Home > Kisah > Detik-detik Evakuasi Merapi: Ketika Bernard Berhenti Tertawa

Detik-detik Evakuasi Merapi: Ketika Bernard Berhenti Tertawa

Detik-detik Evakuasi Merapi: Ketika Bernard Berhenti Tertawa
oleh dr. Julian Sunan

Hujan abu masih turun tipis di luar jendela ketika saya menulis ini. Limabelas jam yang lalu, jam 19.30, 4 November 2010, sedikit heran ketika ambulan jemputan tiba di rumah on time, saya dan rekan dari Puskesmas berangkat tugas jaga pos kesehatan Hargobinangun. Cuaca mendung, nyaman menyeka kering abu yang membedaki Beran (ibukota administratif Sleman), perlahan kami berangkat melintasi desa-desa menuju Hargobinangun, 17 km dari puncak Merapi. Harapan yang cerah, jaga malam santai, cuaca dingin yang nyaman, plus minum susu dan obrolan hangat di pos kesehatan menanti kami. Setidaknya itu bertahan sampai 1/4 perjalanan, ketika memasuki wilayah Ngaglik, 25 km dari puncak Merapi, kabut menyergap kami. Aneh, kabut di jarak sejauh ini dari gunung. Kabut yang aneh pula, tidak dingin dan sejuk, tapi pucat, kering, pengap, tak bergerak, dan terasa sangat berat untuk ditembus. Kabut serupa yang saya jumpai mengawali hujan pasir erupsi besar Merapi Sabtu dini hari lalu. Pikiran saya melayang jauh ke pos tujuan kami, amankah?. Di benak saya, jangan-jangan Hargobinangun dan 5000 penghuninya sudah tenggelam dalam pasir seperti kota Pompeii. Dan kami telusuri lembah-lembah gelap desa terakhir dengan pikiran kelam.

Hingga kilometer terdekat dengan barak pengungsian Hargobinangun kabut diam itu masih sangat pekat. Di tepian jalan kaliurang, satu kilometer di bawah barak, tampak stasiun TV swasta sedang live di tepi jalan, agaknya menyadari juga fenomena aneh setelah hujan seharian itu. Semoga mereka tidak membuat berita menyesatkan seperti kemarin. Cukup melegakan. Lebih melegakan lagi ketika beberapa ratus meter kemudian kabut itu menipis, teriring ramai cahaya balai desa Hargobinangun, barak pengungsian terbesar dan terkokoh dari barak lain. Pukul delapan malam namun barak sudah sepi. Dipeluk kabut yang berubah menjadi hujan abu ringan, nampaknya semua pengungsi terbaring nyaman beristirahat di 3 komplek bangunan permanen yang tersedia (balai desa, gedung SD dan SMP, dan bangunan khusus barak raksasa hasil cicilan masyarakat Pakem). Dan pos kesehatan, markas besar kami, masih tampak serupa, penuh tumpukan obat yang terlalu lengkap karena banyak sponsor, catatan resep tak jelas, register setumpuk, dan kardus-kardus masker, dan anggota-anggota Tagana yang bercengkerama.

Menyenangkan jaga malam di pos kesehatan Hargobinangun akhir-akhir ini, tenang, tidak begitu berjubel pasien. Beruntung kami dengan adanya beberapa pos kesehatan LSM yang didirikan di sudut-sudut lain barak, beban berkurang, hanya cukup sedikit koordinasi, obat mereka yang lebih lengkap dan coverage pasien maksimal. Hingga untuk ukuran Puskesmas yang dipindah ke barak, kami bisa bersantai, jalan-jalan, dan tidur tentu saja. Dan anggota-anggota Tagana (Taruna Siaga Bencana) yang memiliki bench tepat di depan bench kami itulah pelampiasan keisengan. Kebetulan topik malam itu ketawa ala Bernard Bear, dan ternyata mereka fasih menirukan gaya si beruang gendut tersebut, sepertinya semalaman kami akan berhaha hihi.

Getaran dan gemuruh merapi tak pernah henti terdengan sejak saya tiba. Akhirnya terbiasa, baik pengungsi maupun saya, dengan bunyi seperti dentum, deru dan guntur bersambungan yang membuat kaca berderak, hingga menggetarkan badan yang diam. Jam menunjukkan pukul 23.30 ketika beruang-beruang di pos kesehatan menggelar kasur dan membaca doa pengantar tidur, berharap semua tenang. Semua terlelap, kecuali saya yang memang tak mudah tidur di kondisi tersebut. Saya mencoba mengabaikan, tapi menjelang pukul 00.00 saya rasakan bunyi gemuruh itu semakin keras, semakin dekat, semakin mengguncang. Agaknya beberapa rekan dan pengungsi juga merasakannya. Mereka berjalan dan berkumpul di halaman luar balai desa. Saya bangkit, memakai sepatu dan menatap mereka dari selasar pos kesehatan. Tampak kepala desa dan koordinator barak sibuk mengontak HT, sesaat kemudian tiba-tiba mereka berlari menuju beberapa barak, diikuti anggota-anggota TNI. Saya masih berdiri di depan pos kesehatan, terheran dengan gemuruh yang makin mengeras, dan mulai curiga ketika kabut aneh serupa ketika saya tiba muncul kembali dan memekat. Tiba-tiba terdengar keributan, pengungsi di barak terdekat berhamburan keluar menuju jalan, semakin banyak yang menghambur keluar. Satu yang melintas saya hentikan, dan pertanyakan kenapa, jawaban menghambur dalam kepanikan “dok, semua pengungsi diminta segera turun ke stadion Maguwoharjo!”

Maguwoharjo? sungguh tak masuk akal menurut saya, bukankah itu di tepian kota? 25 kilometer lebih evakuasi masif ribuan orang dalam hitungan menit!??

Kepanikan menyeruak, barak Hargobinangun yang semula lelap sontak bangun dalam histeria ancaman bencana. Pengungsi berlarian ke jalan, menaiki angkutan apapun yang kebetulan berada. Puluhan TNI yang tegar tak kuasa menahan 5000an orang yang berhamburan, dalam teriak dan tangis, berebut kendaraan.Truk, bus, mobil, pikap, pengangkut pasir sekejap penuh sesak dengan manusia, berdesakan, berebutan, saling himpit. Carut marut suasana panik, tangis bercampur dengan teriakan memanggil dan mencari sanak keluarga. Sepasang manula berpakaian lusuh seadanya, berusaha berlari menuju jalan masing-masing tangan penuh memegang kardus, tikar dan bungkusan; hebatnya mereka masih berusaha berpegang tangan. Seorang lelaki renta, lupa tak menenteng apa-apa, berdiri kebingungan melihat perebutan sudut ruang angkutan yang tersedia, mematung tanpa bisa berkata; hingga beberapa anggota TNI mengangkatnya ke atas truk bak terbuka. Anak-anak menangis, tak tahu apa yang diperbuat orang tuanya, menyeret mereka dari tidur lelapnya. Semua teriak menenangkan tenggelam dalam badai kepanikan, hingga serak suara dan kami tertunduk putus asa. Bayangkan, dalam 20 menit 5000 orang telah bergerak dalam muatan penuh sesak yang penuh tangis..

Dua orang jompo yang tak dapat berjalan menjadi jatah evakuasi kami, ambulan yang penuh sesak beranjak pelan menjadi angkutan pengungsi terakhir. Tatap mata nanar sang kakek menatap balai pengungsian yang sekian hari telah dihuninya, ruang-ruang yang semula riuh tampak senyap, pintu-pintunya ditutup dan dikunci oleh TNI dan Tagana terakhir yang pemberani. Barang-barang pengungsi tampak berceceran, di dalam maupun di halaman, terserak pula dalam kenangan. banyak diantara mereka yang hanya membawa baju yang mereka pakai. Dalam senyap, ambulan kami melaju, dan hujan turun perlahan…setidaknya bila memang itu dapat disebut hujan.

Semula memang tetes air yang menyentuh lengan, namun beberapa saat kemudian tetes itu menghitam dan berubah menjadi bulatan-bulatan besar tepat saat kami memasuki ambulan, 15 menit setelah rombongan utama berangkat. Kemudian bukan lagi air yang jatuh dari langit, namun lumpur bercampur kerikil. Ambulan yang bergerak pelan, berjalan semakin pelan karena penyeka kaca depan tak mampu menepis hujan lumpur. Sesekali kami berhenti, menyiramkan air mineral kemasan ke kaca depan, sekalipun sekian detik kemudian kaca itu sudah terpekati pasir kembali. Menit demi menit kami merangkak turun, ke selatan, menjauh dari sumber petaka. Memasuki distrik Pakem, 3 km di bawah Hargobinangun, kami baru menyadari bahwa wilayah itu sudah seperti kota mati, listrik padam, hanya pengendara sepeda motor berjajar di emper toko karena tak kuat menembus hujan lumpur. Kemacetan terjadi di ketika melewati kampus UII 4 km kemudian, agaknya para mahasiswa panik dan berebut mengungsi ketika mengetahui rombongan utama pengungsi Hargobinangun melintas. Jalan utama penuh, benturan antar kendaraan tak ayal terjadi. Terjebak dalam kecepatan nol, kami pasrah. Saya hanya menatap kaca mobil yang tak mampu meneruskan pandang. Gurat-gurat lumpur di balik kaca mengalir, sebagaimana air mata ribuan pengungsi di kendaraan bak terbuka, menembus siraman lumpur pasir dan kerikil, meniti kilo demi kilo yang berlalu begitu pelan. Dan benar bahwa waktu terasa bertahun untuk hal yang tak kita sukai..

Duapuluhribu pengungsi bergerak sekaligus menembus malam badai. Entah berapa ratus pengungsi yang tercerai dari keluarganya dan berapa lagi yang mengalami kecelakaan di perjalanan mengerikan sekaligus menakjubkan ini..

Lebih dari satu jam perjalanan kami memasuki pinggiran kota, melintas ringroad menuju Stadion Maguwoharjo. Hujan tak turun sejak kami mendekati kota, tapi debu vulkanik pekat menghambat pandang. Saya belum pernah datang ke stadion itu, hanya mengamati foto, stadion baru yang agak tersendat pembangunannya, landskap absurd di tengah pemukiman penduduk suburban, yang belum disetting sebagai barak pengungsian. Namun bayangan kelam saya sontak hilang ketika cahaya kemilau itu muncul di depan kami. Layaknya bahtera di lautan kelabu, bangunan besar itu terapung bercahaya, begitu cerah, begitu hangat. Perlahan kami mendekat. Tiga lantai, penuh manusia, dan masih juga dikitari manusia dan kendaraan. Puluhan petugas menyambut dan mengarahkan kami. Perjalanan hitam berakhir, entah kenapa badan kami yang diberati pasir dan debu, seolah terlepas dan menjadi ringan, sangat ringan..

Entah kenapa, dalam kondisi seperti itu rasa lelah sama sekali tak terasa. Selepas dropping pasien bawaan di ruang observasi, saya masih meneruskan pemeriksaan dan pengobatan umum hingga siang menjelang. Pepatah kuno bilang, manusia lebih cepat letih bila sedang aktivitas bersenang-senang.. benarkah?

HT berteriak, mengabarkan banyak korban tewas di Argomulyo, Cangkringan.. Ya, mengungsi adalah dilema. Mudah bagi mereka berkata “sudah disuruh mengungsi tetap bandel”.. mungkin sang pemberi komentar tersebut sekali waktu perlu mengalami menjadi dan merasakan hidup sebagai pengungsi Merapi.

Dan benar, masalah utama mobilisasi mendadak masif tentu saja terpecahnya keluarga. Semenjak pagi, pengeras suara lebih banyak meyerukan nama orang-orang yang mencari anggota keluarganya. Stadion Maguwo yang tak pernah memiliki perlengkapan barak pengungsian disulap menjadi barak seadanya. Pengungsi tak berharta benda duduk juga seadanya di lantai tanpa alas, setidaknya mereka lega sudah jauh dari bahaya dan keluarga lengkap disisi mereka. Tenaga kesehatan pontang-panting menyusun pos Triase dan klinik darurat, dengan obat dan SDM tercecer entah kemana, beruntung ratusan relawan kesehatan maupun non-kesehatan tetap setia bersama kami, keikhlasan mereka takkan pernah terbeli. Entah sampai kapan amukan Merapi menjadi, entah sampai kapan ribuan pengungsi terdampar di sini, tanpa bekal, jauh dari rumah dan ternak yang mereka sayangi.

Sumber: dr Julian Sunan

Advertisements
Categories: Kisah
  1. phijustphi
    November 6, 2010 at 10:09 am

    mengharukan sekali baca tulisan ini…
    air mata berbutir2 serupa jagung jatuh membasahi…
    Tak bisa berkata2 lain lagi…
    Keep fighting n keep spirit to stay alive saudara2q…!!!

  2. Siswandi
    November 6, 2010 at 10:10 am

    Terimakasih yang tiada tara dari saya.. Siswandi..
    Sungguh hanya balasan kebaikan dari Allah yang dapat membalas kebaikan anda semua.. para relawan..

  3. anettz
    November 6, 2010 at 10:13 am

    May God bless u, Julian…
    Keep up the good work 🙂

    *bakti kami mahasiswa UGM*

  4. rizky fahamsyah
    November 6, 2010 at 10:14 am

    innalillahi wa inna illaihi roji’un
    semoga bencana merapi segera berakhir..

  5. Oktaria kusuma dewi
    November 6, 2010 at 10:18 am

    Subhanallah..
    Salut untuk semua relawan dimerapi.
    Subhanallah dok..
    Sy menangis membacanya..

  6. Iwan Hartaji
    November 6, 2010 at 10:28 am

    info :Nama Asli dari Julian Sunan adalah dr.Raden Yuli Kristyanto, dari Puskesman Godean 2

  7. Natalie
    November 6, 2010 at 10:32 am

    Saya bs membygkan apa yg terjdi.. Psti sgt mencekam, histeris, kalut,bingung menjdi satu.
    Sangat ingin bergbung dg relawan lainny, ttp sudah penuh dan hrs waiting list. Shg utk saat ini mgkn hny bs menolong scr material.
    Sangat bangga dan salut utk rekan yang sdh mau mengabdikan diriny utk membantu para pengungsi.
    Keep fighting temen2.. Ttp tegar, selalu waspada dan berdoa.
    Saya ykn smuanya akan membaik Tuhan tdk akn memberi cobaan yg tdk mampu dilewati umatny.
    Allah blessing Us….

  8. Heinzel
    November 6, 2010 at 10:34 am

    So touching!…..
    Represent the society of North Celebes Community…we want to thank You 4 all of the volunteers who give their time, power, and dedication. Ready in everysecond for this heavy work. We count on You and we still standing behind U all!
    Best Regards

  9. lina dena
    November 6, 2010 at 10:39 am

    salut buat para relawan (termasuk dr.julian juga… 🙂 ),aparat TNI. Tetap semangat membantu para pengungsi ya… Doa kami menyertai kalian…

  10. Wheda Asmara Putra
    November 6, 2010 at 10:41 am

    bakti kami mahasiswa ugm tercinta..
    moga Yang Diatas tidak memberi bencana yang tidak bisa dipikul oleh warga merapi dan sekitarnya

  11. Wahyu nurjannah
    November 6, 2010 at 11:06 am

    Laahawla..Walaaquwwata..Seperti ikt merasakan tegangnya..Yg kuat sodaraku…

  12. bunny akaatun jegeg
    November 6, 2010 at 11:16 am

    sumpah brader,crita ne bener2 bwtq ikut didalam nya
    Semoga keikhlasan smwa tim di sana akan tbalas suatu hari nanti,
    Tetap jaga amanat n tetap bsemangat ya brader,
    Sukses,,,
    GBU,,,

  13. nuno
    November 6, 2010 at 11:22 am

    ya Allah… lindungi warga2 jogja…..
    laaailahailallaaaah
    nangis gwe baca ini….huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa jogja-Q!!!!
    kota ternyaman yg pernah aku singgahi kini amburadul………….
    😦

  14. arfah
    November 6, 2010 at 11:27 am

    i am proud of you..dr julian

    semoga dr julian,bersma dr2 lain,para relawan,tni,polri, tetap di beri kesehatan, untuk bs melayani pengungsi yg luar biasa jumlahnya..
    Saya slh satu warga kaliurang timur, yogyakarta…keluarga ikt menjadi korban pengungsian merapi,saya sampai saat ini belum bs pulang ke jogja,hany bs berdoa,
    semoga warga masyarakat di kaliurang dan seluruh yogyakarta di kuatkan dalam menghadapi bencana ini, yg merupakan bencana merapi terbesar dlm bbrapa tahun ini,

    gbu all….

  15. Pakde Darier
    November 6, 2010 at 11:36 am

    Ya Allah.. tabahkan mereka.. Hanya Engkau yang berkuasa utk menghentikan penderitaan mereka..
    Aku ulurkan tanganku utk membantu mereka.. Smg Engkau berikan berkah atasnya. Amin

  16. gempur
    November 6, 2010 at 11:48 am

    “Sepasang manula berpakaian lusuh seadanya, berusaha berlari menuju jalan masing-masing tangan penuh memegang kardus, tikar dan bungkusan; hebatnya mereka masih berusaha berpegang tangan. Seorang lelaki renta, lupa tak menenteng apa-apa, berdiri kebingungan melihat perebutan sudut ruang angkutan yang tersedia, mematung tanpa bisa berkata”

    dan saya pun tak bisa berkata2, mata saya terasa basah, membayangkan apa yang terjadi. walaupun abu2 dan pasir vulkanik itu juga menyapa kami yang berada di sendowo, 26 km dari puncak merapi! Cerita ini sudah cukup menggambarkan betapa kepayahannya saudara2 kita yang belum sempat bernapas lega di pengungsian sudah harus berpindah lagi dalam keadaan yang mencekam.
    semoga ketabahan mereka tak sampai di sni saja, dan semoga mereka tetap dalam lindungan ALLAH, Tuhan yang tetap mereka sembah walau merapi menerjang!

  17. TariS
    November 6, 2010 at 1:00 pm

    Saya mau membaca cerita yang lain,,
    Kalau boleh, saya mau banget merasakan apa yang saudara saudara saya rasakan,,
    Betapa malam itu, saya terlelap dan terbuai dalam tidur,
    Sedangkan beberapa kilo disudut kotaku, kepanikan melanda,,
    Ya Allah, ampunilah semua dosa kami..
    Jadikan kami ummat yang Kau cintai..
    Allahu Akbar,,,

  18. intan
    November 6, 2010 at 1:52 pm

    salute buat dr.julian dan para relawan

    jaga kondisi ya doc tetap berjuang maksimal
    satu kata terlintas dalam benak saya u. dr,julian dan para relawan

    ” LUAR BIASA “

  19. Haryoko
    November 6, 2010 at 2:34 pm

    Luar biasa Dok…., terus berjuang, jaga kesehatan, jaga diri dan jaga keselamatan. Kami sekeluarga mendoakan dari jauh.

    Salam,

    Haryoko R. Wirjosoetomo

  20. ully
    November 6, 2010 at 2:57 pm

    Aq ke jogja 2 hour sblm Merapi meletus..ga nyangka akan begini..smg Allah SWT melindungi pnduduk Merapi dan sktrnya serta memberi pahala kpd para sukarelawan..‎​‎​آمِّي ! Tetap semangat ya semuanya..doa kami menyertai usaha kalian 🙂

  21. Baniah S
    November 6, 2010 at 3:09 pm

    sangat mengharukan ceritanya,kubayangkan gmn kalo Q ada d posisi mereka pasti panik n menangis,terimakasi para relawan jasa kalian tak tergantikan,semoga kalian mdapat imbalan dari yg kuasa,n doaku semua semua sehat

  22. eni mosel
    November 6, 2010 at 3:11 pm

    semoga semua dikuatkan….ikut prihatin.

  23. Wiwith
    November 6, 2010 at 10:30 pm

    Saya menangis mas membaca tulisan ini. Semoga bencana ini segera berakhir. Tetap semangat mas, kerja keras dan pengabdian mas dan kawan2 merupakan amal ibadah yg akan dibalas Alloh SWT.

  24. edwan
    November 6, 2010 at 10:49 pm

    Subhanallah….. air mata tak terasa berlinang membacanya… hanya doa dan bantuan tak seberapa yg bisa kami kirimkan Semoga dikuatkan dan ditabahkan saudara2ku disana…

  25. Malica putri
    November 6, 2010 at 11:00 pm

    Semoga allah membalas semua kebaikan para relawan.
    Dan semua bisa dilalui.

  26. November 6, 2010 at 11:16 pm

    Dia melindungi mereka yang butuh perlindungan-Nya.

  27. Manung
    November 6, 2010 at 11:19 pm

    Allohu Akbar…
    saya ngga bisa komentar …
    trenyuh … ditambah lagi baca komentar2nya

  28. yose riza
    November 6, 2010 at 11:20 pm

    Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kpd saudara2ku yG menjadi korban dan yg menjadi relawan di sana … Allahu Akbar …

  29. natalia
    November 6, 2010 at 11:50 pm

    terasa seperti kejadian dalam film 2012… tidak menyangka akan terjadi di tahun 2010… lindungilah mereka ya, Tuhan… rencanaMU sungguh tak teramalkan oleh manusia macam apapun.

  30. velivia
    November 7, 2010 at 12:54 am

    Saya tidak bisa membayangkan betapa hebatnya kejadian yg begitu menakutkan dan mengharukan, jerit tangis dan emosi bercampur jd satu disana,blm lg mrk yg tercerai berai dgn sanak keluarganya dan hal ini yg akhirnya membuat saya benar-benar menangis dan saya hanya bisa berdoa,semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan buat mereka dan bantuan yg dibutuhkah bisa segera mrk dapatkan disana dan pernyataan salut dari saya bagi para relawan dan aparat,krn tetap semangat dgn mengesampingkan rasa letih untuk mmbantu para korban disana,sentuhan tangan kalian benar2 menjamah hati mereka.GBU all

  31. sixtina saptawati
    November 7, 2010 at 4:00 am

    Ngga bisa berkata apa-apa lagi, hanya tangis haru, hanya Allah yg bisa membalas semuanya…

  32. zaira
    November 7, 2010 at 8:20 am

    Saya tdk bs berkata apa2. Sungguh benar2 pahlawan negara dan bangsa, anda dan para relawan lain disana, beserta aparat TNI yg tak takut gugur demi keselamatan saudara2 kita di lereng Merapi khususnya dan Yogyakarta. Smg para keluarga relawan dan TNI diberi kekuatan dan smg Allah melindungi selalu…

  33. herry purnomo
    November 7, 2010 at 8:22 am

    salut buat para sukarelawan semuanya tanpa kecuali, spesial untuk dr. Julian, baktimu akan terkenang dihati kami, seluruh rakyat Indonesia, Tuhan yang akan membalas semua itu, jaga kesehatan & selalu waspada, kami bantu dengan doa semoga derita sodara2 kita cepat berakhir.saya……………menanngis. Tuhan bersama kita.

  34. Tya
    November 7, 2010 at 9:21 am

    ijin share ya

  35. nia meliyani
    November 7, 2010 at 9:26 am

    Innalillahi Waina Ilaihi Roji’un..
    tnyata tulisan ini lbh mengguncang perasaan dbanding nonton berita televisi, aq hny bs mdo’akan dr sini.Smoga derita saudaraqu segera b’akhir. Alloh pny rencana indah dbalik smua ini.
    Tetap semangat,tawakal dan ikhlas dlm mhadapi bencana negeri ini,kawan.
    tolong serukan kpd saudara qta dsana..Alloh tetap bsama mereka walau dlm keadaan yg lain.
    finally,,bwt dr.julian sunan..kmi salut atas bakti anda u/ kemanusiaan..titip saudaraqu dsana. Alloh bless U all.
    kmi tunggu kbr dsana selanjutnya,bharap kbr indah tentunya.cerita indah yg m’akhiri suasana mcekam ini.spt ketawa lepas bernard dan warga merapi yg tlepas dr bencana..
    salam sejahtera,

  36. November 7, 2010 at 10:12 am

    cuma bisa doa….semoga seluruh korban dan relawan diberi kekuatan dan ketabahan
    Tuhan punya rencana terbaik buat umatNya
    GBU

  37. juu
    November 7, 2010 at 10:50 am

    semoga Allah melindungi masyarakat merapi, para relawan, tni-polri dan para pemimpin yang amanah

  38. November 7, 2010 at 12:41 pm

    dokter saya trenyuh membaca tulisan anda. Mohon ijin untuk sekedar sharing tulisan anda ke teman2 yg lain.

  39. November 7, 2010 at 12:54 pm

    Allah Swt mempunyai rencana yg

    Indah buat Indonesia,kami bantu

    Do’a saudara2ku para relawan merapi

    Allah Swt akan membalas amal per-

    Buatan kalian,amin,,,

  40. ratih
    November 7, 2010 at 7:41 pm

    Dok,saya dan pastinya smua rakyat Indonesia..bangga dan salut pada dokter dan smua relawan yg bagai memiliki energi yg tak ada habisnya..segenap doa saya panjatkan agar keadaan smkn membaik,pengungsi dan relawan smkn kuat dan tabah dlm menghadapi smuanya..dan Jogja kita,bisa kembali berhati nyaman..kembali spt dl..terimakasih dr.Julian

  41. Deni Hendarwan
    November 7, 2010 at 9:00 pm

    Cukup Mengharukan Dok …ingat waktu th 1995 merapi meletus jadi relawan PMI di sana tepatnya di desa Pakem ..tp waktu itu ga separah sekarang …sy bangga dan salut pada semua relawan di sana semoga di beri Kesehatan dan tetap sehat bisa beraktifitas aminnn…

  42. syahnan
    November 7, 2010 at 9:51 pm

    Saya cuma bisa berdoa dari jauh, semoga surga jadi bagian kalian di akhir nafas.

  43. Dyah
    November 8, 2010 at 12:55 am

    air mata menetes membacanya…saya berdoa kalian semua tetap kuat,sehat…tetap semangat menolong mereka…rasahati ingin dtg membantu…,sbtlnya sabtu yg ll suami mau nggabung di tim kesehatan tp krn anak kami hr Jumat mengalami kclknn jd di undur hr sabtu akan dtg,jerih payahmu tdk sia2 dimata ALLAH.RELAWAN aku bangga padamu….!!!

  44. kartika
    November 8, 2010 at 10:09 am

    terharu membaca tulisannya..ijin share..

  45. ria ajah
    November 8, 2010 at 1:21 pm

    terharu banget aku bacanya… semoga selalu diberi kekuatan sama allah untuk menghadapi cobaan ini…

  46. Dinni Firdaus
    November 8, 2010 at 2:12 pm

    Subhanallah….
    tercekat tenggorakan rasanya membacanya, dok….
    teruslah berjuang, doa kami menyertaimu…
    semoga kesehatan dan berkah Allah selalu bersama kalian, amien…

  47. nena
    November 8, 2010 at 2:47 pm

    ga bisa berkata-kata lagi…hanya rasa haru dan tetap terus berdoa semoga dr julian beserta tim relawan dari TNI maupun dari sipil dan tim medis selalu diberi kekuatan dan kesehatan olah Allah SWT…tetap semangat!!!!

  48. wisnu-BikersBrotherhoodCare
    November 9, 2010 at 8:41 am

    Tgl 27 dan 28 okt kita dr BBMB masih didaerah ring 2 untuk menyalurkan bantuan yg diberikan oleh brother2 kita dr jakarta dan sekitarnya, bandung dan sekitarnya serta sragen. Sekitar 5 titik pengungsian yg kita datangi, ada satu sekolah yg dihuni sekitar 500 orang saudara2 kita dgn persediaan makanan 5 dus mie instant, rasa ini seperti hadiah terindah yg Tuhan berikan ke saya krn seorang bikers seperti saya, yg brengsek, yg liar di bikers party, yg hanya touring dan touring naik motor tua yg ada dibenak saya, masih diberikan rasa, rasa haru tetapi senang msh dapat membantu saudara2 kita yg memang benar2 membutuhkan, dan setelah membaca ini, rasa yg saya alami beberapa hari yg lalu itu setelah membaca tulisan bernard bear ini bagaikan dust in the wind, besarnya rasa senang saya menjadi sebesar debu dibandingkan apa yg udh dilakukan dokter bernard the bear…saya mewakili seluruh life member of Bikers Brotherhood MC dan BrotherhoodCare mengucapkan SALUTE….We’re still beside u Dok..keep smiling cause u’he great man with the great job..

  49. Sandra
    November 9, 2010 at 8:45 am

    Subhanallah, barakallah.. Julian, jika ada kesulitan atau membutuhkan bantuan mungkin bisa kerja sama dengan teman-teman KorpsGaruda yang ikut membantu saudara-saudara kita di Yogya dan sekitarnya.. Kami saat ini sedang merancang program recovery psikis dan jg lainnya.. Jika butuh no contact, email me yaa.. “Beraksi bersama, bereaksi untuk sesama”… Semoga kita semua slalu mendapat perlindungan Allah swt, amin.

  50. walahea
    November 9, 2010 at 8:51 am

    Narasi yang membawa kita serasa didalamnya…. Salut Dok… Two thumbs up buat semua usahanya….

  51. Jussac
    November 9, 2010 at 9:54 am

    merinding bercampur haru…
    relawan-relawan adalah manusia berjiwa besar…tidak sia-sia Tuhan menciptakan mereka

  52. November 9, 2010 at 11:26 am

    astaghfirullah so mencekam ya.. smg ALLAH selalu melindungi para pemberani berhati malaikat spt para relawan..

  53. November 9, 2010 at 11:28 am

    Mengharukan, airmata tak terasa ingin menetes tak kuasa dengan saudara kita yang disana, semoga Allah memberikan kesabaran kepada mereka yang disana.

    http://www.uminasafira.wordpress.com

  54. bolang
    November 9, 2010 at 9:12 pm

    semoga ke ikhlasan semua mendapat ganti yg lebih baik kelak..

  55. si.toing
    November 10, 2010 at 8:48 pm

    Ijin share ya dok … bagus banget 😉

  56. hanyavita
    November 13, 2010 at 11:39 am

    Mas, aku share yah..makasih, tetap semangat!

  57. sml
    November 30, 2010 at 5:05 am

    ijin share masdab.. maturnuwun

  58. dwi putra indarti
    December 14, 2010 at 8:26 pm

    cerita itu gak kan pernah terhapus dari kalbu kami….walau daku hanya ikut ngrasakan gemuruhnya n hujan abu dr radius 25 km….jogja benar benar teraniaya…
    tapi disaat kita mau bangkit dari derita ini kenapa SBY malah mendholimi kita…yah moga aja doa orang 2 yg teraniaya dikabulkan Alloh SWT

  59. jabrik sugeng
    December 23, 2010 at 5:26 pm

    salut buat semuanya…!

  60. August 16, 2011 at 2:51 pm

    semuanya ada hikmahnya….

    salut

  61. Tri Tukijo
    March 8, 2013 at 8:56 pm

    ini yang kami alami 2 tahun lalu……. memang hidup di daerah rawan bencana adalah dilema tetapi apa yang harus kami perbuat jika hidup dan jiwa kami sudah menyatu disini…..
    tak ada yang mengharap ini terjadi tetapi siapa yang kuasa menolak ketika bencana datang.
    saat kejadian saya masih sempat mengambil gambar detik detik evakuasi besar besaran dan saat letusan hebat itu……
    naluri sebagai team evakuasi segera menyadarkan dan menepis rasa takut dalam suasana mencekam saat itu,jam 01.00 wib saya turun sampai Kentungan,jam 02.00 sudah sampai Pakem lagi karena saya tak ingin pergi dari tanah kelahiran apapun yang terjadi. jam 04.00 kurang lebih listrik hidup saya panggil panggil temen” yang bawa ambulans lewat HT,dari PMI Bantul,Sleman datang ke Markas kami ya Markas PMI Pakem tempat kami nongkrong tiap hari selepas kerja. 1 ambulans saya suruh keliling Pakem,1 lagi saya suruh ke Bronggang. bahkan team kami ada satu yang cedera sepatunya kemasukan pasir panas,alhamdulillah tidak menyurutkan niat untuk terus menolong dan meng evakuasi.
    dengan dukungan kendaraan Haglunds yang dikirim dari Markas PMI Pusat kami menembus panasnya Kali Gendol menyeberang ke timur balik lagi ke barat,sedang kami kehilangan kontak dengan keluarga,anak istri saya entah dimana,orang tua ndak tau ada dimana. hanya airmata kami saat memandang temen temen Relawan PMI Pakem yang kelaparan sehabis evakuasi,sedang mereka juga berpisah dengan keluarga mereka tanpa membawa bekal sedikit pun. cerita dokter menggugah hati saya mengingat kembali kejadian 2 tahun lalu,ya dimana harus menjadi pengungsi,petugas sekaligus relawan. ketika jam 4 pagi dikabari dari Kopassus bahwa jam 5.30 harus naik evakuasi,jam 10 ditlp dari kantor harus assesment ternak yang mati…… belum lagi heroikme dilapangan yang harus berburu dengan waktu…..kadang ditengah evakuasi harus lari karena awan panas mengarah ke kami…………. banyak dokumen dokumen yang tersimpan saya simpan sebagai kenangan di akhir 2010….

  1. November 7, 2010 at 7:11 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: