Home > Kesehatan > Kacang Hijau dan Tauge untuk Korban Bencana Vulkanis

Kacang Hijau dan Tauge untuk Korban Bencana Vulkanis

Rekans,
Ada tulisan yang menarik dibuat oleh Bu Daisy Irawan yang saat ini sedang menempuh pHd di The University of Queensland. Beliau menyelesaikan S1 di Jurusan TPHP , FTP UGM dan S2 Ilmu Pangan IPB.

Mudah-mudahan tulisan mengenai kacang hijau dan taoge untuk para pengungsi ini berguna. Tulisan ini membahas kacang hijau yang digunakan untuk mengganti sayur-sayuran yang susah diperoleh di pengungsian dan bisa dibuat taoge yang kaya vitamin B dan C , mudah dicerna, dan mampu memelihara daya tahan tubuh.

Kacang Hijau dan Tauge untuk Korban Bencana Vulkanis
oleh Daisy Irawan*

Rekan-rekan sekalian,

Dalam kondisi bencana letupan Gunung Merapi seperti saat ini, sayur-sayuran menjadi barang yang langka.   Padahal, sayur adalah sumber vitamin yang sangat diperlukan untuk memelihara daya tahan tubuh, apalagi ketika kondisi serba susah dan tingkat stress sangat tinggi.

Untuk mengantisipasi kesulitan sayur ini, saya sarankan agar para relawan mulai menggerakkan  donatur untuk menyumbang kacang-kacangan.  Selain sebagian bisa dibuat bubur untuk makanan bayi, anak-anak dan manula, beberapa jenis kacang bisa dibuat tauge.


Gambar 1. Taoge ( Sumber: http://www.epochtimes.co.id)

Tauge ini sumber vitamin B dan C yang sangat baik, mudah dicerna, dan mampu memelihara daya tahan tubuh.  Cara pembuatannya mudah, bahkan tidak memerlukan air yang berkualitas tinggi.  Ini contoh cara pembuatan tauge ala orang kota http://susilo.typepad.com/kitchen/2007/08/membuat-kecamba.html.  Penduduk desa mestinya lebih pandai membuat tauge daripada kita.

Konon, dulu armada Sam Po Kong berlayar menjelajahi Asia Selatan selama berbulan-bulan dengan berbekal kacang hijau ini.  Di sepanjang pelayaran mereka membuat tauge, sehingga pelaut-pelaut Sam Po Kong tetap sehat.  Mereka tidak mudah meninggal akibat terserang skorbut (kerusakan jaringan mukosa akibat kekurangan vitamin C) seperti halnya pelaut2 Eropa.

Oh ya, info satu lagi.  Rebusan kacang hijau pertama (ketika airnya masih hijau) ini masih banyak mengandung vitamin dan zat bioaktif yang sangat baik untuk menyembuhkan radang tenggorokan dan menurunkan demam.  Ketika membuat bubur kacang hijau, air rebusan kacang hijau yang masih hijau ini sebaiknya diambil dulu.  Kemudian kacang hijaunya ditambah air mentah, lalu direbus sampai lunak.  Setelah lunak, air rebusan kacang hijau yang masih hijau tadi, bisa dikembalikan ke panci (atau diminum langsung dengan ditambah gula).  Dengan demikian, manfaat kacang hijau akan menjadi maksimal.

Berbeda dengan mie instant, bubur kacang hijau, dan tauge ini sangat rendah kandungan sodiumnya, sehingga tidak berpotensi memperparah hipertensi para pengungsi yang memang sudah dalam keadaan tertekan.

Rekan-rekan sekalian, sudah saatnya kita semua mulai menggali sumber-sumber makanan alami yang mudah di simpan dan digunakan di saat bencana.  Kacang hijau (beserta turunannya, yaitu tauge), dan juga gula merah adalah salah satu makanan yang sangat potensial untuk penanganan bencana.

Informasi ini saya tulis, tanpa tendensi apapun.  Murni, berdasarkan kepedulian saya sebagai seorang yang pernah menempuh pendidikan formal di bidang Ilmu dan Teknologi Pangan.  Semoga bisa membantu para korban Merapi yang sedang kesusahan saat ini.

Jika ada masukan atau kritikan silahkan disampaikan kepada saya.  Jika dirasa berguna, silahkan diforward ke rekan-rekan yang lain.  Terimakasih banyak.

Salam dari jauh,

daisy

Advertisements
Categories: Kesehatan
  1. inu
    November 6, 2010 at 10:46 pm

    sebuah terobosan tepat guna dan sederhana meskipun tdk layak jual krn tdk banyak yg bisa dieksploitasi ketika rakyat berdaya. segera kembali bu dan membantu phd ipb yg skrg berkantor di daerah bencana meski tetap tinggal di istana

  2. November 6, 2010 at 11:02 pm

    mas Inu, kalau nggak salah Mbak daisy sedang sibuk menyiapkan disertasinya. tauge dan kacang ijo tidak diekspliotasi? ah masa? mungkin tidak familier saja. di tempat saya berada sekarang, kacang ijo direbus, dimasak sama daun kelor sebagai pelengkap ikan bakar, tauge jadi sayur lodehnya orang makassar, dan beberapa menu sebagai andalan. karena rata2 pada musim kemarau petani hanya bisa menanam kacang hijau.

  3. lala
    November 7, 2010 at 10:05 am

    terima kasih sharing-nya… mohon izin share ke teman-teman yang sedang respon bencana 🙂

  4. dede
    November 7, 2010 at 11:23 am

    Sangat berguna. Saya share ya, bu.
    Thanks

  5. Hario
    November 7, 2010 at 12:02 pm

    Betul sekali. Hal yang sama juga dilakukan jemaah haji Indonesia untuk memenuhi kebutuhan serat selama beribadah di tanah suci.

  6. Lily Choo
    November 7, 2010 at 2:27 pm

    Betul sekali. Note yg sangat bagus. Kita dari organisasi Nourish The Children menyumbang beras dan lentil Vitameal utk korban Merapi. Bahkan Kita jg terlibat dlm menyumbang utk korban gempa Jogja, Padang dan Tsunami Aceh dulu. Dimana beras n lentil Vitameal ini berisi 25 vitamin n mineral. Sgt baik utk meningkatkan imunitas tubuh para korban yg stress, tdk ckp gizi, kurang tidur dsbg. Thanks for sharing.

  7. November 7, 2010 at 6:48 pm

    izin share ya bu 🙂

  8. yenny
    November 7, 2010 at 10:09 pm

    Info yg berguna, juga bagi yg (syukur) tidak kena bencana. Minta izin share ya Bu Daisy.

  9. Andaru
    November 8, 2010 at 7:15 am

    mohon share
    tks

  10. daisy
    November 8, 2010 at 9:17 am

    Iya, teman-teman sekalian, silahkan dishare. Ke depannya saya harap budidaya dan kacang-kacangan termasuk kacang hijau, dilakukan secara bergilir di masyarakat. Selain lahan pertanian menjadi lebih subur, hama-penyakit tanaman berkurang, juga ketika ada bencana, supplainya terjamin.
    Fokus kebijakan pangan pemerintah juga sebaiknya bukan hanya gembar-gembor pangan non beras, tetapi bagaimana mengajak masyarakat untuk membiasakan diri mengkonsumsi kacang-kacangan (yang kaya karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan serat) sebagai bagian dari makanan pokok, setidaknya untuk sarapan setiap pagi. Jika hal ini dilakukan, otomatis kebutuhan kita untuk impor beras akan berkurang, tidak banyak kasus defisiensi protein, dan anak-anak pun menjadi lebih sehat dan cerdas.

  11. Rahmad
    November 9, 2010 at 10:31 pm

    Ide yang tepat guna, izin share bu Daisy

  1. November 7, 2010 at 12:43 pm
  2. November 7, 2010 at 7:37 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: