Home > Psikologi Bencana > Mendampingi Anak Setelah Bencana

Mendampingi Anak Setelah Bencana

Mendampingi Anak Setelah Bencana

 

REAKSI ANAK SETELAH MENGALAMI BENCANA
Bencana berdampak pada orang dewasa juga anakanak. Meskipun terkadang anak tidak menunjukkannya secara langsung. Berikut ini adalah reaksi yang umumnya muncul pada anak dan hal yang perlu diperhatikan orangtua/orang dewasa lain.

Usia batita (0-2 tahun)
Perhatikan: Anak belum dapat menjelaskan kejadian atau perasaan mereka. Namun anak dapat mengingat peristiwa yang dialami melalui apa yang dilihat, suara, maupun bau.
Reaksi: lebih rewel, mudah menangis, ingin terus digendong, tidak ingin berpisah dari rangtuanya.

Usia Prasekolah (2-5 tahun)
Perhatikan: Anak mungkin karena belum bisa menjaga dirinya, merasa tidak aman dan takut sekali ditinggalkan sehingga perlu diyakinkan bahwa ia akan selalu diperhatikan dan dijaga, bermain dengan tema-tema permainan yang berhubungan dengan kejadian bencana secara berulang-ulang, belum paham kalau orang yang sudah meninggal tidak bisa kembali lagi.
Reaksi: takut berpisah dengan orangtua,menangis dan merengek, mimpi buruk dan ketakutan, perilaku regresi/mundur, misalnya kembali mengompol, mengisap jari, menggigit kuku, dll merasa tidak berdaya

Usia sekolah (6-12 tahun)
Perhatikan: Anak sudah paham bahwa yang meninggal tidak dapat kembali lagi, teringat akan detail dari bencana dan akan membicarakannya terus-menerus atau tidak mau membicarakannya sama sekali, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab bencana.
Reaksi: Tidak mau bergaul dengan orang lain atau justru mengganggu teman dan lingkungan, sulit berkonsentrasi, mudah marah-marahnya dapat meledak-ledak, mudah tersinggung, mudah menangis, sangat takut pada benda yang tidak menakutkan, seperti:air, suara keras, petir, terlalu banyak tidur atau susah tidur, mimpi buruk

Remaja (11-18 tahun)
Perhatikan: Remaja mungkin mengalami gejolak emosi karena berbagai pengaruh lingkungan, keluarga, sekolah, teman, merasa tidak berdaya/pesimis karena kehilangan orang terdekat (keluarga ataupun teman)
Reaksi: Mimpi buruk, menghindari hal-hal yang dapat mengingatkan tentang kejadian bencana, menjadi pendiam, tidak terbuka, sedih berkepanjangan, menarik diri dari lingkungan, sulit konsentrasi, mudah tersinggung, kehilangan minat dan hobi, memberontak pada figur otoritas (orang dewasa), merasa bersalah terlibat dalam perilaku berbahaya dan melanggar aturan seperti berkelahi, mabuk, memakai narkoba

Reaksi-reaksi yang dialami anak tersebut WAJARsetelah anak mengalami bencana. Anak memilikikemampuan alamiah seperti bermain danbergembira.
Namun kemampuan alamiah anak tidaklah cukup.Anak perlu dukungan orang-orang sekitar, terutama orang dewasa, untuk memulihkan rasa aman dan keteraturan. Orang dewasa dapat membuat kegiatan yang rutin dan teratur untuk anak. Pada bayi, mereka akan lebih tenang bila orangtua mereka tenang. Sebaliknya, mereka lebih rewel dan sulit ditenangkan bila orangtua panik.
DUKUNGAN DARI ANDA SANGAT DIPERLUKAN !

Sumber: http://pulih.or.id/materi.html
Leaflet bisa didonload di Mendampingi Anak Setelah Bencana

Advertisements
Categories: Psikologi Bencana
  1. September 19, 2014 at 6:53 pm

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Mendampingi Anak Setelah Bencana.Benar benar sangat bermamfaat jika kita dapat memahami perkembangan anak yang ada di sekitar kita.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Indonesia yang bisa anda kunjungi di disini

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: