Home > Peta > Memetakan Bencana dan Membudayakan Peta

Memetakan Bencana dan Membudayakan Peta

Memetakan Bencana dan Membudayakan Peta
I Made Andi Arsana

Dalam sebuah sambutannya pada acara pameran di Jakarta Convention Center tahun 2006, Dr Kusmayanto Kadiman yang adalah Menteri Riset dan Teknologi ketika itu mengatakan bahwa Indonesia adalah ‘supermarket bencana alam’. Meski disampaikan setengah berkelakar, ucapan ini tidaklah salah.

Di Indonesia, hampir semua jenis bencana alam ada. Apa yang terjadi sebulan terakhir menjadi bukti kebenaran ucapan itu. Sebagian bencana memang bisa dicegah seperti banjir, sebagian lain harus diterima apa adanya, misalnya letusan gunung berapi. Untuk yang terakhir ini, Indonesia konon berada di sebuah cincin api atau ‘ring of fire‘ yang menyimpan berbagai potensi bencana.

Meskipun bencana seperti letusan Gunung Merapi di Jogja-Jateng tidak bisa dicegah, tentu saja itu tidak berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam istilah keilmuan, ada yang disebut mitigasi bencana. Meski tidak dapat dicegah, ada hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak bencana. Istilah yang sering kita dengar adalah kesiapan bencana atau ‘disaster preparedness’.

Ada banyak sekali yang bisa dan harus dilakukan. Yang pertama dan utama tentu adalah kesadaran dan pemahaman yang memadai bahwa potensi bencana itu memang ada di sekitar kita. Yang kedua, meskipun kita percaya bahwa bencana adalah kehendak Yang Kuasa, manusia diberi kemampuan untuk mengantisipasi dan menyelamatkan diri. Di sinilah peran ilmu pengetahuan menjadi penting.

Dari sekian banyak hal yang penting, peta adalah salah satu yang semestinya mendapat sorotan. Menyadari dampak letusan Merapi berupa lahar dan awan panas yang intensitasnya sangat bergantung pada jarak, peta menjadi penting maknanya. Dalam kegentingan seperti ini, jarak tentu tidak boleh dikira-kira dan dirasakan. Jarak harus dikur dengan cara yang benar.

Peta, jika dibuat dengan cara yang benar, adalah salah satu media di mana seseorang bisa mengukur jarak secara akurat. Ketika radius bahaya Merapi semakin diberpanjang beberapa hari lalu maka menjadi sangat penting bagi seorang penduduk di sekitar Merapi untuk mengetahui jarak tempat tinggalnya dari puncak merapi. Meski kenyataannya bukan hanya jarak yang berpengaruh tetapi juga rupa bumi seperti adanya sungai dan lembah, jarak adalah parameter termudah untuk memperkirakan potensi bencana. Kesalahan dalam memperkirakan jarak sebuah tempat dari puncak Merapi tentu bisa menimbulkan kesalahan dalam mengambil tindakan yang berakibat fatal.

Penyebaran informasi perihal jarak ini tentu bisa di lakukan melalui peta. Terkait Letusan Merapi, misalnya, telah beredar cukup banyak peta yang menyajikan zona-zona dari puncak merapi dengan berbagai jarak. Di dunia maya, berbagai pihak telah menyediakan peta untuk kepentingan ini seperti yang resmi dari DERU UGM (http://lppm.ugm.ac.id/deru/) Forum PRB (http://merapi-partisipasi.ugm.ac.id/), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (http://geospasial.bnpb.go.id/), Jalin Merapi (http://merapi.combine.or.id/posko/), dan lainnya. Teknik Geodesi UGM sebagai salah satu pusat pendidikan kebumian di Jogja juga terlibat aktif dalam menganalisis dan menyajikan infomasi dalam bentuk peta. Sementara itu, partisipan perorangan juga banyak yang menyediakan informasi serupa melalui dunia maya seperti blog dan jejaring sosial.

Selain jarak, informasi yang tentu saja lebih penting adalah risiko bencana. Salah satu fasiliatas terbaik untuk menyampaikan informasi daerah dengan tingkat risiko bencana tentu saja adalah peta. Informasi tekstual dan audio juga penting tetapi akan lebih sulit dipahami jika tidak dilengkapi dengan informasi visual berupa peta. Informasi keruangan ini sangat penting karena bisa dipahami dengan lebih cepat. Pertanyaan yang pertama muncul biasanya adalah ‘di mana’ lokasinya? Inilah yang bisa dijawab dengan baik oleh peta.

Idealnya, keberadaan peta ini tidak hanya pada saat terjadinya bencana. Pihak terkait seyogianya menyajikan informasi penting seperti peta jarak dan kerawanan bencana serta status terkini melalui peta yang mudah dipahami secara berkesinambungan. Selain ketersediaan peta, yang tidak kalah pentingnya adalah kesadaran dan pemahaman masyarakat akan arti penting dan manfaat peta itu sendiri. Harus diakui, peta belum membudaya di masyarakat Indonesia secara umum.

Untuk mencari alamat saja, misalnya, kebiasaan yang ada bukanlah menggunakan peta melainkan bertanya. Fenomena sederhana ini juga menunjukkan bahwa pemahaman orang terhadap kegunaan peta belum memadai. Oleh karena itu, ketersediaan peta tidak akan bermanfaat banyak jika masyarakat tidak dididik untuk menggunakannya. Selain keharusan untuk menyediakan peta yang akurat, masyarakat juga harus dididik untuk aktif dan paham mencari peta melalui sumber-sumber yang resmi dan bisa dipercaya. Peta memang perlu dibudayakan.

Para penggiat dunia pemetaan seperti surveyor, kartografer, geograf dan sejenisnya perlu menyadari sepenuhnya bahwa aktivitas mereka harus berorientasi pada pengguna. Tugas mereka tidaklah sesederhana membuat peta yang akurat. Yang juga penting dalah membuat peta yang dipahami oleh orang awam. Para pembuat peta ini sering tergoda untuk menampilkan segala yang mereka ketahui di peta, bukan menyajikan apa yang dibutuhkan oleh pengguna. Peta yang akurat dan canggih tidak akan lebih dari sekadar karya yang mandul jika tidak termanfaatkan dengan baik gara-gara sulit dipahami. Pemetaan juga tidak bisa dipisahkan dari budaya dan sejarah karena pemahaman terhadap peta tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia dalam memperlakukan informasi.

Ilmu tentang membuat peta adalah salah satu ilmu yang sudah tua umurnya. Meski begitu, di Indonesia, ilmu-ilmu penting ini seringkali masih tergagap-gagap dalam menunjukkan perannya bagi kehidupan masyarakat. Dalam keadaan bencana seperti sekarang ini, disiplin terkait berkesempatan untuk menunjukkan dengan lebih baik bahwa mereka bisa berkontribusi secara nyata. Bahwa bencana, meskipun kadang tidak bisa dicegah, bisa dipetakan untuk mengurangi risiko. Dengan usaha yang serius dan publikasi yang tepat kadarnya, peta akan semakin diterima dan dibutuhkan sehingga akhirnya menjadi bagian dari budaya kita.

*) I Made Andi Arsana adalah dosen Teknik Geodesi UGM, kandidat doktor di University of Wollongong, Australia. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

Sumber: http://www.detiknews.com

Advertisements
Categories: Peta
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: