Erupsi Debu Jumat Pagi 1 Juni 2018 di Gunung Merapi

June 1, 2018 Leave a comment

Gunung Merapi meletus pada Jumat pagi1 Juni 2018. Disertai dentuman suara keras disusul gemuruh, terlihat semburan putih abu-abu tebal menyeruak tinggi ke udara. Pemandangan mengesankan sekaligus mencekam itu terlihat hingga sejauh Karanganyar di timur dan Ambarawa di utara, keduanya di propinsi Jawa Tengah. Suara gemuruh terdengar bahkan hingga sejauh Kaloran, Temanggung (juga di Jawa Tengah).

Gambar 1. Saat-saat erupsi debu Merapi 1 Juni 2018, diamati dari Turi (Sleman) di kaki selatan Gunung Merapi. Sumber: Rini Maya Puspita, 2018.

Erupsi Debu

Semenjak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), meningkatkan status aktivitas Gunung Merapi menjadi Waspada (Level II) mulai 21 Mei 2018 pukul 23:00 WIB, maka erupsi seperti ini terkategori sebagai erupsi debu atau erupsi minor. Eruspi tercatat dimulai pada pukul 08:20 WIB dan berlangsung selama 2 menit kemudian. Seismometer (radas pengukur gempa) mencatat erupsi disertai dengan kejadian gempa letusan yang memiliki amplitudo maksimal 77 milimeter.

Material letusan disemburkan hingga setinggi 6.000 meter di atas puncak. Dengan ketinggian kawah Merapi 2.968 mdpl, maka kolom letusan ini membumbung hingga setinggi 8.968 mdpl atau hampir mencapai ketinggian FL 300 (flight level 30.000 feet).Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, lembaga yang bertugas menginformasikan paparan debu vulkanik letusan gunung-gemunung berapi di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya, menginformasikan debu vulkaniknya memang menjangkau FL300.

Gambar 2. Rekaman seismik Gunung Merapi berdasarkan seismometer di stasiun Pusunglodon, dekat puncak. Jejak erupsi debu Merapi terlihat di bagian paling bawah. Sumber: BPPTKG, 2018.

Berdasarkan ketinggian kolom letusannya dan dengan menggunakan hubungan antara tinggi kolom letusan terhadap kecepatan pengeluaran material vulkanik (Sparks, 1997 dan Mastin, 2009) diperhitungkan erupsi debu ini melepaskan sekitar 140 meter3 material vulkanik per detiknya. Sehingga dengan durasi erupsi 2 menit, secara keseluruhan dilepaskan sekitar 17.000 meter3 material vulkanik. Dengan demikian erupsi debu Merapi 1 Juni 2018 masih lebih kecil ketimbang erupsi debu 24 Mei 2018 lalu, yakni sekitar setengahnya saja.

Seperti peristiwa erupsi sejak 21 Mei 2018, erupsi debu kali ini pun mengusung narasi serupa. Yakni sebagai erupsi debu yang menjadi bagian dari awal episode erupsi magmatis Merapi. Erupsi debu Merapi 1 Juni 2018 mewujud dalam letusan bertipe vulkanian, atau vulkano kuat dengan mengacu klasifikasi Escher (1933). Dalam letusan vulkano kuat, kolom letusan disemburkan tinggi ke langit oleh dorongan gas vulkanik bertekanan tinggi.

Material letusannya menjatuhi tubuh gunung sektor lereng dan kaki gunung atau bahkan lebih jauh lagi. Itulah yang terjadi dalam erupsi debu Merapi 1 Juni 2018. Segera setelah menjangkau elevasi hampir 9.000 mdpl, debu letusan melebar horizontal mengikuti hembusan angin regional sebelum gravitasi membuatnya berjatuhan kembali ke paras Bumi. Dalam catatan BPPTKG, hembusan angin membuat debu vulkanik erupsi ini bergerak ke arah barat. Citra satelit Himawari dalam kanal RGB yang disajikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan debu vulkanik mengarah ke barat daya.

Gambar 3. Menit-menit awal sebaran debu vulkanik Gunung Merapi pasca erupsi debunya, diabadikan dari Sleman. Sumber: Danang, 2018.

Status Waspada (Level II)

Erupsi debu ini terjadi dalam situasi Gunung Merapi menyandang status Waspada (Level II). Resiko yang terjadi sejauh ini lebih berupa paparan debu vulkanik. Perlindungan terbaik terhadap abu vulkanik adalah dengan tetap tinggal di dalam ruangan/rumah. Dengan jendela dan ventilasi yang tertutup. Jika terpaksa harus beraktivitas keluar rumah, maka lengkapi diri anda dengan alat perlinfungan diri seperti kacamata, jaket dan helm.

Jangan lupa untuk terus memantau informasi dari lembaga yang berwenang. Seperti BPPTKG untuk informasi soal erupsi Gunung Merapi dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat untuk petunjuk evakuasi bila diperlukan.

Gambar 4. Debu vulkanik produk erupsi debu Merapi 1 Juni 2018 seperti terekam dalam citra satelit Himawari pada kanal RGB yang dipublikasikan BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta. Sumber: BMKG, 2018.

Pada akhirnya kita harus menerima bahwa Gunung Merapi memang telah berubah pasca 2010 TU. Kini ia kerap meletuskan diri secara freatik, meski dalam kurun empat tahun terakhir nyaris tiada kejadian serupa. Hidup ramah bersama Merapi yang telah berubah adalah satu keniscayaan.

Advertisements

Dimana Anda dalam Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi?

May 27, 2018 Leave a comment

Seiring meningkatnya aktivitas Gunung Merapi dengan ditetapkannya status Waspada (Level II) sejak Senin 21 Mei 2018 pukul 23:00 WIB, maka peran peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi jadi semakin penting. Ini adalah sebuah peta yang mendeskripsikan daerah-daerah yang tergolong rawan bencana letusan Gunung Merapi dengan ruang lingkup berupa daerah yang terdampak langsung (bahaya primer) dan daerah yang terdampak tak langsung (bahaya sekunder). Peta KRB Gunung Merapi dibuat oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berkedudukan di bawah Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia.

Dengan peta semacam ini maka masyarakat yeng tinggal atau sedang beraktivitas di lingkungan sekitar Gunung Merapi akan mengetahui lokasi-lokasi manakah yang termasuk ke dalam KRB I, KRB II maupun KRB III. Manakala Gunung Merapi sedang menggeliat, lokasi-lokasi tertentu yang berpotensi terdampak dapat dihindari sehingga potensi jatuhnya korban dapat direduksi.

Pada saat ini peta tersebut sudah berbentuk peta digital. Berikut adalah salah satu contohnya, yang dipublikasikan oleh Kelompok Studi Kawasan Merapi (KSKM) dengan tetap mengacu pada peta publikasi PVMBG. Peta digital ini berupa peta sederhana yang hanya mencakup zonasi kawasan rawan bencana Gunung Merapi dan daerah terlarang radius 3 kilometer dalam status Waspada (Level II).

Tautan (link) peta tersebut dapat diklik di sini.

Peta digital lainnya adalah yang dipublikasikan PVMBG bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Peta digital ini lebih lengkap ketimbang peta yang dipublikasikan KSKM, karena juga menyertakan pos-pos pengamatan Gunung Merapi, tempat-tempat evakuasi, fasilitas-fasilitas kesehatan dan sekolah-sekolah yang menyelenggarakan kelas bahaya LGA Merapi baik di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Jawa Tengah

Tautan (link) peta tersebut dapat diklik di sini.

Bagaimana Cara Menggunakannya?

Bagaimana cara menggunakan peta-peta tersebut?

Pertama, dengan menggunakan gawai pintar anda, klik tautan (link) yang disertakan pada masing-masing peta digital tersebut di atas. Jika aplikasi peta digital seperti Google Maps telah terpasang, maka secara otomatis tautan akan mengarah ke aplikasi tersebut dan menyajikan petanya.

Kedua, jangan lupa aktifkan GPS pada gawai pintar anda. Sehingga dimana posisi anda berada akan langsung terlihat dalam aplikasi Google Maps yang telah dilengkapi dengan peta-peta digital KRB Gunung Merapi. Akurasi posisi memang bergantung pada perangkat gawai pintar yang digunakan. Untuk gawai pintar yang telah mendukung penggunaan APGS dan GLONASS akurasinya akan lebih baik karena tersedia fasilitas GPS online dan GPS offline.

Bagaimana Cara Membaca Petanya?

Pada peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi terdapat tiga zona yang ditandai dengan warna-warna berbeda. Berdasarkan jaraknya terhadap kawah Merapi, maka masing-masing zona tersebut adalah zona KRB III, zona KRB II dan zona KRB I.

Zona KRB III Gunung Merapi adalah daerah seluas 120 kilometer2 dengan warna merah yang posisinya paling dekat terhadap kawah sehingga paling rawan. KRB III berpotensi besar mengalami terjangan awan panas (aliran piroklastika), aliran lava, lontaran batu pijar, guguran batu pijar dan paparan gas beracun.

Sementara zona KRB II Gunung Merapi adalah daerah seluas 97 kilometer2 yang berwarna merah muda dan berjarak sedikit lebih jauh terhadap kawah dibanding KRB III. Selain masih berpeluang terlanda aliran awan panas, paparan gas beracun dan guguran batu pijar meski potensinya lebih kecil ketimbang KRB III, KRB II ini juga berpotensi besar terpapar hujan abu lebat dan aliran lahar.

Dan zona KRB I Gunung Merapi adalah daerah berwarna kuning dengan luas 31 kilometer2 yang berjarak lebih jauh lagi terhadap kawah dibanding KRB II. KRB I mengerucut pada lembah-lembah sungai yang berhulu di Gunung Merapi khususnya di lereng tenggara, selatan, barat daya dan barat. KRB I ini memiliki potensi terlanda aliran lahar, kecuali dalam kasus letusan besar.

Krisis Erupsi Merapi 21-24 Mei 2018 dan Status Waspada (Level II)

May 26, 2018 Leave a comment

Selama tiga hari berturut-turut mulai Senin 21 Mei 2018, Gunung Merapi mempertontonkan solah tingkahnya yang tak pernah terlihat selama setidaknya delapan tahun terakhir. Ia mengalami erupsi secara bertubi-tubi, hingga 8 kejadian, dalam tempo 81 jam. Erupsi pertama terjadi pada Senin dinihari 21 Mei 2018 pukul 01:25 WIB, yang membumbungkan asap dan debu hingga setinggi 700 meter di atas kawah. Sementara erupsi terakhir terjadi pada Kamis 24 Mei 2018 pukul 10:48 WIB, menyemburkan debu vulkanik hingga menjangkau ketinggian 1.500 meter di atas kawah.

Gambar 1. Kolom letusan mulai membumbung saat terjadi erupsi ke-2 dalam babak erupsi beruntun Gunung Merapi selama 81 jam, 21-24 Mei 2018. Semula disangka sebagai erupsi freatik, analisis debu produk letusan memperlihatkan erupsi ini merupakan awal dari erupsi magmatik Merapi. Diabadikan dari Selo. Sumber: Anonim, 2018.

Erupsi bertubi-tubi itu menaburkan tak kurang dari 37.000 meter3 material vulkanik ke langit. Sebagian besar diantaranya disemburkan pada erupsi Kamis dinihari 24 Mei 2018 pukul 02:56 WIB, yang menghembuskan kolom letusannya hingga setinggi 6.000 meter di atas kawah. Menjadikannya erupsi terbesar semenjak berakhirnya episode Letusan Merapi 2010 dan sedikit lebih besar dibanding erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018. Erupsi bertubi-tubi itu menyebabkan lereng gunung sektor barat daya dan selatan diguyur pasir. Sedangkan debu vulkaniknya yang melayang terbawa angin ke selatan menghujani Yogyakarta sebagai hujan abu tipis. Sementara debu yang melayang jauh barat mampu menciptakan hujan abu tipis di Kroya (Kabupaten Cilacap) yang berjarak 130 kilometer dari Merapi.

Pendeknya, selama babak erupsi yang bertubi-tubi tersebut tujuh kabupaten/kota di dua propinsi sempat terpapar debu vulkanik. Yakni Kota Yogyakarta, Kab. Sleman dan Kab. Kulonprogo di propinsi DIY. Dan Kab. Magelang, Kab. Purworejo, Kab. Kebumen serta Kab. Cilacap di propinsi Jawa Tengah. Kecuali di kabupaten yang tepat berbatasan dengan gunung Merapi, paparan debu vulkaniknya sangat ringan. Ia hanya baru bisa dirasakan mengganggu di kedua mata kita manakala berkendara. Tak ada korban luka-luka, apalagi korban jiwa, yang jatuh akibat rentetan erupsi ini.



Gambar 2. Sebaran debu vulkanik produk erupsi debu Merapi, mulai dari erupsi pertama (atas), kedua (tengah) dan kelima (bawah). Sumber: BPPTKG, 2018.

Awal Letusan Merapi 2018?

Krisis erupsi Merapi yang ditandai rentetan erupsi itu semula diduga sebagai erupsi freatik. Atau serupa dengan kejadian erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018 yang mengejutkan. Namun analisa BPPTKG (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi) terhadap sampel debu vulkanik produk erupsi 21 Mei 2018 menyajikan cerita berbeda. Komposisinya ternyata berbeda dengan komposisi debu vulkanik produk erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018, khususnya dalam hal kadar Silikat (SiO2).

Gambar 3. Hasil analisis BPPTKG tentang komposisi debu vulkanik produk krisis erupsi Merapi dibandingkan dengan produk erupsi freatik 11 Mei 2018 serta produk Letusan Merapi 2006 dan Letusan Merapi 2010. Nampak jelas debu produk krisis erupsi Merapi kali ini berbeda dengan produk erupsi sebelumnya, indikasi adanya keterlibatan magma segar. Sumber: BPPTKG, 2018.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa erupsi beruntun itu lebih didominasi oleh aktivitas magma segar. Yakni magma yang berasal dari dapur magma di perutbumi Merapi dan sedang bergerak naik. Bukan magma tua, yakni magma sisa episode letusan sebelumnya terutama Letusan Merapi 2010 yang membentuk kubah lava di dasar kawah saat ini. Mungkin lebih tepat bila rangkaian letusan di awal krisis erupsi Merapi kali ini disebut erupsi debu yang bertenagakan dorongan gas-gas vulkanik panas dari magma segar Merapi. Bukan lagi erupsi freatik, erupsi yang didorong oleh uap air bertekanan tinggi akibat pemanasan bawah tanah oleh magma tua di dasar kubah lava 2010. Dengan kata lain, krisis erupsi Merapi saat ini merupakan awal dari fase letusan magmatik.

Selain gempa-gempa letusan, krisis erupsi Merapi juga ditandai oleh gempa khas. Pasca terjadinya erupsi debu ketiga pada 21 Mei 2018 pukul 17:50 WIB, terdeteksi satu gempa vulkanik dalam pada pukul 19:12 WIB. Sumbernya sedalam 3 kilometer di bawah kawah. Gempa vulkanik dalam adalah indikasi gerakan fluida (magma atau gas) di perutbumi Merapi. Selepas gempa vulkanik ini terjadilah gempa tremor menerus. Ini adalah gempa khas pada gunung berapi akibat vibrasi (getaran) menerus pipa magma di bawah kawah manakala fluida segar (magma maupun gas) melewatinya dengan kecepatan tertentu. Tremor menerusitu berdurasi 5 menit dengan frekuensi 0,2 Hz.

Gambar 4. Situasi kegempaan Gunung Merapi pada Senin 21 Mei 2018 sebagaimana terekam dari stasun seismik Pasarbubar. Nampak gempa letusan dari erupsi ketiga (pukul 17:50 WIB), yang disusul dengan kehadiran gempa vulkanik dalam (pukul 19:12 WIB) dan akhirnya gempa tremor. Inilah salah satu alasan BPPTKG menaikkan status aktivitas Gunung Merapi menjadi Waspada (Level II). Sumber: BPPTKG, 2018.

Kombinasi hasil pengamatan rentetan erupsi tersebut dengan data seismik melandasi BPPTKG untuk menaikkan status aktivitas Gunung Merapi. Maka sejak Senin 21 Mei 2018 pukul 23:00 WIB, Gunung Merapi menyandang status Waspada (Level II). Kenaikan status ini sekaligus menjadi penanda bagi awal dari episode letusan yang baru, yakni Letusan Merapi 2018.

Konsekuensi

Naiknya status Gunung Merapi memberikan sejumlah implikasi. Misalnya, kegiatan pendakian Gunung Merapi dihentikan kecuali untuk kepentingan penelitian dan penyelidikan terkait mitigasi bencana letusan. Penghentian kegiatan pendakian juga diikuti dengan keputusan penutupan Taman Nasional Gunung Merapi Merbabu dari aktivitas manusia oleh Balai TNGM. Selanjutnya, dibentuk zona beradius 3 kilometer dari kawah yang harus kosong dari aktivitas manusia. Implikasinya sejumlah obyek wisata di dalam dan di sekitar zona tersebut juga ditutup untuk sementara.

Gambar 5. Kepulan debu vulkanik Merapi di dasar kolom letusan pada saat terjadinya erupsi kedua (21 Mei 2018 pukul 09:38 WIB) seperti yang direkam kamera sirkuit tertutup (CCTV) di puncak. Sumber: BPPTKG, 2018.

Kenaikan status aktivitas menjadi Waspada (Level II) juga berdampak pada masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Merapi. Bagi penduduk dalam KRB I dan KRB II, aktivitas sehari-hari dapat dilakukan seperti sedia kala. Akan tetapi penduduk dalam KRB III, yakni kawasan yang terdekat dengan kawah Merapi, perlu meningkatkan kewaspadaan meski tetap bisa menunaikan aktivitasnya sehari-hari.

Status Waspada (Level II) pada Gunung Merapi dengan krisis erupsinya yang menandai awal periode Letusan Merapi 2018 menunjukkan bahwa gunung berapi teraktif di Indonesia tersebut kini mulai bangun kembali. Menggeliat setelah terlelap selama hampir delapan tahun lamanya pasca episode Letusan Merapi 2010. Aktivitas ini merupakan bagian dari siklus yang dijalani Gunung Merapi, layaknya kehidupan makhluk hidup. Mari hormati dan berikan ruang bagi Gunung Merapi selama menunaikan hajatnya setelah sekian lama sang gunung terlelap sembari menyajikan manfaat luar biasa untuk perikehidupan umat manusia disekelilingnya. Mari sosialisasikan status Gunung Merapi apa adanya, mengacu pada institusi yang berwenang untuk itu, sehingga kita bisa memberinya kesempatan sejenak untuk beraktivitas.

Referensi :

BPPTKG. 2018. Surat Peningkatan Tingkat Aktivitas Gunung Merapi dari Normal ke Waspada. Tertanggal 21 Mei 2018.

BPPTKG. 2018. Laporan Peningkatan Aktivitas Gunung Merapi. Tertanggal 21 Mei 2018.

BPPTKG. 2018. Siaran Pers Rilis 23 Mei 2018.

BPPTKG. 2018. Siaran Pers Rilis 24 Mei 2018.

Erupsi Freatik Jumat Pagi 11 Mei 2018 di Gunung Merapi

May 23, 2018 Leave a comment

Gunung Merapi meletus Jumat pagi 11 Mei 2018. Dari puncaknya terlihat semburan berwarna putih tebal menyeruak tinggi ke udara. Semburan itu laksana lengan raksasa yang meninju langit, di tengah ketenangan pagi nan cerah. Getaran tanah terasa di sekujur kaki gunung. Getaran yang lebih halus, yang tak bisa dirasakan manusia, bahkan terendus hingga ke Gunungkidul, puluhan kilometer dari Gunung Merapi. Suara gemuruh terdengar dimana-mana hingga ke Cawas (Klaten).

Gambar 1. Saat-saat Gunung Berapi memuntahkan material vulkaniknya dalam erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018. Kolom letusan membumbung tinggi hingga elevasi 8.800 mdpl dalam letusan bertipe vulkanian/vulkano kuat. Diabadikan dari sisi utara Gunung Merapi. Sumber: BPPTKG, 2018.

Tak pelak rutinitas pagi di kawasan seputar gunung seperti di kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Klaten serta Kabupaten Magelang dan Kota Magelang pun tersela. Semua mata menatap ke arah Merapi yang sedang bertingkah. Media sosial pun dibanjiri aneka foto dan video situasi saat dan pasca erupsi Merapi dilihat dari berbagai lokasi. Darinya kita mengetahui erupsi Merapi kali ini ternyata bahkan terlihat jelas dari kawasan Gunung Kendil (Wonosobo), berpuluh kilometer jauhnya. Tak ingin ketinggalan pula, hoaks (kabar-bohong) pun sempat bergentayangan.

Erupsi Freatik

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), sebuah institusi yang bertanggung jawab memantau aktivitas Gunung Merapi dan berada di bawah payung Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI, mencatat letusan dimulai pada pukul 07:40 WIB. Durasi letusan adalah 5 menit, namun getaran yang ditimbulkannya terasa hingga 10 menit. Seismometer (radas pengukur gempa) mencatat getaran gempa yang mengiringi letusan selama 450 detik dengan amplitido maksimal 16 milimeter.

Material letusan disemburkan hingga setinggi 5.500 meter di atas puncak. Dengan ketinggian kawah Merapi sekitar 2.900 mdpl, maka kolom letusan ini membumbung hingga setinggi 8.800 mdpl. Angka ini konsisten dengan pengukuran kadar SO2 melalui citra satelit oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), lembaga meteorologi Amerika Serikat. Mereka juga menemukan puncak kolom letusan berada di antara elevasi 8.000 hingga 10.000 mdpl.

Gambar 2. Rekaman kegempaan dari salah satu seismometer yang ditanam BPPTKG di tubuh Gunung Merapi. Rekaman ini memperlihatkan terjadinya getaran kuat seiring erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018. Getaran tersebut berlangsung selama sekitar 450 detik dengan amplitudo getaran terbesar mencapai 16 milimeter. Sumber: BPPTKG, 2018.

Letusan hanya berlangsung satu kali dan tanpa didului peningkatan aktivitas seismik. Sehingga BPPTKG mengkategorikannya sebagai erupsi freatik. Memang sejak dua hari sebelumnya terdeteksi 6 gempa vulkanik dalam. Ini adalah indikasi terjadinya gerakan fluida di perutbumi Gunung Merapi, yang bisa berupa gas vulkanik maupun magma. Akan tetapi kejadian gempa vulkanik ini terbilang normal untuk Gunung Merapi. Salah satunya karena dalam minggu-minggu pengamatan sebelumnya juga kerap terjadi dan bersifat acak. Jadi belum menunjukkan peningkatan secara konsisten sebagaimana pola umum menjelang letusan gunung berapi pada umumnya. Pemantauan deformasi tubuh gunung berdasar radas/instrumen EDM (electronic distance measurement) dan GPS juga tidak menunjukkan tanda-tanda injeksi (masuknya) magma segar ke dalam tubuh Gunung Merapi. Injeksi magma segar juga merupakan pola umum menjelang letusan, yang membuat tubuh gunung bakal membengkak.

Satu-satunya hal takbiasa yang teramati dalam erupsi freatik ini adalah lonjakan pada temperatur kubah lava 2010. Tepatnya pada bagian belahannya. Sejak tahun 2013 situasi kubah lava 2010, yakni tumpukan lava sisa Letusan Merapi 2010 yang menutupi mulut lubang letusan, telah terbelah oleh lembah diagonal sepanjang 230 meter dan lebar 50 meter seiring peristiwa erupsi freatik besar 18 November 2013. Enam jam sebelum erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018 ini terjadi, atau pada pukul 01:00 WIB, pemantauan dengan menggunakan kamera termal memperlihatkan suhu bagian ini hanya 38º C. Namun 45 menit pasca erupsi, suhunya sudah melonjak drastis menjadi 90,6º C.

Gambar 3. Rekaman kegempaan dari seismometer yang ditanam jauh dari lokasi Gunung Merapi. Yakni seismometer di Wanagama Gunungkidul (atas) dan Cawas Klaten (bawah), masing-masing sejauh 40 kilometer dan 35 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Dua seismometer berbeda tersebut menunjukkan usikan pada rentang waktu yang bersamaan dengan kejadian erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018. Sumber: Yudhi Hermawan, 2018.

Erupsi freatik 11 Mei 2018 mewujud dalam letusan bertipe vulkanian, atau vulkano kuat bila mengacu klasifikasi Escher (1933). Dalam letusan vulkano kuat, kolom letusan disemburkan tinggi ke langit oleh dorongan gas vulkanik bertekanan tinggi. Material letusannya menjatuhi tubuh gunung sektor lereng dan kaki gunung atau bahkan lebih jauh lagi. Itulah yang terjadi dalam Erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018. Segera setelah menjangkau elevasi 8.800 mdpl, debu letusan melebar horizontal mengikuti hembusan angin regional sebelum gravitasi membuatnya berjatuhan kembali ke paras Bumi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat angin regional bertiup ke arah selatan – tenggara. Sehingga material erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018 pun bergerak ke arah selatan dan tenggara, dengan gerak ke arah tenggara lebih dominan. Sembari bergerak material erupsi pun menyirami daratan dibawahnya dengan hujan abu.

Berikut adalah rangkuman citra satelit Himawari-8 pada kanal inframerah yang menggambarkan pergerakan debu vulkanik erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018 :

Saat erupsi terjadi, 166 orang pendaki sedang berada di dataran Pasarbubar tepat di bawah puncak Merapi. Sekitar 50 orang diantaranya sedang bergerak naik, mencoba menaklukkan puncak. Banyak yang pingsan akibat terlalu banyak menghirup gas SO2 produk letusan. Namun semua berhasil dievakuasi oleh para relawan yang menyusul naik pasca letusan. Sementara di sisi bawahnya, tercatat 110 wisata lava tour terpaksa dibatalkan. Wisata lava tour merupakan wisata minat khusus yang berkembang pasca Letusan Merapi 2010 dengan mengajak wisatawan beranjangsana melihat tempat-tempat yang pernah terlanda material letusan Merapi.

Sementara di kawasan kaki gunung, hujan debu pekat dan pasir mengguyur sektor selatan Gunung Merapi. Obyek wisata seperti Kaliurang terpaksa ditutup. Lebih jauh lagi, hujan debu berintensitas ringan terdeteksi hingga pesisir selatan. Tak pelak Kota Yogyakarta pun dihujani debu. Meski berintensitas ringan, namun dipandang mampu untuk mengganggu lalu lintas pesawat terbang. Pangkalan TNI AU Adisutjipto memutuskan untuk menghentikan aktivitas penerbangan militer. Belakangan otoritas bandara Adisutjipto juga melakukan hal serupa, menutup aktivitas penerbangan sipil mulai pukul 10:40 WIB hingga enam jam kemudian. Tercatat 37 penerbangan terpaksa dibatalkan, baik domestik maupun internasional. Dengan semua itu patut disyukuri tiada korban luka-luka apalagi korban jiwa yang jatuh.

Berikut adalah dramatisnya letusan seperti diabadikan sejumlah pendaki tepat di daratan Pasarbubar di bawah puncak :

Penyebab

Seperti peristiwa sebelumnya, erupsi freatik Merapi kali ini pun mengusung narasi serupa. Yakni sebagai bagian dari dinamika Gunung Merapi pasca 2010. Sebagai gunung berapi aktif, fluida Merapi senantiasa menggeliat dalam perutbuminya. Yakni pada kantung magma dangkal tepat di bawah tubuh gunung. Fluida ini bisa berupa gas vulkanik, dapat pula berupa magma. Semuanya bersuhu tinggi. Sesuai sifatnya, gas vulkanik lebih mudah meloloskan diri dari kedalaman perutbumi di bawah Merapi ketimbang magma yang cair sangat kental. Emisi gas vulkanik umum dijumpai keluar dari area kubah lava 2010. Sebelum kejadian erupsi freatik Merapi 18 November 2013 , di tepi kubah lava ini terdapat titik-titik sinter, tempat gas-gas vulkanik panas terbebaskan keluar ke atmosfer.

Sementara menjelang 11 Mei 2018 TU, tubuh Gunung Merapi khususnya bagian puncak mengandung cukup banyak air. Air bawahtanah ini jelas masuk melalui hujan. Mungkin akumulasi air hujan selama musim penghujan kali ini yang tercatat sejak Oktober 2017 TU. Air bawahtanah yang membasahi bagian dalam puncak ini, tatkala bersua dengan gas-gas vulkanik yang demikian panas, sontak akan menguap. Bilamana tidak ada halangan berarti, uap air mudah mengalir melalui pipa magma (diatrema) lantas keluar dari ujungnya, kubah lava 2010. Khususnya dari belahannya, yang merupakan zona terlemah. Inilah yang sering terlihat mengepul dari puncak Merapi bersama dengan gas SO2, sebuah ciri khas gunung berapi aktif.

Gambar 4. Salah satu lokasi pada Obyek Wisata Kaliurang yang nampak berbalut debu dan pasir produk erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018. Sumber: Anonim, 2018.

Nah menjelang 11 Mei 2018, rupanya ada penghalang atau sumbatan yang cukup signifikan dalam pipa magma Merapi bagian atas. Penghalang itu mungkin bongkahan batuan besar, atau mungkin batuan yang lebih kecil, yang ambrol hingga menyumbat sepenuhnya pipa magma bagian atas. Apapun, penghalang itu jelas cukup kuat untuk menyekap uap air hingga tak lolos. Sementara produksi uap air berlangsung terus, membuat kian banyak yang terbentuk hingga kian tinggi tekanannya. Sampai beberapa lama penghalang ini masih sanggup menahan tekanan uap air. Namun lama kelamaan ia kewalahan juga.

Begitu tekanan uap melampaui ambang batas daya tahan penghalang, penghalang pun jebol. Uap bertekanan tinggi pun mengalir deras ke atas. Selain mengangkut material penghalang yang sudah remuk dibobol, uap bertekanan tinggi juga menggerus dinding pipa magma. Inilah yang menjadi kerikil, pasir dan debu vulkanik dalam erupsi freatik. Tingginya tekanan uap air ini menjadi penyebab mengapa kolom letusan dalam erupsi freatik erapi 11 Mei 2018 membumbung demikian tinggi dan bertipe vulkano kuat.

Gambar 5. Diagram sederhana erupsi freatik di Gunung Merapi. Tubuh gunung (coklat) hanya digambarkan di sekitar puncak, dengan kawah tersumbat kubah lava yang permukaannya sudah mulai mendingin (hitam) namun dasarnya masih membara (orange). Kubah lava menjadi pembatas udara luar dengan saluran magma yang masih penuh berisi magma sisa letusan sebelumnya yang masih membara (warna merah). A= saat hujan mengguyur puncak, membuat air tergenang di dasar kawah. B= air yang tergenang memasuki interior/dasar kubah lava dan terpanaskan brutal hingga membentuk uap sangat banyak. C= uap menyembur sembari membawa partikel debu dalam kubah lava hingga membentuk kolom debu vulkanik. Sumber: Sudibyo, 2013.

Ciri khas lainnya dari erupsi freatik Merapi, begitu uap air telah menjebol keluar maka tidak ada lagi pasokan material vulkanik dari bagian bawah pipa magma. Maka durasi letusan pun tergolong singkat dan hanya terjadi sekali saja, tanpa diikuti letusan-letusan berikutnya secara beruntun. Dan karena material letusan berasal dari bagian puncak Merapi, tepatnya dari dasar kubah lava 2010 dan bukannya magma segar, maka ia relatif dingin. Begitu dikeluarkan, ia tak lagi panas. Sangat bertolak belakang dengan letusan yang menghamburkan magma segar, seperti kejadian Letusan Merapi 2010, dengan endapan lava pijar dan endapan awan panas yang tetap bersuhu tinggi hingga berminggu-minggu kemudian.

Erupsi freatik kadangkala adalah babak pembuka tahap letusan berikutnya yang berujung pada letusan magmatik. Misalnya pada Letusan Sinabung 2013 yang masih berlangsung sampai sekarang. Dalam hal ini erupsi freatik terjadi manakala magma segar, yang sedang menanjak naik dalam pipa magma, melepaskan gas-gas vulkanik panasnya yang langsung memanggang air bawahtanah. Erupsi freatik seperti ini akan menciptakan jalan bebas hambatan bagi tahap erupsi berikutnya, yakni erupsi freatomagmatik (saat magma segar langsung bersentuhan dengan air bawah tanah) dan erupsi magmatik (saat magma segar mulai keluar dari lubang letusan). Akan tetapi ada pula erupsi freatik yang berdiri sendiri, yakni langsung berhenti tanpa diikuti jenis letusan yang lain. Misalnya seperti peristiwa Letusan Kawah Sileri 2017, Letusan Kawah Ijen 2018 dan juga aneka letusan di Gunung Merapi semenjak 2011 TU.

Kejadian erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018 sedikit mengejutkan. Mengingat semenjak 18 November 2013 TU, situasi kubah lava 2010 sudah berubah. Terbentuk belahan yang adalah retakan memanjang, produk erupsi freatik Merapi terkuat (hingga saat itu). Belahan tersebut diyakini bakal memerankan katup pelepas tekanan bagi pipa magma Merapi. Sehingga potensi erupsi freatik berikutnya bakal lebih kecil. Dan demikianlah adanya. Sejak 2014, hingga 11 Mei 2018, kejadian erupsi freatik di Gunung Merapi praktis menghilang.

Gambar 6. Letusan Sinabung pada 9 Februari 2015 TU, diabadikan fotografer Hendi Syarifuddin. Letusan ini merupakan contoh erupsi magmatik, dimana terbentuk awan panas guguran yang mengalir ke lereng. Sumber: Syarifuddin, 2015 dalam Geomagz, Maret 2015.

Harus Bagaimana?

Dapatkah erupsi freatik di Gunung Merapi ini dideteksi sebelum benar-benar terjadi?

Sayangnya, tidak. Atau tepatnya untuk saat ini belum. Strategi pengamatan aktivitas gunung berapi yang umum diterapkan pada saat ini, termasuk di Gunung Merapi, adalah pengamatan untuk memprakirakan erupsi magmatik. Sehingga hanya mengindra perubahan perilaku gunung berapi dalam skala relatif besar. Sinyal-sinyal perubahan itu yang kemudian ditangkap radas seismometer (untuk getaran-getaran gempanya), tiltmeter (untuk miring datarnya lereng), EDM (untuk menggelembung mengempisnya tubuh gunung) hingga geokimia. Dalam ranah kiwari bahkan digunakan teknologi pencitraan satelit, umumnya satelit radar yang diproses dengan teknik interferometri, guna menunjang informasi soal kembang kempisnya tubuh gunung. Sementara dalam kejadian erupsi freatik, terlebih erupsi freatik yang berdiri sendiri seperti halnya berulang-ulang terjadi di Gunung Merapi pasca 2010 TU, sinyal-sinyalnya mungkin ada di bawah ambang batas kemampuan radas-radas tersebut.

Gambar 7. Distribusi gas SO2 dalam erupsi freatik Merapi 11 Mei 2018 sebagaimana dicitra oleh satelit NOAA. Sumber: NOAA, 2018.

Jadi hingga saat ini belum ada teknologi ‘matang’ yang bisa digunakan untuk mendeteksi kejadian erupsi freatik yang berdiri sendiri. Dengan ketiadaan tersebut maka antisipasinya hanyalah dengan menghindari memasuki kawasan paling rawan terancam erupsi freatik, yakni puncak Merapi. BPPTKG sejak lama telah menekankan agar pendakian Gunung Merapi hanya sampai di kawasan Pasarbubar. Tidak ke puncak. Selain morfologi puncak telah berubah dramatis pasca Letusan Merapi 2010 dengan terbentuknya kawah terbuka ke tenggara berdinding sangat curam yang bisa ambrol sewaktu-waktu, juga karena potensi terjadinya erupsi freatik. Dampak kejadian erupsi freatik bagi kawasan sekitar puncak, selain guyuran batu dan kerikil juga ada semburan gas beracun seperti SO2, CO2 dan H2S. Semua itu bisa melukai atau bahkan menewaskan orang.

Sementara kawasan kaki gunung atau yang lebih jauh lagi memiliki resiko jauh lebih kecil. Dampak erupsi freatik di sini lebih berupa hujan debu dengan intensitas ringan hingga sedang. Antisipasi yang bisa dilakukan adalah menyediakan masker dalam kotak darurat kita. Sehingga kala erupsi freatik terjadi dan mengguyurkan hujan debu, kita tak perlu kelabakan mencari masker. Dan jangan lupa untuk terus memantau informasi dari lembaga yang berwenang. Seperti BPPTKG untuk informasi soal erupsi Gunung Merapi dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat untuk petunjuk evakuasi bila diperlukan.

Gambar 8. Panorama dasar kawah Merapi dimana kubah lava 2010 berada antara sebelum (kiri) dan sesudah erupsi freatik (kanan). Kamera CCTV menghadap ke barat daya. Nampak ujung barat laut belahan kubah lava 2010 mengalami perubahan bentuk dan ukuran akibat erupsi. Sumber: BPPTKG, 2018.

Pada akhirnya kita harus menerima bahwa Gunung Merapi memang telah berubah pasca 2010 TU. Kini ia kerap meletuskan diri secara freatik, meski dalam kurun empat tahun terakhir nyaris tiada kejadian serupa. Hidup ramah bersama Merapi yang telah berubah adalah satu keniscayaan.

Referensi :

BPPTKG. 2018. Press Release Erupsi Freatik Gunung Merapi 11 Mei 2018, diakses 11 Mei 2018.

BPPTKG. 2018. Laporan Singkat Erupsi Gunung Merapi, Rilis Tanggal 11 Mei 2018 pukul 12:00 WIB.

Yudhi Hermawan. 2018. komunikasi pribadi.

Erupsi Freatik Rabu 23 Mei 2018 pukul 03:31 WIB

May 23, 2018 Leave a comment

Rekan-rekan khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya.

Baru saja, Rabu 23 Mei 2018 pukul 03:31 WIB Gunung Merapi mengalami erupsi freatik
berukuran sedang
yang berlangsung selama 4 menit (berdasar rekaman seismik) dengan ketinggian puncak kolom asap 2.000 meter di atas kawah dan mengarah ke baratdaya.

Ini erupsi freatik kelima di Merapi dalam 50 jam terakhir.

BPBD Sleman maupun BPBD Magelang masih standby. Area 3 km dari kawah dilarang dimasuki manusia.

Tetap tenang, tetap ikuti informasi dari sumber primer seperti BPPTKG dan BPBD setempat. Sampai saat ini status Gunung Merapi berada di tingkat Waspada (Level II).

Mekaten 🙏

Categories: Aktivitas Merapi

Tanya-Jawab Imajiner Seputar Erupsi Freatik Gunung Merapi

April 25, 2014 1 comment

Tanya (T): apa yang terjadi di Gunung Merapi pada Minggu pagi 20 April 2014 kemarin? Mengapa terjadi hujan debu?

Jawab (J): kemarin Gunung Merapi mengalami peristiwa hembusan atau yang secara teknis dinamakan erupsi freatik. Erupsi freatik Merapi berlangsung pada Minggu 20 April 2014 pukul 04:26 WIB yang berlangsung selama 20 menit kemudian. Erupsi ini menyemburkan material vulkanik dalam wujud kerikil, pasir dan debu bersama dengan gas-gas vulkanik ke udara hingga ketinggian tertentu sebagai kolom letusan (asap) yang sempat teramati dari desa Sewukan. Kolom tersebut lantas berjatuhan kembali ke permukaan Bumi.

T : wilayah mana saja yang terkena dampak peristiwa ini?

J : material kerikil dan bongkah yang lebih besar hanya berjatuhan di sekitar puncak, sementara pasir berjatuhan di tempat yang sedikit lebih jauh yakni di lereng dan kaki gunung. Sedangkan debunya tersebar jauh lebih luas mengikuti hembusan angin regional. Desa-desa di sekujur lereng Gunung Merapi yang dilaporkan mengalami hujan debu dan pasir adalah desa Glagaharjo, Balerante, Tegalmulyo, Kepurun, Sindumartani, Kaliurang, Hargobinangun, Sukoharjo, Jerukagung, Banyudono, Keningar, Krinjing, Sewukan dan Tlogolele. Sementara jika kita fokus pada debunya saja, erupsi freatik Merapi kali ini menghasilkan hujan debu tipis di Kabupaten Sleman, kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul (sebagian), Kabupaten Kulonprogo (sebagian), Kabupaten Purworejo (sebagian) dan bahkan menjangkau Kabupaten Kebumen. Dengan demikian debu vulkanik erupsi freatik ini menyebar ke arah selatan-barat daya-barat hingga sejauh lebihd ari 100 km dari Gunung Merapi.

T : apa itu erupsi freatik?

J : erupsi freatik adalah erupsi (letusan gunung berapi) yang ditenagai dan didominasi oleh uap air. Jadi erupsi ini melepaskan uap air bertekanan tinggi dalam jumlah besar secara mendadak setelah uap air tersebut berhasil menembus (menjebol) sumbatan yang menghalanginya. Karena tekanannya yang tinggi, maka uap air ini sanggup menggerus dan melepaskan butir-butir kerikil, pasir dan debu di sepanjang dinding saluran magma (diatrema) yang dilintasinya. Sehingga uap air yang tersembur pun bercampur dengan material vulkanik dalam bentuk kerikil, pasir dan debu.

T : apa bedanya erupsi freatik dengan erupsi gunung berapi pada umumnya ?

J : mungkin yang dimaksud erupsi pada umumnya adalah erupsi yang menghasilkan awan panas (wedhus gembel) dan lava disertai kepulan debu vulkanik ya? Jadi begini, pada dasarnya ada tiga jenis erupsi yang bisa dijumpai pada gunung berapi yang sedang menanjak aktivitasnya. Yakni erupsi freatik, freatomagmatik dan magmatik. Erupsi freatik ditenagai oleh uap air, yang berasal dari air bawah tanah yang mengalami pemanasan intensif oleh sumber panas tertentu. Sementara erupsi freatomagmatik mirip dengan erupsi freatik namun sebagian tenaganya berasal dari magma segar yang sedang bergerak naik. Dan erupsi magmatik sama sekali berbeda dari keduanya karena ditenagai sepenuhnya oleh magma segar yang sudah keluar di permukaan Bumi dan menghasilkan lava maupun awan panas. Jadi perbedaannya terletak pada sumber tenaganya, apakah uap air ataukah magma segar.

Gambar 1. Perbandingan ketampakan antara erupsi freatik dengan erupsi magmatik. Atas: erupsi freatik Merapi pada 10 Maret 2014 diabadikan dari arah selatan. Nampak asap (kolom erupsi) menghembus ke atas dan kemudian hanyut ke arah timur sembari menurunkan debunya (sebagai hujan debu) di lereng timur. Bawah: salah satu erupsi magmatik di Gunung Sinabung yang terjadi pada 30 Desember 2013. Perhatikan bahwa asap (kolom erupsi)-nya jauh lebih pekat dan lebih bergumpal-gumpal. Perhatikan juga adanya bagian asap pekat yang sedang menuruni lereng sebagai awan panas (wedhus gembel). Sumber: Bambang Mertani, 2014; Badan Geologi, 2014.

Gambar 1. Perbandingan ketampakan antara erupsi freatik dengan erupsi magmatik. Atas: erupsi freatik Merapi pada 10 Maret 2014 diabadikan dari arah selatan. Nampak asap (kolom erupsi) menghembus ke atas dan kemudian hanyut ke arah timur sembari menurunkan debunya (sebagai hujan debu) di lereng timur. Bawah: salah satu erupsi magmatik di Gunung Sinabung yang terjadi pada 30 Desember 2013. Perhatikan bahwa asap (kolom erupsi)-nya jauh lebih pekat dan lebih bergumpal-gumpal. Perhatikan juga adanya bagian asap pekat yang sedang menuruni lereng sebagai awan panas (wedhus gembel). Sumber: Bambang Mertani, 2014; Badan Geologi, 2014.

T : apa bedanya erupsi freatik dengan hembusan ?

J : keduanya merupakan istilah berbeda dari fenomena yang sama. Kosakata hembusan lebih sering dipakai untuk mendeskripsikan erupsi freatik berskala kecil sehingga hanya menghasilkan semburan yang didominasi warna putih, sebagai pertanda hampir seluruh produk erupsinya adalah gas yang didominasi uap air. Sementara kosakata erupsi freatik digunakan untuk menggambarkan semburan yang tak lagi berwarna putih, namun abu-abu atau lebih gelap lagi karena telah disertai komponen material vulkanik seperti kerikil, pasir dan debu dalam jumlah signifikan.

T : bagaimana kita bisa meyakini bahwa yang terjadi di Gunung Merapi kemarin adalah erupsi freatik dan bukannya erupsi magmatik ?

J : parameter yang paling sederhana adalah berdasarkan pada suhu material hasil erupsi. Pada erupsi freatik, suhu material hasil erupsinya rendah karena pada dasarnya sumber tenaganya hanya uap air bertekanan tinggi. Meski uap air tersebut juga bersuhu tinggi, sehingga disebut uap air superpanas (superheated steam), namun tak sanggup memanaskan material hasil erupsi hingga suhu tinggi yang setara dengan suhu lava. Berbeda dengan material hasil erupsi magmatik yang suhunya cukup tinggi setara dengan suhu lava pada umumnya. Dalam salah satu pengukuran yang dilakukan BPPTKG (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi) sebagai institusi pemantau Gunung Merapi, diketahui bahwa material hasil erupsi freatik yang telah diendapkan sehari sebelumnya hanya bersuhu 200 derajat Celcius. Bandingkan dengan material hasil erupsi magmatik, yang juga telah diendapkan selama sehari pula, yang masih bersuhu 600 derajat Celcius. Untuk ukuran gunung berapi, suhu material hasil erupsi freatik tergolong rendah.

T : tadi disebutkan “dalam salah satu pengukuran BPPTKG.” Seberapa sering sih peristiwa erupsi freatik Gunung Merapi terjadi ?

J : cukup sering. Jika keseluruhan peristiwa hembusan dan erupsi freatik dihitung, maka semenjak 2011 hingga sekarang (April 2014) telah terjadi lebih dari 80 kali erupsi. Jika dihitung semenjak Juli 2013, telah terjadi sedikitnya 6 peristiwa erupsi freatik yang tergolong besar dalam 9 bulan terakhir, atau rata-rata 1 peristiwa erupsi freatik yang tergolong besar setiap 1,5 bulan. Ke-enam erupsi tersebut adalah erupsi freatik 22 Juli 2013, 18 November 2013, 12 Desember 2013, 10 Maret 2014, 27 Maret 2014 dan yang terakhir 20 April 2014.

T : wow, ternyata cukup sering ya? Dalam beberapa artikel yang dapat dipercaya, sering ditulis bahwa erupsi freatik merupakan babak pendahuluan dari erupsi magmatik. Atau dengan kata lain, semburan uap air dan debu tersebut akan terus berlanjut sehingga pada akhirnya akan berpuncak pada keluarnya lava dan awan panas. Bagaimana dengan erupsi freatik Merapi ?

J : ya, umumnya erupsi freatik memang terus meningkat untuk kemudian disusul erupsi magmatik. Pola tersebut dapat kita lihat misalnya di Gunung Sinabung (Sumatra Utara) semenjak mengalami peningkatan aktivitas pada September 2013 dan berpuncak dengan terbentuknya kubah lava pada Desember 2013. Jadi sepanjang September hingga November 2013 Gunung Sinabung boleh dikata hanya mengalami erupsi freatik. Namun harus digarisbawahi bahwa erupsi freatik yang lantas disusul dengan erupsi magmatik ini hanya terjadi bila sumber panasnya berupa magma segar. Sebaliknya, sumber panas yang memberikan tenaga erupsi freatik Gunung Merapi diyakini bukan magma segar, berdasarkan penelitian BPPTKG sejauh ini.

T : sebentar, istilah magma segar berulangkali disebut-sebut. Apa itu magma segar ?

J : magma segar adalah magma yang berasal dari dapur magma dalam, yang di Gunung Merapi terletak pada kedalaman hingga 31 km di bawah puncak Merapi. Menjelang terjadinya letusan, magma segar akan selalu bergerak naik menuju kantung magma dangkal yang ada di bawah/di dasar sebuah gunung berapi. Magma segar senantiasa bersuhu tinggi dan menjadi penanda bagi periode letusan terbaru pada sebuah gunung berapi. Lawan katanya adalah magma tua, yakni magma sisa-sisa periode letusan sebelumnya yang belum sempat dimuntahkan ke permukaan sehingga masih tertinggal di dalam saluran magma (diatrema). Magma tua selalu bersuhu lebih rendah dibanding magma segar. Perbedaan lainnya, magma tua selalu menunjukkan tanda-tanda telah mulai membeku membentuk butiran-butiran batu, sementara magma segar tidaklah demikian.

Gambar 2. Gambaran kartun sederhana yang memperlihatkan perbedaan mekanisme erupsi freatik yang ditenagai uap air (atas) dan magma segar (bawah). Pada erupsi yang ditenagai uap air, sumber panas (5) adalah gas vulkanik panas yang terlepas dalam jumlah besar namun terhalangi keluar dari kawah akibat sumbatan kubah lava (3) sehingga memanaskan air bawah tanah disekelilingnya (2) hingga menjadi uap panas yang terakumulasi dan bertekanan tinggi (4). Campuran uap dan gas vulkanik panas bertekanan tinggi lantas menjebol bagian kubah lava di titik terlemahnya dan menyembur sebagai asap (kolom erupsi) yang membawa serta material produk erupsi. Begitu uap dan gas vulkanik telah keluar semua maka erupsi pun berhenti. Sebaliknya erupsi freatik yang ditenagai magma segar, sumber panasnya adalah magma segar (5) yang sedang menanjak naik hingga memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava. Setelah uap dan material erupsi freatik tersembur keluar melalui bagian kubah lava yang lemah, magma segar terus bergerak naik sehingga erupsi freatik terus terjadi berulang-ulang dengan intensitas kian meningkat. Pada puncaknya magma segar akhirnya benar-benar keluar di permukaan Bumi melalui kawah, menghasilkan lava dan awan panas. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Gambaran kartun sederhana yang memperlihatkan perbedaan mekanisme erupsi freatik yang ditenagai uap air (atas) dan magma segar (bawah). Pada erupsi yang ditenagai uap air, sumber panas (5) adalah gas vulkanik panas yang terlepas dalam jumlah besar namun terhalangi keluar dari kawah akibat sumbatan kubah lava (3) sehingga memanaskan air bawah tanah disekelilingnya (2) hingga menjadi uap panas yang terakumulasi dan bertekanan tinggi (4). Campuran uap dan gas vulkanik panas bertekanan tinggi lantas menjebol bagian kubah lava di titik terlemahnya dan menyembur sebagai asap (kolom erupsi) yang membawa serta material produk erupsi. Begitu uap dan gas vulkanik telah keluar semua maka erupsi pun berhenti. Sebaliknya erupsi freatik yang ditenagai magma segar, sumber panasnya adalah magma segar (5) yang sedang menanjak naik hingga memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava. Setelah uap dan material erupsi freatik tersembur keluar melalui bagian kubah lava yang lemah, magma segar terus bergerak naik sehingga erupsi freatik terus terjadi berulang-ulang dengan intensitas kian meningkat. Pada puncaknya magma segar akhirnya benar-benar keluar di permukaan Bumi melalui kawah, menghasilkan lava dan awan panas. Sumber: Sudibyo, 2014.

T : oke, jika erupsi freatik Merapi tidak disebabkan oleh magma segar, lantas apa penyebabnya ?

J : ada banyak faktor. Salah satunya jumlah air bawah tanah yang terakumulasi di dekat sumber panas. Air bawah tanah ini selalu berasal dari air permukaan yang meresap ke dalam tubuh gunung. Dan air permukaan selalu berasal dari curah hujan yang tinggi. Maka tingginya curah hujan menjadi salah satu faktor pemicu yang meningkatkan potensi erupsi freatik Merapi. Meski harus digarisbawahi bahwa setiap curah hujan yang tinggi tidak selalu berlanjut dengan erupsi freatik Merapi. Misalnya curah hujan yang tinggi sepanjang akhir Desember 2013 ternyata tak diikuti erupsi freatik.

Pada salah satu pengukuran BPPTKG dijumpai bahwa menjelang erupsi freatik 18 November 2013, kadar gas CO2 (sebagai salah satu komponen gas vulkanik) membumbung sangat tinggi hingga mencapai hampir 70 %. Kadar ini sebanding dengan kadar gas yang sama jelang peristiwa 26 Oktober 2010 (awal mula Letusan Merapi 2010). Padahal dalam kondisi normal, kadar gas CO2 Merapi hanya berkisar 10 %. Tingginya kadar CO2 menunjukkan terlepasnya gas ini dalam jumlah besar dari kantung magma dangkal Merapi. Karena berasal dari kantung magma dangkal, maka suhu gas ini tergolong tinggi sehingga bisa memerankan diri menjadi sumber panas bagi erupsi freatik. Jadi singkatnya, erupsi freatik Merapi ditenagai oleh gas CO2 panas yang terlepas dari kantung magma dangkal oleh suatu sebab tanpa disertai gerakan magma segar. Gas tersebut lantas memanaskan air bawah tanah menjadi uap air yang terjebak di kedalaman sehingga lama-kelamaan tekanannya cukup tinggi dan sanggup menjebol batuan dan magma tua yang menutupi jalannya menuju ke kawah.

T : sebentar, koq bisa yakin bener kalau sumber tenaga erupsi freatik Merapi bukanlah magma segar?

J : hal itu berdasarkan pada dinamika kegempaan dan deformasi Merapi. Kalau erupsi freatik ditenagai oleh magma segar, maka akan terjadi gempa vulkanik dalam jumlah besar (di atas normal) khususnya gempa vulkanik dalam (gempa VTA. Gempa vulkanik dalam hanya terjadi jika magma segar bergerak naik menuju kantung magma dangkal. Jika magma segar telah mencapai kantung magma dangkal dan mulai mengisinya, maka kantung magma akan menggelembung dan bakal diikuti dengan terjadinya deformasi dalam wujud pembengkakan (inflasi) tubuh gunung. Pengukuran kegempaan dan deformasi Merapi oleh BPPTKG justru menunjukkan hal berbeda. Gempa vulkanik dalam berjumlah sangat sedikit, nyaris tak terdeteksi dan masih berada dalam nilai rata-rata normal. Demikian halnya deformasi, baik diukur dengan tiltmeter (pengukur kemiringan lereng) maupun EDM (electronic distance measurement, pengukur jarak tunjam) pun masih tetap berada dalam rata-rata normal.

Mengapa sumber tenaganya pada saat ini diyakini adalah gas CO2? Selain hasil pengukuran yang menunjukkan kadar gas CO2 sangat tinggi, pasca erupsi freatik juga dijumpai terdengarnya suara blazer (desisan gas) dari arah kubah lava 2010 yang menjadi lokasi dimana erupsi-erupsi freatik Merapi selama ini terjadi.

T : oke, jika bukan disebabkan oleh magma segar, bagaimana gas CO2 bisa terlepas dalam jumlah besar sehingga memberikan tenaga bagi erupsi freatik Merapi ?

J : sejauh yang bisa dipahami hingga saat ini, gas CO2 Merapi terlepas dalam jumlah besar akibat usikan terhadap kantung magma dangkal Merapi. Usikan tersebut bisa berupa usikan internal (berasal dari perubahan karakter magma) maupun eksternal (berasal dari luar kantung magma). Salah satu usikan eksternal yang ditengarai turut berperan adalah getaran yang disebabkan oleh gempa tektonik jauh, khususnya gempa-gempa tektonik kuat (magnitudo > 5 skala Richter) yang bersumber pada titik-titik manapun di sepanjang lepas pantai selatan pulau Jawa. Dengan mekanisme yang belum sepenuhnya dipahami, getaran gempa tersebut entah bagaimana membuat kantung magma dangkal terguncang sehingga gas CO2-nya terlepas dalam jumlah besar. Dari enam peristiwa erupsi freatik besar dalam 9 bulan terakhir, tiga diantaranya didahului oleh gempa tektonik jauh (yakni erupsi freatik 18 November 2013, 10 Maret 2014 dan 20 April 2014).

Namun seperti halnya curah hujan, harus digarisbawahi bahwa setiap gempa tektonik jauh tidak selalu berlanjut dengan erupsi freatik Merapi. Contoh paling gamblang adalah pada kejadian gempa Kebumen 25 Januari 2014. Pasca gempa tersebut ternyata Gunung Merapi justru absen dari erupsi freatik hingga lebih dari sebulan kemudian.

T : oke, sedikit-sedikit saya sudah bisa mulai memahami erupsi freatik Merapi. Pertanyaannya, apakah erupsi freatik ini tak bisa diramalkan sebelum benar-benar terjadi, sebagaimana yang telah sukses dilakukan dalam kejadian erupsi magmatik?

J : harapannya sih bisa dideteksi dan ditetapkan tanda-tanda awal (perkursor)-nya. Namun dalam praktiknya, sayangnya tidak demikian. Status aktivitas sebuah gunung berapi di Indonesia ditegakkan atas dasar kegiatan seismik (kegempaan), deformasi dan kimianya. Dari sisi seismik, nyaris tiada tanda awal yang jelas dan tegas yang menunjukkan tanda-tanda awal sebuah erupsi freatik dibanding kondisi sesimik rata-rata normal. Dengan kata lain, tidak terjadi peningkatan gempa vulkanik yang tegas sebelum terjadinya erupsi freatik. Demikian halnya dari sisi deformasi, juga tiada tanda yang jelas dan tegas. Sebelum dan sesudah erupsi freatik pun nilai deformasi Gunung Merapi tetap berada dalam rata-rata normal. Dari sisi kimia, memang terdapat peningkatan komponen gas tertentu dalam hal ini gas CO2-nya. Namun harus diingat bahwa pengukuran geokimia Gunung Merapi mengandung problem teknis tersendiri bila dibandingkan pengukuran seismik maupun deformasi. Sehingga pengukuran geokimia tak bisa berlangsung secara runtun dan dalam waktu nyata (realtime) dibanding pengukuran seismik maupun deformasi.

Inilah garis tebal yang membedakan dengan erupsi magmatik. Pada erupsi magmatik, dari sisi seismik selalu akan dijumpai peningkatan kegempaan khususnya gempa vulkanik dalam (gempa VTA) dan dangkal (VTB). Dari sisi deformasi juga bakal terdeteksi penggelembungan (inflasi) tubuh gunung berapi. Dan dari sisi geokimia, akan terjadi peningkatan kadar gas-gas vulkanik disertai peningkatan kuantitas emisi gas vulkanik dari kawah yang kasatmata.

Gambar 3. Dinamika kegempaan Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 20 April 2014, yang meliputi gempa LHF, gempa vulkanik (VUL), gempa multifase (MP) dan gempa guguran (GGR). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terkecuali erupsi freatik 22 Juli 2013, tak ada lonjakan kegempaan yang jelas dalam setiap erupsi freatik khususnya pada gempa LHF dan vulkanik. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 3. Dinamika kegempaan Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 20 April 2014, yang meliputi gempa LHF, gempa vulkanik (VUL), gempa multifase (MP) dan gempa guguran (GGR). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terkecuali erupsi freatik 22 Juli 2013, tak ada lonjakan kegempaan yang jelas dalam setiap erupsi freatik khususnya pada gempa LHF dan vulkanik. Sumber: BPPTKG, 2014.

T : apakah benar-benar tidak ada tanda-tanda awal bagi erupsi freatik Merapi?

J : sebenarnya ada, meskipun samar. Dari sisi energi seismik akumulatif, yakni jumlah energi kegempaan yang terkumpul semenjak periode tertentu, dijumpai adanya lonjakan halus menjelang terjadinya erupsi freatik. Namun harus digarisbawahi bahwa lonjakan energi tersebut tak selalu berarti lonjakan jumlah gempa Merapi. Karena berkemungkinan terjadi situasi dimana lonjakan energi seismik tersebut disebabkan oleh peningkatan magnitudo (kekuatan) gempa Merapi tanpa diiringi peningkatan jumlah gempanya.

T : oke, saya bisa memahami kesulitan-kesulitan dalam menjejak tanda-tanda awal erupsi freatik Merapi. Pertanyaannya, langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengantisipasinya ?

J : beberapa sudah sempat disinggung di awal mula diskusi kita, terkait curah hujan dan gempa tektonik jauh.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 20 April 2014 menggunakan instrumen EDM (electronic distance measurement) dari pos Kaliurang (RK2) dan Babadan (RB3). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Nampak deformasi tubuh gunung berfluktuasi, namun seluruhnya memiliki variasi nilai di bawah 10 mm (nilai ralat pengukuran) sehingga tidak signifikan. Terlihat jelas bahwa dalam setiap erupsi freatik tidak disertai dengan deformasi tubuh Gunung Merapi yang signifikan. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 20 April 2014 menggunakan instrumen EDM (electronic distance measurement) dari pos Kaliurang (RK2) dan Babadan (RB3). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Nampak deformasi tubuh gunung berfluktuasi, namun seluruhnya memiliki variasi nilai di bawah 10 mm (nilai ralat pengukuran) sehingga tidak signifikan. Terlihat jelas bahwa dalam setiap erupsi freatik tidak disertai dengan deformasi tubuh Gunung Merapi yang signifikan. Sumber: BPPTKG, 2014.

T : oke, jadi kalau Gunung Merapi diguyur hujan deras, artinya kita harus waspada akan terjadinya erupsi freatik?

J : ya, harus waspada dalam beberapa hari ke depan. Meski belum tentu bakal terjadi erupsi freatik.

T : oke, pun juga jika kawasan pantai selatan Jawa diguncang gempa tektonik kuat (magnitudo > 5 skala Richter) dengan sumber dimana saja di antara lepas pantai Jawa Barat hingga Jawa Timur, kita juga harus waspada akan terjadinya erupsi freatik ?

J : ya, harus waspada dalam beberapa hari ke depan. Meski belum tentu bakal terjadi erupsi freatik.

T : oke, saya bisa memahami. Nah sekarang pertanyaan selanjutnya, apakah erupsi freatik bisa berbahaya bagi manusia ? Bagaimana jika dibandingkan tingkat bahaya erupsi magmatik ?

J : erupsi freatik tetap berbahaya bagi manusia meski tingkat bahayanya tidak setinggi erupsi magmatik. Bongkahan batu dan kerikil produk erupsi freatik bisa melukai kita dan bahkan bisa berakibat fatal jika jatuh mengenai organ-organ penting kita dengan telak. Guyuran pasir dan debu pekat juga bisa mengganggu sistem pernafasan dan juga mata kita, khususnya jika kita sedang berada di lereng dan kaki gunung.

Namun harus digarisbawahi, bahwa erupsi freatik Merapi hanya menyemburkan material dalam jumlah kecil dibanding erupsi magmatik. Sehingga radius bahayanya juga relatif kecil. Ditambah dengan tiadanya material bersuhu tinggi seperti lava maupun awan panas yang merupakan ancaman utama dalam setiap letusan gunung berapi, maka tingkat bahaya erupsi freatik adalah lebih kecil.

T : jadi erupsi freatik Merapi menyemburkan material vulkanik dalam jumlah lebih kecil?

J : ya, lebih kecil dan lebih ‘dingin’ (dalam perspektif gunung berapi).

T : oke, sekarang bagaimana langkah antisipasinya tatkala terjadi sebuah peristiwa erupsi freatik ?

J : kata kuncinya, erupsi freatik menyemburkan material dalam jumlah lebih kecil dan lebih ‘dingin’. Maka kita tak perlu cemas dengan awan panas (wedhus gembel) atau lava pijarnya sehingga bisa lebih fokus menghadapi hujan debunya. Hujan debu erupsi freatik akan berdurasi jauh lebih singkat dibanding hujan debu akibat erupsi magmatik. Dengan kata lain, hujan debu akibat erupsi freatik jauh lebih singkat bila dibandingkan dengan hujan debu Letusan Merapi 2010 ataupun hujan debu Letusan Kelud 2014 kemarin.

Nah karena potensi ancamannya sebatas hujan debu, maka antisipasinya :
1. berdiam di dalam ruangan dalam waktu 1 hingga 2 jam kala hujan debu mulai terjadi.
2. jika terpaksa hendak melakukan aktivitas di luar ruangan, usahakan untuk mengenakan masker.
3. jika terpaksa harus mengendarai kendaraan (sepeda/sepeda motor), usahakan untuk mengenakan masker dan menjalankan kendaraan perlahan-lahan (kecepatan maksimum 20 km/jam) agar debu yang sudah jatuh ke tanah tak lagi beterbangan.

Gambar 5. Dinamika kemiringan lereng Gunung Merapi semenjak 3 Januari 2013 hingga 17 April 2014 menggunakan instrumen tiltmeter dari pos Plawangan, dalam komponen barat-timur (atas) dan utara-selatan (bawah). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terlihat jelas bahwa dalam setiap erupsi freatik tidak terjadi perubahan kemiringan lereng Gunung Merapi yang signifikan. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 5. Dinamika kemiringan lereng Gunung Merapi semenjak 3 Januari 2013 hingga 17 April 2014 menggunakan instrumen tiltmeter dari pos Plawangan, dalam komponen barat-timur (atas) dan utara-selatan (bawah). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terlihat jelas bahwa dalam setiap erupsi freatik tidak terjadi perubahan kemiringan lereng Gunung Merapi yang signifikan. Sumber: BPPTKG, 2014.

T: baik, saya paham. Nah sekarang bagaimana kaitan erupsi-erupsi freatik Merapi selama ini dengan status aktivitas Gunung Merapi ?

J : status aktivitas Gunung Merapi tetap berada dalam tingkatan terendah, yakni Aktif Normal (Level I).

T : mengapa ?

J : sebab erupsi freatik Merapi selama ini tidak disertai dibarengi pergerakan magma segar, baik berdasarkan indikasi seismik dan deformasi maupun berdasarkan tampilan kasat mata (dalam rupa awan panas maupun lava pijar). Perubahan status gunung berapi di Indonesia selalu ditegakkan berdasarkan ada tidaknya pergerakan magma segar dalam aktivitasnya, baik kasat mata maupun tidak.

T : tapi erupsi freatik Merapi kan menakutkan ! Penduduk sampai harus dievakuasi ! Bagaimana ?

J : ya, erupsi freatik memang menakutkan. Apalagi kita masih memiliki kenangan bersama yang cukup kuat akan kengerian dan kedahsyatan Letusan Merapi 2010 yang begitu menakutkan. Namun harus dipahami juga, dengan nihilnya pergerakan magma segar maka belum cukup alasan untuk menaikkan status Gunung Merapi. Sebab dasar bagi peningkatan status adalah pada pergerakan magma segar. Bisa saja dasar yang telah teruji ini diubah dengan memasukkan parameter baru, misalnya semburan debu. Namun parameter baru itu juag harus jelas juga kuantitas dan batasannya. Jika seluruh kegiatan semburan debu lantas dijadikan alasan untuk meningkatkan status, maka begitu semburan debunya berakhir statusnya pun harus segera diturunkan kembali. Padahal di sisi lain, setiap upaya peningkatan status gunung berapi selalu memiliki implikasinya sendiri.

Contoh pembanding yang cukup bagus dalam hal ini adalah Gunung Semeru (Jawa Timur). Gunung ini telah meletus secara teru-menerus semenjak 1967 meski dalam rupa semburan debu kecil setiap 15 hingga 30 menit sekali dengan tinggi semburan debu 200 hingga 500 meter dari kawah. Hal ini terjadi karena magma segar naik secara berkesinambungan dan saluran magma Gunung Semeru sudah terbuka sehingga tak terjadi akumulasi magma dan peningkatan tekanan. Oleh karena itu status Gunung Semeru selalu berada di tingkat Waspada (Level II). Meski berulang-ulang terjadi fluktuasi, sebut saja seperti kejadian November 2007 saat Semeru mendadak menyemburkan debunya setinggi 2.000 meter disertai dentuman keras dan berkurangnya periodisitas letusan menjadi setiap 2 sampai 3 jam sekali, namun karena tak disertai peningkatan jumlah keluaran magma segar (ditandai dengan tiadanya pancuran lava maupun kubah lava), maka status Gunung Semeru tetap dipertahankan di Waspada (Level II).

T : apakah erupsi freatik Merapi yang telah terjadi berulang kali tidak cukup untuk menaikkan statusnya, paling tidak ke status Waspada sebagai sinyal bahwa Gunung Merapi sewaktu-waktu bisa bererupsi freatik kembali?

J : ya, saya juga paham dengan kegelisahan tersebut. Namun sekali lagi, dasar yang telah teruji guna meningkatkan status Gunung Merapi adalah pada pergerakan magma segar, baik kasat mata maupun tidak.

Di sisi lain juga harus dipahami bahwa setiap upaya peningkatan status Gunung Merapi bakal berimplikasi kepada lingkungan sekitarnya, baik dalam ranah keilmuan kegunungapian, dalam aspek ekonomi, sosial maupun budaya, baik dalam lingkup lokal maupun regional. Sebagai contoh, saat peningkatan status maka daerah-daerah terlarang pun dibentuk. Tatkala Gunung Merapi menyandang status Waspada (Level II), maka kawasan rawan bencana III (KRB III) menjadi daerah bahaya yang tak boleh dimasuki, sehingga aktivitas penduduk sekitarnya bakal terhambat hingga ke titik tertentu. Inilah yang membuatnya menjadi tidak sederhana.

Juga harus digarisbawahi bahwa peningkatan status yang dilakukan menyebal dari dasar yang sudah teruji, atas alasan apapun, akan beresiko pada false alarm (peringatan palsu) yang bisa meningkatkan sinisme publik dan justru menjauhkannya dari tujuan luhur guna meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan publik. Misalnya, jika hari Gunung Merapi ber-erupsi freatik dan kemudian BPPTKG meningkatkan statusnya menjadi Waspada (Level II). Maka dalam seminggu kemudian status ini musti dievaluasi lagi sesuai prosedur yang berlaku. Nah jika saat itu ternyata hasil evaluasi mingguan menunjukkan Gunung Merapi datar-datar saja, status Waspada (Level II) kembali harus diturunkan ke Aktif Normal (Level I) karena juga tak ada alasan untuk tetap mempertahankannya. Jika sebulan kemudian terjadi erupsi freatik lagi, cerita yang sama akan berulang. Status dinaikkan lagi namun seminggu kemudian kembali diturunkan.

Jika terjadi berulang-ulang, false alarm-lah yang ditangkap publik dan bisa berujung pada sinisme. Akan muncul gugatan kenapa bisa Gunung Merapi dinaik-turunkan statusnya seperti itu sementara dalam realitasnya nyaris tak terjadi apa-apa, katakanlah jika dibandingkan dengan letusan Merapi yang kita kenal sebelum tahun 2010 atau bahkan jika dibandingkan dengan Letusan Merapi 2010.

Upaya menaik-turunkan status sebuah gunung berapi selalu menjadi persoalan yang kompleks dan tak pernah mudah. Pembacaan harus cermat. Sebab jika sikap pengawas Gunung Merapi berlebihan, maka peningkatan status yang dilakukannya bisa dibaca sebagai false alarm. Sebaliknya jika pengawas teledor, maka peningkatan status akan terlalu terlambat dibandingkan kecepatan aktivitas Merapi yang sesungguhnya sehingga korban jiwa bisa jatuh.

T : jika status Gunung Merapi ditingkatkan jadi Waspada, bukankah penduduk akan bisa lebih waspada dan bersiap-siap mengevakuasi diri kapanpun terjadi erupsi freatik ?

J : di Gunung Merapi, evakuasi akibat erupsi freatik harus dipisahkan dari evakuasi akibat erupsi magmatik. Jika terjadi erupsi freatik, tak ada larangan bagi penduduk di lereng dan kaki Gunung Merapi untuk mengevakuasi diri ke barak-barak pengungsian yang telah disepakati bersama, meskipun status Merapi tetap dinyatakan Aktif Normal (Level I). Jika hal ini terjadi, adalah kewajiban pemerintah daerah setempat untuk menangani para pengungsi di barak-barak dengan sebaik-baiknya. Dalam beberapa kali peristiwa erupsi freatik, evakuasi memang sempat terjadi meski hanya dalam waktu singkat dan dalam beberapa jam kemudian penduduk telah kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.

Sebaliknya dalam mengantisipasi erupsi magmatik, pasca kejadian 2010 dusun-dusun dan desa-desa di lereng dan kaki Gunung Merapi telah memiliki prosedur/SOP (standard operating procedure) tersendiri dalam mengantisipasinya. Evakuasi akan dilakukan tatkala status Merapi mencapai tingkat Siaga (Level III). Pada umumnya, saat Gunung Merapi berstatus Siaga (Level III) maka aktivitasnya akan terus berlanjut hingga mencapai titik status tertinggi, yakni Awas (Level IV). Evakuasi mengantisipasi erupsi magmatik akan berlangsung lama, mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu. Harus dilihat juga bahwa status Siaga (Level III) hanya setingkat di atas status Waspada (Level II). Sehingga dalam status Waspada (Level II), langkah-langkah persiapan sudah harus dilakukan. Maka mari dibayangkan, bagaimana jika semenjak 22 Juli 2013 status Gunung Merapi ditingkatkan jadi Waspada (Level II) ? Selama berbulan-bulan kita dicekam situasi harus bersiap-siap mengantisipasi kemungkinan naiknya status menjadi Siaga (Level III), padahal Gunung Merapi sendiri hingga hari ini (April 2014) relatif tenang dan hanya berfluktuasi pada saat erupsi freatik terjadi.

Pengalaman di Gunung Sinabung mungkin dapat menjadi contoh. Mulai 24 November 2013 gunung berapi ini ditingkatkan statusnya menjadi Awas (Level IV) dari semula Siaga (Level III) karena perkembangan aktivitasnya yang mengkhawatirkan. Konsekuensinya lebih dari 17.000 jiwa yang tinggal disekitarnya harus mengungsi. Namun pasca penetapan status Awas, Gunung Sinabung justru terlihat lebih kalem. Sepanjang Desember 2013 ia hanya sibuk menumpuk lava di puncaknya membentuk kubah lava tanpa diiringi tanda-tanda letusan yang kasat mata seperti semburan debu, leleran lava maupun hempasan awan panas. Sepanjang Desember 2013 itu sinisme merebak dan tingkat kepercayaan pengungsi pada institusi pemantau gunung berapi merosot dramatis hingga ke titik terendah. Bagi mereka tak masuk akal harus tetap tinggal di barak-barak pengungsian sementara sang gunung sendiri justru (terlihat) kalem. Kepercayaan baru pulih saat sepanjang Januari 2014 Gunung Sinabung melepaskan awan panasnya secara susul-menyusul, apalagi setelah terjadi tragedi 1 Februari 2014 yang menewaskan 17 orang.

Harus dilihat bahwa naik-turunnya kepercayaan pengungsi Sinabung justru terjadi tatkala gunung berapi itu dalam status tertinggi. Status Awas (Level IV) dideskripsikan sebagai terjadinya letusan yang akan mengancam perikehidupan manusia. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika situasi tersebut terjadi pada gunung berapi yang statusnya di bawah Awas (Level IV). Jika misalnya Gunung Merapi ditingkatkan statusnya menjadi Waspada (Level II) semenjak 22 Juli 2013, apa yang akan terjadi pada kondisi psikologis penduduk sekitar hingga sembilan bulan kemudian (sampai April 2014) saat menyaksikan Merapi justru menghabiskan hampir seluruh waktu tersebut dengan tampilan yang tenang dan hanya 6 kali mengalami erupsi freatik dengan durasi masing-masing erupsi pun sangat singkat, tak sampai 30 menit ?

Gambar 6. Dinamika curah hujan di Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 19 April 2014 yang diukur dari empat pos pengamat Gunung Merapi. Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terlihat jelas dalam beberapa erupsi freatik terlebih dahulu terjadi hujan lebat, misalnya yang tercatat di Jrakah dan Ngepos (jelang 22 Juli 2013), juga yang tercatat di Babadan dan Kaliurang (jelang 18 November 2013). Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 6. Dinamika curah hujan di Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 19 April 2014 yang diukur dari empat pos pengamat Gunung Merapi. Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terlihat jelas dalam beberapa erupsi freatik terlebih dahulu terjadi hujan lebat, misalnya yang tercatat di Jrakah dan Ngepos (jelang 22 Juli 2013), juga yang tercatat di Babadan dan Kaliurang (jelang 18 November 2013). Sumber: BPPTKG, 2014.

T : oh begitu ?

J : ya. Saya yakin BPPTKG sebagai institusi pemantau Gunung Merapi sebagai kepanjangan tangan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) di bawah Badan Geologi Kementerian ESDM siap menaikkan status Gunung Merapi kapan saja bila diperlukan, asal dilandasi dasar yang jelas. Dasar tersebut harus benar-benar memperlihatkan kecenderungan peningkatan aktivitas dan bukan sekedar fluktuasi sesaat (dalam waktu singkat). Saya juga yakin tak ada yang ditutup-tutupi dari aktivitas pemantauan Gunung Merapi selama ini oleh BPPTKG. Keputusan untuk tetap mempertahankan status aktivitas Gunung Merapi di tingkat terendah, yakni Aktif Normal (Level I), saya yakin didasari alasan kuat demi kemaslahatan kita semua tanpa terkecuali.

T : namun bukankah menjadi hak bagi penduduk sekitar Gunung Merapi untuk mendapatkan informasi yang sesungguhnya tentang perilaku gunung berapi tersebut ?

J : ya, sepakat. Adalah hak setiap insan yang tinggal di sekitar dan yang menaruh kepedulian besar akan Gunung Merapi untuk mendapatkan informasi tersebut. Dan status aktivitas Gunung Merapi hanyalah salah satu instrumen pelaksanaan keterbukaan informasi itu. Di sisi lain saya kira BPPTKG juga sudah cukup banyak membuka diri. Jalinan informasi lewat radio komunikasi dengan komunitas sudah terbangun. Bahkan penyebaran informasinya juga sudah merambah ke media sosial, sehingga apapun yang sedang dilakukan BPPTKG dan apapun yang sedang terjadi di Gunung Merapi dapat kita pantau.

T : oke, baik. Pertanyaan terakhir, andaikata pada saat ini mendadak Gunung Merapi terlihat menyemburkan asap abu-abu pekat ke langit dan disusul hujan pasir/debu vulkanik di kaki gunung dan juga hujan debu di lokasi yang lebih jauh dari gunung, apakah hal itu adalah erupsi freatik ?

J : ya, berdasarkan pengetahuan akan Gunung Merapi hingga saat ini.

T : bukan erupsi magmatik ?

J : berdasarkan pengetahuan tentang Gunung Merapi hingga saat ini (April 2014), jawabannya bukan. Erupsi magmatik selalu didului dengan riuhnya kegempaan Merapi khususnya gempa-gempa vulkaniknya. Erupsi magmatik juga akan didahului dengan menggelembungnya (inflasi) tubuh Merapi. Jika keduanya terjadi, maka status aktivitas Gunung Merapi sudah bakal ditingkatkan bahkan sebelum magma segarnya mencapai permukaan.

Rujukan :

1. Drs. Subandriyo, M.Si. 2014. Aktivitas Gunung Merapi Pasca Erupsi 2010, Antisipasi Terhadap Erupsi Freatik Vulkanian. Makalah dalam Diskusi Kelompok Studi Kawasan Merapi (KSKM), Sleman, 4 Januari 2014.

2. Dr. Agung Harijoko. 2014. Erupsi Merapi di Masa yang Akan Datang. Makalah dalam Diskusi Kelompok Studi Kawasan Merapi (KSKM), Sleman, 4 Januari 2014.

Categories: Aktivitas Merapi

Erupsi Freatik Gunung Merapi, 10 Maret 2014.

March 15, 2014 2 comments

Hembusan asap kelabu mendadak membumbung tinggi dari puncak Gunung Merapi pada Senin pagi 10 Maret 2014 pukul 07:10 WIB lalu. Asap kelabu yang mirip dengan kolom letusan (rempah vulkanik yang disemburkan vertikal dalam letusan gunung berapi) membumbung hingga setinggi 1.500 meter dari puncak, untuk kemudian terhanyut ke arah timur mengikuti hembusan angin. Hujan debu berintensitas rendah pun sempat terjadi di lereng Gunung Merapi bagian timur. Semburan asap kelabu itu pun menjadi pemandangan yang mencolok mata bagi siapa saja yang menatap ke arah Gunung Merapi di pagi hari itu. Apakah gunung berapi yang paling aktif di Indonesia itu sedang menggeliat dari tidurnya? Apakah ia sedang menyusuri jejak yang telah ditinggalkan Gunung Kelud, yang baru saja meletus besar kurang dari sebulan sebelumnya?

Gambar 1. Panorama puncak Gunung Merapi pada saat erupsi freatik 10 Maret 2014 lalu, diabadikan dari arah selatan oleh pak Bambang Mertani. Nampak kepulan asap menghembus ke atas untuk kemudian menyebar ke arah timur. Nampak pula hujan debu mulai mengguyur di lereng timur. Sumber: Bambang Mertani, 2014.

Gambar 1. Panorama puncak Gunung Merapi pada saat erupsi freatik 10 Maret 2014 lalu, diabadikan dari arah selatan oleh pak Bambang Mertani. Nampak kepulan asap menghembus ke atas untuk kemudian menyebar ke arah timur. Nampak pula hujan debu mulai mengguyur di lereng timur. Sumber: Bambang Mertani, 2014.

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sebagai lembaga yang memayungi seluruh kegiatan pemantauan Gunung Merapi menyatakan kejadian Senin pagi tersebut merupakan peristiwa hembusan atau letusan freatik (erupsi freatik). Dan peristiwa ini bukanlah yang pertama. Sepanjang 2013 lalu saja terdapat sedikitnya 4 peristiwa erupsi freatik yang tergolong besar, masing-masing pada 22 Juni, 22 Juli, 18 November dan 10 Desember 2013. Belum terhitung puluhan lagi erupsi freatik yang kecil, yang sulit diindra mata manusia namun terdeteksi dengan baik lewat instrumen seismometer (pengukur gempa). Erupsi freatik menjadi wajah baru dalam aktivitas Gunung Merapi pasca Letusan Merapi 2010 yang demikian besar.

Apa penyebabnya? Secara umum erupsi freatik disebabkan oleh air bawah tanah pada tubuh suatu gunung berapi yang mendadak terpanaskan hebat hingga mengalami penguapan brutal menghasilkan uap superpanas. Karena terbentuk jauh di bawah tanah dan tak terhubung langsung dengan udara luar, maka uap superpanas ini terperangkap di lokasi pembentukannya. Kian intensifnya pemanasan membuat jumlah uap yang terbentuk kian banyak sehingga tekanannya kian meninggi. Pada suatu saat, tekanannya telah demikian besar sehingga mampu meretakkan batuan keras yang menjadi penutup di atasnya dan membentuk jalan pintas untuk berhubungan dengan udara bebas melalui jalur paling lemah dalam tubuh gunung berapi, yakni saluran magmanya. Maka tersemburlah uap air bertekanan tinggi itu melalui puncak. Dalam perjalanannya keluar ke permukaan Bumi, uap air tersebut juga menggerus dinding saluran magma yang dilintasinya sembari mengangkut partikel debu, pasir, kerikil dan bahkan bongkahan batu hingga ukuran tertentu. Karena itu uap air yang tersembur pun menjadi berwarna kelabu karena mengandung material hasil gerusan.

Gas Vulkanik Panas

Gambar 2. Peta sebaran debu vulkanik dalam erupsi freatik Merapi 10 Maret 2014. Hujan debu dengan ketebalan endapan lebih dari 3 mm hanya terjadi di lereng Gunung Merapi bagian timur. Sumber : BPPTKG, 2014.

Gambar 2. Peta sebaran debu vulkanik dalam erupsi freatik Merapi 10 Maret 2014. Hujan debu dengan ketebalan endapan lebih dari 3 mm hanya terjadi di lereng Gunung Merapi bagian timur. Sumber : BPPTKG, 2014.

Erupsi freatik pada umumnya ditenagai oleh panas yang bersumber diantara salah satu dari dua hal berikut. Yang pertama adalah magma segar yang sedang menanjak naik dari kantung magma dangkal (yakni penampungan magma yang tepat berada di bawah tubuh sebuah gunung berapi) untuk bersiap keluar ke permukaan bumi. Suhu magma yang cukup tinggi membuatnya mampu memanaskan apapun yang ada di sekitar saluran magma yang dilintasinya. Maka air bawah tanah pun sanggup terpanaskan hebat meskipun ia belum bersentuhan langsung dengan magma segar. Erupsi freatik dengan sumber panas ini selalu dibarengi dengan meningkatnya jumlah gempa vulkanik di gunung berapi tersebut, sebagai pertanda aliran magma segar. Erupsi freatik jenis ini juga merupakan babak pembuka yang bakal diikuti dengan erupsi freatomagmatik (kala air bawah tanah langsung bersentuhan dengan magma segar) dan kemudian dipungkasi dengan erupsi magmatik (kala magma sudah benar-benar keluar di permukaan Bumi dengan segala manifestasinya, entah leleran lava maupun awan panas). Contoh terkini erupsi freatik semacam ini dapat disaksikan pada perilaku Gunung Sinabung (Sumatra Utara), tepatnya sejak 15 September 2013 hingga 11 November 2013 (saat awan panas mulai muncul).

Sementara yang kedua adalah gas-gas vulkanik panas. Entah bagaimana pemicunya, kantung magma dangkal mendadak melepaskan gas-gas vulkanik panas dengan volume besar menuju ke permukaan Bumi melalui saluran magma. Komponen dalam gas vulkanik tersebut bisa berupa gas belerang, gas karbondioksida dan sejumlah gas minor lainnya. Bila gas-gas vulkanik bersuhu tinggi ini bertemu dengan air bawah tanah berkonsentrasi tinggi yang terjebak di dalam/sekitar saluran magmanya, maka cerita yang sama pun berulang. Air bawah tanah terpanaskan hebat hingga menjadi uap superpanas yang terakumulasi demikian rupa hingga akhirnya bertekanan tinggi. Erupsi freatik dengan sumber ini sangat khas, karena tidak disertai dengan peningkatan dramatis akan kegempaan vulkanik gunung berapi tersebut. Justru setelah semburan uap dan material hasil gerusan terjadi, kegempaan vulkaniknya malah menurun dan kembali seperti pada saat tidak ada kejadian erupsi freatik. Dan erupsi freatik seperti ini adalah yang terjadi pada Gunung Merapi selama ini, khususnya pasca 2010.

Gambar 3. Citra satelit kawasan Yogyakarta dan sekitarnya bersumber dari Google Earth. Nampak posisi Gunung Merapi dan stasiun seismik Wanagama yang terpisah sejauh 42 km. Dalam erupsi freatik Merapi 10 Maret 2014 lalu, getarannya diduga sempat terekam di stasiun Wanagama. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Earth.

Gambar 3. Citra satelit kawasan Yogyakarta dan sekitarnya bersumber dari Google Earth. Nampak posisi Gunung Merapi dan stasiun seismik Wanagama yang terpisah sejauh 42 km. Dalam erupsi freatik Merapi 10 Maret 2014 lalu, getarannya diduga sempat terekam di stasiun Wanagama. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Earth.

Dalam rilis BPPTKG, erupsi freatik Merapi 10 Maret 2014 didahului dengan gempa vulkanik dangkal (gempa tipe B) pada 7 Maret 2014 dengan amplitudo hingga 200 mm. Berselang 2 hari kemudian sebuah gempa tektonik jauh meletup di lepas pantai Jawa Timur, yakni pada 9 Maret 2014 pukul 20:42 WIB dengan episentrum 115 km sebelah tenggara kota Malang, kedalaman sumber (hiposentrum) 10 km dan magnitudo 5,4 skala Richter. Getaran gempa tektonik jauh ini mungkin menyebabkan gangguan pada kantung magma dangkal Gunung Merapi. Namun harus digarisbawahi bahwa di waktu yang telah berlalu hal tersebut tak selalu terjadi. Gangguan tersebut melepaskan gas-gas vulkanik panas dalam jumlah besar ke atas. Gas-gas vulkanik panas segera bertemu dengan air bawah tanah yang membuatnya berubah menjadi uap bertekanan tinggi. Hembusan pertama dari kawah Merapi terdeteksi pada 10 Maret 2014 pukul 06:54 WIB. Satu setengah menit kemudian dua hembusan berikutnya secara beruntun terjadi hanya dalam selang waktu 9 detik, diikuti gempa vulkanik dalam (tipe A) pada pukul 07:08 WIB. Hembusan mulai berhenti pada pukul 07:25 WIB. Dan pada saat yang hampir bersamaan hujan debu berintensitas ringan mulai terjadi di desa Kepuharjo, Umbulharjo, Sidorejo dan Balerante. Cukup menarik bahwa selain terekam di stasiun-stasiun seismometer di sekujur tubuh Gunung Merapi sendiri, getaran yang menyertai erupsi freatik Merapi kali ini juga sempat terekam di stasiun seismik Wanagama (Gunungkidul) meskipun antara keduanya terbentang jarak 42 km.

Status Aktif Normal

Gambar 4. Rekaman kegempaan Gunung Merapi selama erupsi freatik 10 Maret 2014 dari stasiun seismik Pusunglondon. Nampak aktivitas hembusan semenjak pukul 06:54 WIb hingga 07:30 WIB. Hembusan terbesar yang bersamaan dengan mengepulnya asap pekat dari kawah terjadi pada pukul 07:08 WIB. Sumber : BPPTKG, 2014.

Gambar 4. Rekaman kegempaan Gunung Merapi selama erupsi freatik 10 Maret 2014 dari stasiun seismik Pusunglondon. Nampak aktivitas hembusan semenjak pukul 06:54 WIb hingga 07:30 WIB. Hembusan terbesar yang bersamaan dengan mengepulnya asap pekat dari kawah terjadi pada pukul 07:08 WIB. Sumber : BPPTKG, 2014.

Memasuki pukul 07:30 WIB Gunung Merapi sudah tenang kembali seperti sediakala sebelum terjadinya erupsi freatik. Pada pukul 11:10 WIB memang sempat terjadi hembusan lagi, namun tekanan uap airnya cukup lemah. Sehingga asap yang keluar dari kawah Gunung Merapi hanya berwarna putih, berketinggian rendah dan tanpa disertai debu vulkanik. Dengan durasi yang sangat singkat (hanya beberapa puluh menit) dan tidak dibarengi lonjakan jumlah gempa vulkanik Merapi, baik gempa tipe A maupun B, maka peristiwa 10 Maret 2014 itu diyakini merupakan erupsi freatik yang ditenagai oleh gas-gas vulkanik panas yang terleps dari kantung magma dangkal Gunung Merapi. Hal ini sekaligus menandakan bahwa erupsi freatik Merapi bukanlah hasil pergerakan magma segar.

Bahaya primer Gunung Merapi terletak pada pergerakan magma segarnya terutama bila menyeruak ke permukaan Bumi dalam rupa leleran lava maupun awan panas. Tiadanya gerakan magma segar pada setiap erupsi freatik Merapi selama ini merupakan dasar bagi BPPTKG untuk tetap mempertahankan status aktivitas Gunung Merapi di tingkat terbawah, yakni Aktif Normal (Level I). Hanya pada saat magma segar terdeteksi sudah mulai bergerak naik, yang ditandai dengan melonjaknya jumlah gempa vulkanik Merapi, maka status aktivitas Gunung Merapi bakal ditingkatkan ke level lebih tinggi. Di sisi lain, meskipun erupsi freatik Merapi selama ini menyemburkan debu vulkanik yang berujung pada hujan debu di bagian tertentu lereng dan kaki Gunung Merapi, namun intensitas hujan debunya tergolong ringan sehingga relatif tak berdampak besar terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat setempat. Pada aras yang sama, peristiwa hujan debu (khususnya yang berintensitas ringan hingga sedang) juga tak pernah dikategorikan sebagai sumber bahaya potensial yang mengancam jiwa manusia, melainkan hanya diletakkan pada posisi sebagai sumber bahaya potensial yang menurunkan kualitas kehidupan manusia. Atas dasar inilah maka bisa dipahami mengapa status Gunung Merapi tetap dinyatakan dalam Aktif Normal (Level I), atau tingkat terendah.

Gambar 5. Sinyal seismik tipe akselerometer (percepatan) yang terekam stasiun Wanagama pada Senin pagi 10 Maret 2014 pukul 07:08 WIB bertepatan dengan erupsi freatik Gunung Merapi, dianalisis oleh Januar Arifin (BMKG) melalui JISView. Nampak getaran yang diduga berasal dari erupsi freatik Gunung Merapi. Sumber: Arifin, 2014.

Gambar 5. Sinyal seismik tipe akselerometer (percepatan) yang terekam stasiun Wanagama pada Senin pagi 10 Maret 2014 pukul 07:08 WIB bertepatan dengan erupsi freatik Gunung Merapi, dianalisis oleh Januar Arifin (BMKG) melalui JISView. Nampak getaran yang diduga berasal dari erupsi freatik Gunung Merapi. Sumber: Arifin, 2014.

Erupsi freatik Merapi sangat sulit untuk diprediksi kejadiannya. Namun dengan dampak lebih berupa hujan debu berintensitas ringan, maka langkah terbaik yang bisa dilakukan bagi masyarakat yang bermukim disekelilingnya adalah mengantisipasinya. Persedian masker menjadi hal yang mutlak bagi setiap rumah tangga di sini, karena kejadian erupsi freatik tetap berpotensi terulang lagi di waktu mendatang. Inilah yang harus kita terima sebagai bagian dari berubahnya wajah dan juga perilaku Gunung Merapi pasca 2010.