    salam hormat kepada seluruh relawan..

  33. August 16, 2011 at 11:04 am

    subhanallah hebat,
    terharu

    niscaya Allah SWT membalas jasa-jasa kalian, amin ya allah

  34. November 8, 2012 at 1:38 am

    membaca lagi kisah ini setelah dua tahun berlalu…………ternyata dokumentasi itu penting !

  35. February 1, 2014 at 12:03 pm

    Hormat saya setinggi2nya bagi seluruh relawan Merapi dan keluarganya….

  1. December 28, 2010 at 2:24 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: